Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Kalbar > Pontianak > KAHNI Kalbar Desak Usut Tuntas 15 WNA Beijing, Terlibat Insiden dengan TNI di PT SRM Ketapang
Pontianak

KAHNI Kalbar Desak Usut Tuntas 15 WNA Beijing, Terlibat Insiden dengan TNI di PT SRM Ketapang

Last updated: 17/12/2025 00:59
16/12/2025
Pontianak
Share

FOTO : Ketua KAHNI Kalbar, Raden Hoesnan [ ist ]

Tim liputan – radarkalbar.com

PONTIANAK – Keberadaan 15 warga negara asing (WNA) asal Beijing yang beraktivitas di PT Sultan Rafli Mandiri (PT SRM) Kabupaten Ketapang menjadi sorotan publik setelah terlibat dalam insiden penyerangan terhadap prajurit TNI.

Peristiwa tersebut terjadi saat aparat TNI menegur para WNA yang menerbangkan drone di kawasan perusahaan tersebut.

Insiden ini memicu kekhawatiran serius terkait pengawasan orang asing, terutama karena tindakan para WNA dinilai berani dan membahayakan aparat negara.

Teguran yang diberikan prajurit TNI justru berujung pada aksi penyerangan, sehingga menimbulkan pertanyaan besar mengenai latar belakang, tujuan keberadaan, serta aktivitas sebenarnya dari belasan WNA tersebut di wilayah Ketapang.

Tak ayal, hal itu memantik Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (DPD KAHNI) Provinsi Kalimantan Barat, Raden Hoesnan angkat bicara.

Pria yang dikenal cukup vokal ini, menegaskan peristiwa ini harus diusut secara menyeluruh dan transparan.

Menurutnya, negara tidak boleh kecolongan terhadap keberadaan warga asing yang melakukan aktivitas mencurigakan, terlebih hingga berujung pada tindakan kekerasan terhadap aparat TNI.

“Ini bukan persoalan sepele. Ada 15 WNA asal Beijing berada di satu perusahaan, kemudian berani melakukan penyerangan terhadap prajurit TNI hanya karena ditegur saat menerbangkan drone. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak,” ujar Hoesnan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/12/2025).

Ia menekankan, penelusuran tidak hanya sebatas pada insiden penyerangan, tetapi juga harus mencakup legalitas kedatangan, izin tinggal, serta jenis pekerjaan yang dilakukan para WNA tersebut di PT SRM.

Menurut Hoesnan, aparat penegak hukum perlu memastikan apakah keberadaan mereka telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Lebih jauh, Hoesnan mengungkapkan kekhawatirannya terkait dugaan kepemilikan peralatan berbahaya oleh para WNA tersebut.

Berdasarkan informasi yang berkembang, para WNA diduga memiliki air soft gun, senjata tajam serta alat setrum.

Jika hal ini terbukti benar, ia menilai situasi tersebut sangat mengkhawatirkan dan berpotensi mengancam keamanan.

“Kepemilikan senjata, apalagi air soft gun dan alat setrum, oleh WNA jelas tidak bisa ditoleransi. Aparat harus mengusut dari mana asal senjata tersebut dan untuk kepentingan apa digunakan,” tegasnya.

Selain aspek keamanan, Hoesnan juga menyoroti peran Kantor Imigrasi Ketapang dalam melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap orang asing yang bekerja di wilayah tersebut.

“Pengawasan imigrasi harus dievaluasi. Jangan sampai ada celah yang dimanfaatkan pihak tertentu sehingga WNA bisa beraktivitas bebas tanpa pengawasan ketat, bahkan sampai membawa peralatan berbahaya,” katanya.

Hoesnan berharap, kasus ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta instansi terkait untuk memperketat pengawasan terhadap keberadaan orang asing, khususnya di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah strategis.

“Kita juga meminta agar hasil penelusuran dan penindakan hukum disampaikan secara terbuka kepada publik guna menjaga kepercayaan masyarakat,” pintanya.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pendalaman terhadap insiden tersebut. Masyarakat pun menunggu langkah tegas aparat dalam mengusut tuntas kasus ini sekaligus memastikan keamanan dan kedaulatan negara tetap terjaga di wilayah Ketapang. [ red ]

editor/publisher : admin radarkalbar.com

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:PT SRM KetapangWNA BeijingWNA Serang TNI
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Pengelolaan Solar Subsidi di Paloh Dibahas Bersama Nelayan dan HNSI

08/06/2026
Milyaran Rupiah Lenyap Semalam: Petani Keramba Mempawah Menjerit, Dinas Terkesan “Meraba-raba”
11/06/2026
HNSI Sambas Mediasi Nelayan Paloh dan SPBU, Penyaluran BBM Segera Kembali Normal
08/06/2026
Yayasan Trah Kesultanan Dikukuhkan, Siap Dorong Ekonomi dan Wisata Budaya Singkawang
08/06/2026
Salahnya Dimana? Program MBG di Sanggau Malah Diwarnai Kenaikan Kasus Stunting
08/06/2026

Berita Menarik Lainnya

Buntut Pemadaman Listrik : Seribuan Massa BPM Kalbar Akan ‘Kepung’ Tiga Titik Vital PLN

54 menit lalu

Sah, Irjen Alberd Teddy Benhard Sianipar Resmi Jabat Kapolda Kalbar

05/07/2026

Dampak Pemadaman Bergilir, Aktivitas Masyarakat Terganggu, Wake : PLN Harus Beri Solusi Konkret, Bukan Sekadar Maaf..!

04/07/2026

Alami Pemadaman Massal, BPM Kalbar Desak Pimpinan PLN Dicopot dan Ancam Gelar Demonstrasi Besar

04/07/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang