Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Lagu “Bayar Polisi” Siapa Luka Dia Perih
Opini

Lagu “Bayar Polisi” Siapa Luka Dia Perih

Last updated: 23/02/2025 10:56
23/02/2025
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

BANYAK follower saya mengulas fenomena lagu “Bayar Polisi” yang viral itu. Bukan ikan lele ya. Ini soal lagu lee.. karya seni yang menusuk hati polisi.

Agar aman, oknum polisi. “Tapi, oknum kok ramai bangat, Bang!” Udah kita ngopi saja sambil bahas lagunya.

Ini liriknya :

_Mau bikin SIM bayar polisi
Ketilang di jalan bayar polisi
touring motor gede bayar polisi
Angkot mau ngetem bayar polisi_

Sebuah lagu. Sebuah kritik. Sebuah sindiran tajam yang merobek gendang telinga aparat. “Bayar Polisi,” nyanyian dari band Sukatani, menggema di jagat maya.

Liriknya seperti mantera sakti yang memanggil ribuan netizen untuk mengetik dengan jari penuh amarah, “Akhirnya, ada yang berani bicara!”

Polisi, yang katanya abdi utama bagi nusa bangsa, tentu merasa tersinggung. Wajar. Tak ada yang suka bercermin kalau wajahnya penuh noda. Tapi mereka mencoba tampak elegan.

Kapolri berkata, “Kami tidak anti kritik.” Polda Jateng mengangguk, “Kami menghargai ekspresi seni.” Para netizen tersenyum sinis, sambil membayangkan betapa beratnya tugas PR institusi ini, menjawab segala kritik sambil tetap terlihat bijaksana.

Tapi, mari bicara jujur. “Bayar Polisi” bukan dongeng. Ia lahir dari kenyataan yang terlalu sering terjadi.

Setiap pengendara motor yang pernah ditilang tahu betul bahwa pilihan hidupnya bukan sekadar “bayar denda” atau “sidang di pengadilan.”

Ada pilihan ketiga. Sebuah jalur ekspres, tanpa antre, tanpa ribet. kSejumlah lembaran biru yang berpindah tangan dalam kedipan mata.

“Jangan lupa pakai helm, ya,” ujar petugas dengan senyum tipis, seolah barusan memberikan diskon parkir, bukan menerima sesuatu yang haram.

Belum lagi urusan SIM. Ah, kisah klasik. Konon, ujian teori dan praktik dibuat demi keselamatan di jalan raya. Tapi, di dunia paralel bernama realita, ada metode yang lebih efisien, bayar, tunggu, jadi. Lalu, ada kelakar di kalangan rakyat jelata, “Lebih mudah SIM dari ijazah.”

Di lain sisi, mereka yang mencoba jujur harus melewati rintangan tak masuk akal. Ujian teori dengan soal yang terasa lebih sulit dari SBMPTN.

Ujian praktik dengan lintasan berliku, yang bahkan Valentino Rossi pun mungkin berpikir dua kali sebelum mencobanya. Yang gagal? Silakan coba lagi.

Dan lagi. Sampai bosan. Atau… ya, kita semua tahu alternatifnya.

Ketika Sukatani menyanyikan lagu ini, mereka hanya mewakili suara rakyat. Suara yang selama ini tertahan di tenggorokan. Suara yang tak bisa disalurkan dalam laporan resmi, karena, ah… siapa sih yang percaya laporan rakyat jelata melawan aparat?

Lalu, tibalah momen magis itu. Band Sukatani tiba-tiba meminta maaf. Klarifikasi muncul. Katanya, tak bermaksud menyinggung. Netizen garuk-garuk kepala. Oh, begitu. Berarti lagu itu semacam… candaan?

Tapi lucunya, lagu sudah terlanjur meresap ke hati masyarakat. Nada-nadanya telah menjadi nyanyian protes di sudut-sudut warung kopi.

Kata-katanya menggantung di bibir setiap pengendara yang berhenti di lampu merah dan melihat sosok berbaju coklat melangkah mendekat.

Apa pelajaran dari semua ini? Bahwa kritik adalah obat pahit yang sering kali ditolak pasien. Bahwa kenyataan bisa lebih dramatis dari fiksi.

Dalam negeri ini, kebenaran harus selalu dinyanyikan dengan hati-hati, sebelum akhirnya berubah menjadi permintaan maaf.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Lagu bayar polisiSukatani
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

06/03/2026

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang