Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap
Opini

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap

Last updated: 05/07/2026 23:52
05/07/2026
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

KITA lanjutkan kisah ditangkapnya Bupati Langkat, Ondim. Rupanya saat penangkapan, ia mau makan durian. Eh..KPK menciduk duluan.

Tega benar dah, kan kemponan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ini bukan sekadarn OTT. Ini tragedi gastronomi nasional. Ini luka kolektif pecinta durian se-Asia Tenggara. Ini peristiwa membuat para penggemar Musang King, Montong, Bawor, Petruk, Jemongko hingga Durian Kampung mendadak berkabung tiga hari tiga malam sambil menghirup aroma kulit durian bekas.

Nuan bayangkan. Lebih dari 200 kepala daerah dari seluruh Indonesia sedang berkumpul di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Forum resmi Forbisda APKASI bersama KADIN sudah selesai sekitar pukul lima sore. Saatnya masuk agenda paling ditunggu para pemimpin daerah, pesta durian. Bukan pesta babi ya.

Jam enam malam. Meja sudah dipenuhi durian. Ada durian montong yang badannya segede koper haji plus. Ada musang king yang wajahnya seperti bangsawan kerajaan buah-buahan. Ada bawor yang bentuknya mirip granat zaman Majapahit. Ada petruk yang aromanya sanggup membuat tetangga tiga gang mendadak datang silaturahmi.

Suasana hangat, akrab, dan penuh persaudaraan. Para bupati saling ngobrol, tertawa, bertukar pengalaman pembangunan daerah, berbagi cerita APBD, mungkin juga diam-diam membandingkan siapa paling kuat makan durian tanpa takut kolesterol naik.

Namun tiba-tiba…Ondim menghilang. Syah Afandin, Bupati Langkat periode 2025–2030, lenyap.

Para bupati mulai panik. “Mana Ondim?” “Tadi ada.” “Kok sekarang hilang?” “Jangan-jangan dia sudah duluan nyerbu durian premium.”

“Jangan-jangan lagi cari Musang King ukuran kambing.”

Ternyata bukan. Bukan ke toilet. Bukan ke parkiran. Bukan pula sedang bertapa di bawah pohon durian.

Tim KPK datang lebih cepat dari semut menemukan durian pecah. Lebih agresif dari lalat yang baru dapat kabar ada durian busuk. Lebih presisi dari tendangan Messi ke gawang Cape Varde.

Lalu, byurrr! Bupati Langkat langsung diamankan. Katanya terkait dugaan suap proyek di Pemkab Langkat.

Astaga. Durian belum dibelah. Durian belum dibuka. Durian belum disendok. Durian belum difoto untuk status WA bertuliskan, “Nikmat mana lagi yang kau dustakan.” Malah sudah harus berhadapan dengan prosedur hukum.

Lae bayangkan sedihnya durian-durian itu. Mereka sudah matang sempurna. Sudah rela jatuh dari pohon. Sudah siap mengorbankan kulit berduri demi membahagiakan umat manusia. Namun calon penikmatnya justru berangkat menuju Jakarta. “Kasian, kemponan die,” kata budak Pontianak.

Ini benar-benar kisah paling pahit sejak seseorang membeli durian mahal ternyata isinya cuma tiga pongge dan dua biji.

Syah Afandin sendiri bukan tokoh sembarangan. Ia adik mantan Gubernur Sumut, Syamsul Arifin. Politikus PAN. Kariernya melesat dari DPRD, menjadi Plt Bupati, lalu terpilih penuh sebagai Bupati Langkat periode 2025–2030.

Namun kini sejarah mungkin akan mengenangnya dengan gelar baru. “Bupati yang ditangkap sebelum makan durian.”

Sebuah gelar yang terdengar seperti judul film festival buah internasional. Kronologinya pun seperti sinetron ijazah. OTT dilakukan di Binjai. Lalu merembet ke Medan. Kemudian menyentuh Deli Serdang. Total tujuh orang diamankan di tiga lokasi berbeda.

Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, ketika dikonfirmasi hanya menjawab singkat, “Benar.” Selesai. Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan apakah durian akhirnya disita sebagai barang bukti. Tidak ada keterangan apakah tersangka sempat mencium aromanya. Tidak ada informasi apakah ada kompensasi berupa durian frozen.

Sementara itu, para bupati lain kemungkinan tetap makan durian sambil termenung. Ada yang menyendok perlahan. Ada yang mengunyah sambil geleng kepala.

Ada yang berkata lirih, “Kasihan Ondim. Padahal duriannya fresh.” Yang lain mungkin berbisik, “Jangan-jangan KPK datang karena tidak kebagian durian.”

Tentu saja korupsi harus diberantas. Tidak boleh ditawar. Tidak boleh dikompromikan. Tetapi rakyat kecil tetap berhak bertanya dengan nada dramatis ala sinetron jam tujuh malam.

Kenapa harus pas pesta durian? Kenapa tidak sesudah dua pongge. Atau minimal sesudah satu biji Musang King?

Karena kini sejarah Indonesia bertambah satu bab baru. Ada orang kehilangan jabatan. Ada orang kehilangan kebebasan. Ada pula orang yang kehilangan kesempatan menikmati durian terbaik Sumatera Utara.

Sungguh tragis. Sungguh epik. Sungguh montong sekali.

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Bupati LangkatDitangkap KPKKpkMakan DurianSumut
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Alami Pemadaman Massal, BPM Kalbar Desak Pimpinan PLN Dicopot dan Ancam Gelar Demonstrasi Besar

03/07/2026
Menelisik Bangunan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Dibangun Telan Dana Puluhan Milyar Tapi Tak Ditempati, Ini Penyebabnya
11/07/2026
KANNI Kalbar Desak PLN Transparan Soal Listrik Padam ‘Berjemaah’ di Sanggau hingga Mempawah dan Wilayah Lainnya
03/07/2026
Sengaja Dikunci? Dugaan Kongkalikong Tender Jembatan Sungai Barak Mukok Mencuat..!
28/06/2026
Digantung Tanpa Kejelasan, Puluhan Karyawan PT MJP 1 Sekadau, Tuntut Kepastian Nasib di DPRD Sekadau
07/07/2026

Berita Menarik Lainnya

Prabowo Minta Ia Mundur, Masih Ngeyel Sehari, Akhirnya Febrie Mundur Benaran

11/07/2026

Imbas Brankas Cipete, Polda Jateng Perintahkan Personel Jangan Mau Dipanggil Kejaksaan

10/07/2026

Negeri Ini Butuh Sahrial Abadi, Bukan Para Koruptor

08/07/2026

Mega Korupsi BGN, Brigjen Lalu Muhammad Iwan Jadi Tersangka Ketujuh

03/07/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang