Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Cerpen “Uang Palsu dan Amarah Rektor”
Opini

Cerpen “Uang Palsu dan Amarah Rektor”

Last updated: 20/12/2024 23:27
20/12/2024
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

PANORAMA Coffee Jalan Diponegoro Pontianak tempat pengopi dompet tipis nyantai.

Di salah satu pojokan, Wak Dalek dan Wan Dolah, dua pensiunan dengan banyak waktu dan lebih banyak teori, sedang menyeruput kopi panconf dengan kadar keasaman yang hampir setara dengan komentar netizen.

“Jadi, Wan, Rektor UIN itu bilang dia malu setengah mati, marah, tertampar. Pertanyaanku, dia kena tampar siapa? Malaikat Izrail?” ujar Wak Dalek sambil memutar sendok kecilnya.

Wan Dolah menggeleng sambil tersenyum kecut. “Itu istilah, Wak. Maksudnya reputasi kampusnya remuk. Tapi ya, kita musti heran juga. Sebagai Rektor, masak nggak tahu di bawah hidungnya ada mesin cetak uang palsu?

Itu bukan mesin fotokopi mini, lho! Ini teknologi China, Wak. Kalau mau disembunyiin, paling nggak kan kedengeran bunyinya whirrr, cetak, krak!. Atau dia pakai peredam suara ala studio podcast?”

Wak Dalek tertawa keras, hingga hampir menyedot ampas kopi. “Coba kau pikir, Wan. Selama bertahun-tahun itu uang palsu dicetak, trus siapa yang konsumennya?

Alumni UIN? Jadi kalau kita lihat warung yang hanya jual dua bungkus kerupuk tapi bisa buka cabang ke Paris, kita udah tahu jawabannya?”

“Kau terlalu jauh, Wak. Mungkin ini cuma oknum. Tapi kalau oknum sampai 17 orang, itu bukan oknum lagi. Itu sudah seperti startup!” jawab Wan Dolah dengan nada serius bercampur ndagel.

Mereka terdiam sejenak. Di layar televisi kafe, berita tentang Rektor Hamdan Juhannis terus berputar. “Kami malu, marah, merasa tertampar,” katanya dengan ekspresi tanpa dosa.

“Wak..!” Wan Dolah memecah keheningan. “Aku ada teori lain. Mungkin Rektor memang nggak tahu. Mungkin dia sibuk mengurusi hal-hal lebih besar seperti mendirikan fakultas baru, bikin seminar internasional, atau menghitung jumlah mahasiswa yang ngopi di kantin pakai uang semesteran.”

“Tapi, Wan, kalau dia nggak tahu, artinya sistemnya rusak. Ini kampus Islam, lho. Ada Syariah, ada Ushuluddin. Masak nggak ada yang berpikir bahwa mencetak uang palsu itu nggak cuma melanggar hukum, tapi juga bikin Nabi menangis di surga? Ini bukan cuma soal hukum negara. Ini soal moral, soal iman.”

Wan Dolah mengangguk. “Betul juga, Wak. Mungkin inilah paradoks modernitas. Di satu sisi kita sibuk mengajarkan agama dan moral, tapi di sisi lain kita sibuk mencari celah untuk memanipulasinya. Mungkin benar apa kata Nietzsche, Tuhan sudah mati.”

Mereka berdua tertawa kecil, meski sebenarnya getir.

“Apa solusinya, Wan? Kampus harus gimana?” tanya Wak Dalek akhirnya.

“Solusi? Ah, itu gampang.

Pertama, Rektor harus berhenti bilang ‘kami malu, marah, tertampar.’ Itu nggak bikin mesin uang palsu berhenti, malah bikin dia kayak aktor sinetron.

Kedua, semua uang palsu itu dibakar, terus abunya dijadikan tinta untuk skripsi mahasiswa. Itu baru simbol penebusan dosa.

Ketiga, Rektor jangan lupa bawa uang asli kalau mau bayar kopi di sini. Karena kalau nggak, aku curiga, Wak, kita lagi minum kopi pakai duit palsu dari UIN.”

Keduanya tertawa keras, kali ini sampai pelayan kafe melirik curiga. Entah karena suara mereka, atau karena pelayan itu diam-diam alumni UIN.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:RektorUang palsuUIN Makassar
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Resmi Dilantik, Utin Risty Emilya Putri Sulung Raja Sanggau Perkuat Layanan Kenotariatan
04/03/2026

Berita Menarik Lainnya

Amr bin Ash, Pembuka Gerbang Benua Afrika

11/03/2026

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

06/03/2026

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang