FOTO : Mobil pikap mengangkut tangki air sedang mensuplai ke rumah warga ( Uray Tommy).
Pewarta : Uray Tommy M | Editor/publisher : Admin radarkalbar.com
MEMPAWAH – Kemarau panjang yang melanda sebagian wilayah Kalimantan Barat mengakibatkan krisis air bersih yang kian mengkhawatirkan.
Di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, dan Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang, warga kini harus berjuang ekstra hingga mengeluarkan biaya lebih demi mendapatkan air layak konsumsi.
Intrusi air laut yang menyebabkan air sungai menjadi asin membuat sumber air warga tak lagi bisa digunakan. Kondisi ini memaksa warga bergantung sepenuhnya pada sumur bor milik pribadi yang masih mengeluarkan air tawar.
Ning, seorang pemilik sumur bor di Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, mengungkapkan bahwa permintaan air bersih melonjak tajam. Setiap hari, puluhan kendaraan pengangkut air mengantre di lokasi miliknya.
“Setiap harinya sekitar 40 sampai 50 mobil antre. Di sekitar sini ada lima titik sumber air serupa, dan semuanya mengalami antrean yang sama karena kami melayani permintaan warga dari dua kabupaten sekaligus,” ujar Ning, Minggu (29/3/2026).
Keterbatasan armada dan sumber air membuat distribusi terhambat. Jul, seorang sopir pengantar air, mengaku kewalahan melayani pesanan yang mencapai 8 pelanggan per hari. Ia bahkan harus bekerja dari pagi hingga larut malam.
“Saya mohon maaf kepada pemesan agar bersabar. Semua pesanan tetap akan diantar, tapi memang harus menunggu giliran,” katanya.
Kondisi sulit ini juga dirasakan Acun, warga Desa Sungai Duri. Ia mengaku mulai kesulitan memesan air karena penyedia jasa di wilayah Sungai Pangkalan 2 sudah mulai menolak pesanan akibat kewalahan memenuhi permintaan lokal yang membeludak.
Dampak ekonomi paling nyata dirasakan oleh ibu rumah tangga. Halimah, warga yang tinggal di pinggiran sungai, mengeluhkan pembengkakan biaya rumah tangga.
“Sudah sebulan lebih kami harus beli air karena air sungai asin. Uang belanja dapur terpaksa ditambah untuk beli air bersih,” keluh Halimah.
Warga kini berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah setempat untuk mengatasi krisis musiman ini, mengingat air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. ( RED)
