FOTO : Penampakan kawasan industri PT WHW [ ist ]
Editor : R Hoesnan | Publisher : Admin redaksi
RADARKALBAR.COM – Kehadiran PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT WHW) di Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat, yang digadang-gadang sebagai simbol industrialisasi, kini menuai keluhan dari warga sekitar.
Di balik megahnya pabrik pengolahan bauksit tersebut, masyarakat lokal khususnya para nelayan di Dusun Sungai Tengar merasa kian terpinggirkan.
Dikutip dari liputanaktual.id jaringan radarkalbar.com, menyebutkan berdasarkan data hingga akhir 2025, tercatat sekitar 240 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok menduduki berbagai posisi strategis di perusahaan tersebut.
Dominasi asing ini memicu keprihatinan warga lokal yang merasa hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
“Orang lokal seperti hanya jadi kuli, sementara TKA jadi bos,” keluh Rabuan, warga setempat.
Ditambahkan, akibat dominasi TKA tersebut, sehingga peluang warga lokal semakin sedikit untuk menempati posisi-posisi tertentu.
Tak hanya sampai di situ, dampak ekonomi juga dirasakan nyata oleh para nelayan. Ahmad dan Tosimin, nelayan Sungai Tengar, mengaku hasil tangkapan menurun drastis sejak industri beroperasi.
Kondisi ini memaksa mereka melaut lebih jauh dengan biaya operasional tinggi, yang ironisnya sering kali harus ditutup dengan berutang ke bank harian.
“Kami kebanyakan ngutang, untuk biaya operasional melaut. Tangkapan berkurang, modal habis,” keluh mereka.
Tak hanya soal ekonomi, program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan juga dinilai minim dampak.
Warga menyebut bantuan sering kali hanya bersifat formalitas seperti paket sembako tahunan, tanpa menyentuh akar permasalahan infrastruktur jalan yang rusak di jalur menuju Kendawangan.
“Belum kelihatan nyata dampak dari program CSR perusahaan tersebut kepada kami,” ucapnya.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan terkait keluhan warga tersebut, sebagaimana awak media telah mengkonfirmasi kepada bagian Corporate Communication PT WHW. [ red ]
