FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KITA lanjutkan kisah kezaliman juri LCC 4 Pilar MPR RI. Kita sudah bejjek Dyastasita WB, juri yang ngasih skor -5. Sekarang giliran kawan jurinya yang meng-skakmat regu SMAN 1 Pontianak dengan teriakan “artikulasi.”
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Namanya Indri Wahyun. Sekarang ia bukan lagi sekadar nama pejabat di lingkungan Setjen MPR RI. Di mata netizen, dia sudah berubah jadi simbol kemarahan nasional.
Simbol bagaimana anak SMA bisa dipermalukan di depan publik hanya gara-gara satu mantra sakti yang diucapkan berkali-kali seperti kaset rusak, “artikulasi”.
Dia adalah Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi Setjen MPR RI. Jabatan elite. ASN eselon III. Orang penting dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar kebangsaan. Tapi ironinya luar biasa.
Saat rakyat berharap melihat lomba cerdas cermat penuh sportivitas, yang muncul justru drama penilaian yang bikin publik merasa sedang menonton pengadilan anak SMA dengan hakim paling dingin sedunia.
Dalam Final LCC 4 Pilar Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026, Indri Wahyuni bersama Dyastasita Widya Budi langsung menjadi pusat amarah publik. Bukan karena ketegasan yang bijak. Tapi karena dianggap terlalu ngotot membela keputusan juri sampai publik merasa akal sehat sedang ditabrak truk kontainer.
Kalimat legendarisnya langsung meledak di internet, “Artikulasi itu penting… Dewan juri berhak memberikan nilai -5.”
Selesai. Tamat. Indonesia mendidih.
Netizen langsung bereaksi seperti gunung meletus. Timeline X berubah jadi arena gladiator digital. Nama Indri Wahyuni dilempar ke mana-mana dengan julukan “Mrs Artikulasi”, “Bu Artikulasi”, sampai “Ratu Minus Lima”. Orang-orang marah bukan cuma karena skor. Tapi karena melihat siswa SMA seperti sedang diadili oleh birokrasi yang kehilangan rasa empati.
Publik merasa para peserta diperlakukan seperti robot pidato Istana. Sedikit pelafalan meleset langsung dihukum brutal. Seolah lomba kebangsaan berubah jadi audisi penyiar radio tahun 1987. Netizen pun ngamuk karena yang dipermasalahkan bukan substansi jawaban, melainkan cara pengucapan. Indonesia yang tiap hari ribut soal korupsi, jalan rusak, dan harga pangan tiba-tiba dipaksa percaya masa depan bangsa ditentukan huruf “R”.
Yang bikin kemarahan makin liar, Indri dianggap paling defensif. Bukannya meredakan suasana, publik justru melihat sikap yang dianggap menyalahkan siswa. Internet Indonesia punya aturan tak tertulis. Jangan pernah terlihat arogan di depan anak sekolah. Sekali publik merasa pelajar dizalimi, gelombang amarahnya bisa lebih ganas dari suporter bola kalah final.
Netizen mulai membongkar profilnya. Jabatan. Aktivitas kelembagaan. Sampai LHKPN.
Data tahun 2025 menunjukkan total kekayaan bersihnya mencapai Rp 3.986.628.752. Aset tanah dan bangunan di Palembang mencapai Rp 4,35 miliar. Ada harta bergerak Rp 525 juta, kas Rp110 juta, serta utang hampir Rp1 miliar.
Semua angka itu kini ikut diseret ke tengah kemarahan publik, seolah rakyat sedang berkata, “Dengan jabatan dan fasilitas sebesar itu, masa menangani anak SMA saja publik merasa tidak adil?”
Yang lebih ironis lagi, Indri selama ini aktif dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan dan berbagai LCC daerah. Tapi kini namanya justru viral sebagai tokoh yang dianggap merusak citra lomba pendidikan. Belum ditemukan akun media sosial pribadinya. Hanya muncul di akun resmi kelembagaan seperti Instagram Badan Sosialisasi MPR, IG @badsosmpr, dan akun resmi MPR, IG @mprgoid.
Sekarang, setiap kata “artikulasi” di internet terasa seperti sirene perang. Publik telanjur marah besar. Di mata netizen, ini bukan lagi soal lomba. Ini soal kesombongan kekuasaan kecil yang dianggap menghancurkan semangat anak-anak daerah di depan jutaan orang.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
