FOTO : Katharina Lies, S.Pd [ ist ]
HARI ini Kalimantan Barat terasa lebih sunyi. Bukan karena hujan. Bukan karena listrik padam. Bukan pula karena harga cabai naik lalu emak-emak menyerah hidup.
Ada yang jauh lebih menyayat. Seorang perempuan yang selama ini berdiri paling depan membela perempuan Dayak, masyarakat adat, lingkungan, dan martabat budaya, kini telah pergi untuk selamanya.
Katharina Lies, S.Pd meninggal dunia pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 00.58 WIB di RSU St. Antonius Pontianak.
Kabar itu menyebar cepat. Grup WA warga Kalbar mendadak penuh ucapan duka. Facebook dipenuhi foto dan doa. Orang-orang yang biasanya ribut soal politik mendadak diam beberapa menit. Bahkan netizen yang sehari-hari hobi baku hantam di kolom komentar mendadak kompak menulis, “Selamat jalan ibu.”
Karena memang ada orang yang ketika pergi, suasana daerah ikut berubah.
Katharina Lies bukan perempuan biasa. Ia berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat Dayak, ia menjelma menjadi salah satu tokoh perempuan yang paling vokal memperjuangkan hak-hak perempuan Dayak dan masyarakat adat.
Pendidikannya bukan kaleng-kaleng. Ia alumni SMA Santo Paulus Pontianak, lalu melanjutkan pendidikan di Universitas Tanjungpura Pontianak hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Tapi gelar itu tidak ia pajang sekadar jadi tulisan di belakang nama. Ia turun langsung ke masyarakat.
Ia pernah menjadi Ketua Perhimpunan Perempuan Dayak Kalbar. Dari posisi itu, ia dikenal keras membela perempuan adat, kerukunan antar-etnis, hingga isu lingkungan.
Tahun 2018, namanya mencuat saat memimpin tuntutan sejumlah ormas Dayak Kalbar kepada Kepala BNPB waktu itu, Sutopo Purwo Nugroho. Katharina Lies menolak masyarakat Dayak dijadikan kambing hitam penyebab kebakaran hutan dan asap.
Baginya, ladang tradisional Dayak bukan biang utama bencana asap yang tiap tahun bikin paru-paru rakyat seperti diasapi knalpot neraka.
Ia bicara lantang ketika banyak orang memilih aman.
Sebab begitulah negeri ini kadang bekerja. Orang yang membela adat sering dianggap pengganggu investasi. Orang yang membela lingkungan sering dicap anti pembangunan. Orang yang membela rakyat kecil kadang justru hidup sederhana sampai akhir hayatnya.
Sementara yang cuma modal pencitraan bisa mendadak jadi “tokoh nasional” hanya karena rajin pasang baliho ukuran lapangan futsal.
Tapi Katharina Lies berbeda.
Ia tetap aktif mendampingi masyarakat. Ia hadir dalam berbagai forum budaya, termasuk kegiatan lintas negara seperti Gawai Dayak di Malaysia tahun 2019 dan 2025 bersama tokoh-tokoh Dayak lainnya. Ia juga aktif menjadi narasumber dalam isu perempuan Kalimantan, perdamaian sosial, dan keadilan gender.
Di media sosial pun ia dikenal hangat. Lewat akun Facebook “Katharina Lies” dan Instagram @katharinalies, ia sering membagikan refleksi hidup, kegiatan berkebun, memasak, acara adat, hingga aktivitas sehari-hari yang sederhana. Tidak dibuat-buat. Tidak penuh pencitraan ala manusia yang baru pegang kamera langsung merasa negarawan.
Itulah yang membuat banyak orang kehilangan.
Ia memang pernah masuk dunia politik sebagai calon anggota DPRD Provinsi Kalbar dari Dapil VI sekitar periode 2013 – 2019. Namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai aktivis sosial dan perempuan adat dibanding politisi.
Hari ini, perempuan itu telah tiada.
Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Mat Sainin No. D38 Jeruju, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat.
Kalbar kehilangan satu suara penting. Suara yang selama ini berbicara tentang perempuan adat dengan keberanian. Suara yang melawan stigma terhadap masyarakat Dayak. Suara yang tidak dibayar buzzer. Suara yang tidak dibungkus pencitraan murahan.
Kini suara itu telah diam. Selamat jalan Katharina Lies, S.Pd.
Namamu mungkin tak dipasang di gedung-gedung megah. Tapi jejakmu tinggal di hati masyarakat Dayak, perempuan Kalbar, dan orang-orang kecil yang pernah kau bela. Itu jauh lebih abadi dari jabatan lima tahunan.
Partai Koptagul dan seluruh kader di Indonesia mengucapkan duka mendalam, semoga segala amal ibadahnya diterima Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
