Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > KPK Beraninya pada Pejabat Rendahan
Opini

KPK Beraninya pada Pejabat Rendahan

Last updated: 08/05/2025 23:40
08/05/2025
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi penyidik KPK RI saat melaksanakan penggeladahan [ ist ]

KALBAR diobok-obok KPK. Macam jagoan. Para pejabat pun ketar-ketir. Mulai ada membungkam media. Ada daerah, tak ada berita diproduksi wartawan dari aksi KPK ini.

Luar biasa, wak! Mari kita dalami sambil seruput kopi tanpa gula.

KPK tampil gagah selama empat hari dari tangal 25 sampai 29 April 2025. Lembaga anti rasuah ini mengobok-obok tiga kabupaten: Mempawah, Sanggau, dan Pontianak.

Tiga daerah itu mendadak terasa seperti pusat jagat antikorupsi nasional. Ini seolah-olah Jakarta sudah bersih dari dosa dan hanya menyisakan semilir angin harapan.

Ada 16 lokasi digeledah. Enam belas! Jumlah yang lebih banyak dari jumlah jaket almamater mahasiswa baru. KPK menyasar proyek infrastruktur yang katanya sarat penyimpangan. Katanya ada kerugian negara.

Katanya aliran dana mencurigakan. Katanya lagi, seperti biasa, mereka sedang mengumpulkan bukti. Entah bukti itu akan dibawa ke pengadilan, atau disimpan dalam laci dan dilupakan ketika perhatian publik sudah pindah ke skandal artis yang kawin siri.

Yang jelas, tiga orang sudah naik tingkat menjadi tersangka. Sementara enam lainnya masih saksi. Selebihnya masih bergentayangan dalam status abu-abu seperti hantu di rumah kosong.

Yang membuat rakyat mengangkat alis, bukan soal siapa yang ditangkap, tapi siapa yang tidak. Seperti biasa, KPK tampaknya punya kebiasaan lama: menangkap pion, membiarkan raja. Kepala Dinas? Jelas jadi sasaran empuk.

Mereka itu seperti prajurit lapangan yang disuruh tanda tangan, lalu ditinggal begitu saja oleh atasannya yang kini entah di mana. Mereka bukan dalang, bukan pengambil keputusan utama, bahkan uang hasil korupsinya saja belum tentu mereka rasakan.

Tapi ya begitulah hukum, tajam ke bawah, tumpul ke atas, dan tumpulnya itu bukan tumpul biasa, tapi setajam hati mantan yang sudah move on.

Juru Bicara KPK, Tessa Mahardhika, angkat bicara. Katanya mereka sedang serius menyelidiki aliran dana dan pihak-pihak yang terlibat. Tapi sampai sekarang, siapa yang terlibat itu masih dibungkus misteri, seperti isi gulungan daun lontar zaman Majapahit.

Informasi yang keluar cuma potongan-potongan. Satu pernyataan di TV, satu di media daring, dan sisanya? Silakan tebak sendiri seperti kuis berhadiah kosong.

Publik mulai bertanya-tanya, kenapa KPK begitu garang di daerah, tapi melempem di pusat? Di Jakarta, pusat anggaran, pusat kekuasaan, pusat segala pusat, KPK seperti kehilangan gigi.

Tidak ada penggeledahan megah, tidak ada operasi diam-diam. Padahal, semua orang tahu, korupsi paling brutal justru bersarang di sana. Lalu kenapa hanya daerah yang selalu jadi ladang operasi? Apakah KPK hanya kuat kalau jauh dari gedung DPR? Apakah sinyal keberanian mereka hilang begitu masuk tol dalam kota?

Rakyat menonton ini semua sambil mengunyah pisang goreng. Terhibur, geli, marah, lalu pasrah. Sudah jadi tradisi: setiap tahun ada operasi, ada tangkapan, tapi yang besar-besar tetap bebas merdeka.

Yang kuat tetap kuat. Yang licik tetap jadi panutan. KPK, yang dulu dipuja-puja sebagai garda terakhir antikorupsi, kini perlahan-lahan seperti tokoh sinetron tua, masih tampil, tapi aktingnya tidak lagi menyentuh hati.

Kalau nuan (anda) bertanya, kapan korupsi besar akan ditangkap? Mungkin jawabannya adalah, nanti, kalau sudah tidak penting lagi. Atau kalau sudah pensiun. Atau kalau sudah tidak punya kuasa. Atau mungkin, tidak akan pernah.

Sementara itu, mari kita nikmati episode Kalbar ini. Karena seperti biasa, ending-nya bisa ditebak, pion tumbang, raja diam, dan KPK pulang dengan koper penuh dokumen, dan penuh harapan kosong.

#camanewak

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:KPK RIPenggeledahan di Kalbar
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

06/03/2026

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang