Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > MBG Prabowo Habis “Diobok-obok” Ahli Gizi Ini
Opini

MBG Prabowo Habis “Diobok-obok” Ahli Gizi Ini

Last updated: 26/09/2025 22:11
26/09/2025
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ AI ]

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

HEBAT juga ahli gizi cewek ini. Program andalan dan paling disayang Prabowo malah “diobok-oboknya” di hadapan wakil rakyat.

“Apa tak takut nyi..?” Mari kita kenalan dengan perempuan berani ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Di gedung DPR RI yang penuh mikrofon berdebu dan janji-janji diet rendah serat, berdiri seorang perempuan dengan nama yang begitu puitis, dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum.

Jangan remehkan rangkaian gelar di belakang namanya. Itu bukan sekadar aksesoris akademik, tapi senjata tajam yang mampu mengiris tipis-tipis program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga para penyelenggaranya terbelalak, seperti ayam beku yang baru sadar hidupnya ternyata berakhir di kotak kardus MBG.

Tanggal 22 September 2025, Komisi IX DPR RI menjadi panggung gladiator. Dr Tan hadir bukan untuk basa-basi ala seminar yang penuh jargon. Ia datang membawa logika gizi, filsafat pangan, dan humor getir yang membuat burger impor kehilangan rasa asin.

Kritiknya bukan sekadar catatan teknis, itu lebih mirip dentuman meriam gizi yang menembus dinding retorika.

Mari kita catat pelurunya. Menu MBG terlalu mengandalkan makanan olahan Barat. Burger, spageti, bakmi instan, seakan Indonesia ini lahir dari perut restoran waralaba. Tepung terigu yang harus diimpor dan susu formula yang memaksa anak Melayu intoleran laktosa untuk menelan derita, semuanya ia bongkar tanpa tedeng aling-aling.

Bahkan, ia menelanjangi fakta ayam mentah dan makanan berbelatung ditemukan di beberapa daerah. Katanya, “Kalau ini disebut bergizi, maka semut pun bisa ikut demo di depan DPR.”

Tenaga ahli gizi di SPPG? Dr Tan menyebutnya “minim pengalaman” lebih cocok disebut tim coba-coba ketimbang penyelamat generasi. Standar keamanan pangan internasional semacam HACCP bahkan seolah hanya akronim asing yang lewat begitu saja.

Namun kritik perempuan bergelar Magister Humaniora ini bukan sekadar amarah kosong. Ia hadir dengan solusi, hentikan distribusi makanan ultra-proses, perbaiki operasional SPPG, buat sistem monitoring yang bisa dipertanggungjawabkan, dan, ini yang paling menusuk, alokasikan 80% menu MBG dari pangan lokal.

Bayangkan, anak Papua menikmati ikan kuah asam, anak Sulawesi bangga dengan kapurung, anak Jawa kenyang dengan sayur lodeh, anak Kalimantan tertawa bersama ikan asam pedas. Duh, favorit gue ni ikan sampedas. Inilah Indonesia, bukan sekadar bangsa penyeduh susu formula impor.

Siapa sebenarnya perempuan ini? Dilahirkan di Beijing pada 17 September 1964, lalu tumbuh menjadi warga Indonesia sejati. Belajar kedokteran di Universitas Tarumanegara, melanjutkan profesi di FKUI, mengembara ke Australia, Thailand, dan akhirnya menekuni filsafat di STF Driyarkara.

Ia adalah dokter, penulis, pendidik, sekaligus filsuf pangan. Instagram dan YouTube jadi panggung lain untuk kampanye kesehatan yang tidak murahan.

Kontribusinya panjang. Kolumnis di Kompas, pembicara seminar, aktivis gizi masyarakat, dan kini, sang penabuh genderang perang melawan MBG instan. Kalau ada yang bertanya, “Apakah dr Tan ini ahli gizi atau seniman?” Jawabannya, ia adalah keduanya.

Karena hanya seniman yang bisa menjadikan menu bergizi sebagai puisi, dan hanya filsuf yang bisa membuat sepiring kapurung terasa lebih bermartabat dari burger beku.

Maka, jika penyelenggara MBG masih punya hati nurani, telinga tidak pekak, dengarlah dr Tan. Sebab dalam suaranya terkandung bukan sekadar kritik, tapi doa panjang agar generasi Indonesia tidak tumbuh dengan perut kenyang tapi otak kosong.

Ia hadir sebagai cermin, apakah bangsa ini ingin jadi bangsa berakar pada pangan lokal, atau sekadar konsumen setia waralaba global?

Pilihan ada di meja kita. Dr Tan sudah menyajikan resepnya.

“Tapi, bang. Biasanya ada bilang gini, mana duitnya, tambahlah agar sesuai keinginan ahli gizi.”

“Ah, ente, wak. Dasar otak proyek.” Ups..

#camanewak

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Keracunan MBGMBGProgram MBG
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Surat Kades Tak Kunjung Berbalas, Viral di Medsos, Namun Perbaikan Jembatan Temurak Meliau Masih Menggantung?

14/05/2026
Ratusan Orang Antusias Nobar Film Pesta Babi di Mempawah
20 jam lalu
“Ramai di Medsos”, Ada Apa dengan Pelayanan di RSUD MTh Djaman?
07/05/2026
Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak
11/05/2026
Korupsi Jalan Lambau..! Penyidik Kejari Bengkayang Seret Direktur PT MPK dan “Makelar” Dokumen Jadi Tersangka
30/04/2026

Berita Menarik Lainnya

Betapa Dahsyatnya Film Pesta Babi

24 jam lalu

Prabowo Mulai Nyerah, Anggaran MBG Dipotong Rp 67 Triliun

23/05/2026

Membongkar Praktik Aseng “Menaklukan” Aparat agar Tambang Illegal Tak Tersentuh Hukum

23/05/2026

Aseng, Bos Tambang Ilegal, Terkenal Licin, Ditangkap Kejagung

22/05/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang