Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Cara KDM Melawan Premanisme
Opini

Cara KDM Melawan Premanisme

Last updated: 03/05/2025 00:51
02/05/2025
Opini
Share

FOTO : ilutrasi KDM [ ist ]

NAMA Kang Dedi Mulyadi alias KDM semakin melejit. Oleh orang Sunda menyebutnya “Bapak Aing.” Aksi street justice-nya semakin memukau.

Wajah KDM wara-wiri di medsos karena viral dan FYP. Seperti yang pernah saya bilang, kalau ada yang mampu meng-endose-nya, ada kemungkinan KDM the next leader in this country.

Aksi terbaru KDM, melawan premanisme berbaju loreng. Yok kita kupas sambil seruput kopi liberika tanpa gula.

Suatu pagi, saat udara Bandung masih wangi aroma bubur ayam dan motor-motor baru belajar klakson tiga kali dalam satu menit, Kang Dedi berdiri di halaman Gedung Sate, memandang langit dengan tekad menggebu.

Ia tidak sedang mencari wangsit atau memikirkan tender proyek. Tidak. Ia sedang menyiapkan deklarasi perang terhadap satu makhluk purba yang masih berkeliaran di negeri demokrasi, premanisme.

Dengan gagah berani dan suara seperti narator film kolosal, KDM mengumumkan pembentukan Satgas Antipremanisme, sepasukan aparat dan pejuang sipil yang dipilih bukan karena kekuatan otot, tapi karena kekuatan moral dan niat mulia.

Di negeri ini, preman bukan lagi tukang parkir liar yang suka nyolek kaca spion, tapi evolusi makhluk sosial. Mereka berorganisasi, berseragam, bahkan punya surat tugas, stempel, dan kadang dukungan elite politik.

Di balik tepuk tangan warga yang bosan dipalak dan ditakut-takuti, terdengar gelegar perlawanan. Bukan dari bawah tanah, tapi dari atas panggung ormas bernama GRIB Jaya, yang dipimpin oleh legenda hidup premanisme nasional, Hercules Rosario Marshal.

Tokoh ini seperti tokoh antagonis dalam film laga 90-an: garang, penuh sejarah, dan punya ribuan pasukan berseragam yang siap melakukan “unjuk rasa” atau “unjuk kekuatan”dua hal yang di Indonesia kadang sulit dibedakan. Hercules merasa dikhianati. Ia mengklaim telah membantu KDM naik takhta, dan kini merasa dibuang seperti spanduk kampanye habis masa berlaku.

“Kalau perlu, kami turunkan puluhan ribu orang ke Gedung Sate!” ancam Hercules. Sebuah pernyataan yang terdengar seperti deklarasi perang, atau minimal acara reuni akbar. Tapi, Bapak Aing tidak goyah.

Alih-alih sembunyi atau menggelar rapat darurat, ia malah menyusuri gang-gang sempit, kampung-kampung yang terkenal sebagai sarang preman. Ia datang bukan dengan rombongan aparat, tapi dengan kamera, kata-kata tegas, dan hati baja.

Ia berbicara langsung dengan para preman. Beberapa menangis. Beberapa menyimpan air mata di dalam, karena takut ketahuan punya perasaan.

Data bicara, Indonesia memiliki 554.692 ormas. Jumlah ini lebih banyak dari jumlah mi instan yang tersisa di rak supermarket akhir bulan. Ormas tumbuh subur karena Undang-Undang No. 17 Tahun 2013 yang memberi izin siapa pun membentuk organisasi. Modalnya, visi misi, sedikit stempel, dan beberapa orang dengan niat entah mulia atau manipulatif.

Ditambah lagi, dukungan politik dan ekonomi membuat ormas bukan hanya alat perjuangan, tapi juga alat pencitraan. Kadang penguasaan wilayah. Ada ormas yang sungguh-sungguh mengadvokasi, tapi tak bisa dipungkiri, ada pula yang menjelma jadi agensi pemalakan dengan nama agama atau nasionalis.

Tapi KDM dengan segala kegilaan nekatnya, ingin memutus mata rantai itu. Ia tahu, premanisme tak bisa dilawan hanya dengan surat edaran. Ia lawan dengan kehadiran. Dengan nyali.

Dengan mempermalukan preman di depan publik, bukan lewat kekerasan, tapi lewat kata-kata, lewat dialog, lewat kamera yang merekam kenyataan, bahwa preman bukan raja, rakyat bukan budak, dan negara tak boleh tunduk pada ancaman gerombolan.

Di tengah panggung republik yang terlalu lama jadi ladang intimidasi berbaju ormas, Kang Dedi berdiri. Tak sekadar sebagai gubernur, tapi sebagai simbol, bahwa keberanian bukan soal otot, tapi keteguhan.

Bahwa kita bisa punya masa depan tanpa takut pada jaket seragam, toa pengeras, atau ancaman reuni massal bertema “mengingat jasa lalu.” Di tangan KDM, harapan itu hidup. Semoga tidak di-sweeping.

#camanewak

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalbar ]

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:KDM
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Ratusan Orang Antusias Nobar Film Pesta Babi di Mempawah

24/05/2026
Surat Kades Tak Kunjung Berbalas, Viral di Medsos, Namun Perbaikan Jembatan Temurak Meliau Masih Menggantung?
14/05/2026
“Ramai di Medsos”, Ada Apa dengan Pelayanan di RSUD MTh Djaman?
07/05/2026
Mengenal Indri Wahyuni, Dikenal Mrs Artikulasi Saat Skakmat Regu SMAN 1 Pontianak
11/05/2026
Korupsi Jalan Lambau..! Penyidik Kejari Bengkayang Seret Direktur PT MPK dan “Makelar” Dokumen Jadi Tersangka
30/04/2026

Berita Menarik Lainnya

Betapa Dahsyatnya Film Pesta Babi

24/05/2026

Prabowo Mulai Nyerah, Anggaran MBG Dipotong Rp 67 Triliun

23/05/2026

Membongkar Praktik Aseng “Menaklukan” Aparat agar Tambang Illegal Tak Tersentuh Hukum

23/05/2026

Aseng, Bos Tambang Ilegal, Terkenal Licin, Ditangkap Kejagung

22/05/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang