Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Gus Miftah Akhirnya Mundur
Opini

Gus Miftah Akhirnya Mundur

Last updated: 07/12/2024 00:47
06/12/2024
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

DI SLEMAN, sebuah drama berjudul “Pengunduran Diri Utusan Khusus Presiden” dipentaskan dengan aktor utama Gus Miftah.

Dengan latar belakang penuh hikmah, cahaya matahari yang menyinari ruang tengah, tempat Gus Miftah duduk di hadapan kamera, berusaha terlihat penuh keinsafan. Wajah penuh penyesalan.

“Hari ini, dengan segala kerendahan hati, ketulusan, dan kesadaran penuh,” katanya, seolah menggenggam naskah Shakespeare, “saya memutuskan untuk mengundurkan diri.”

Kalimat itu terdengar bak syair elegi seorang tokoh besar yang dipaksa mundur oleh badai maha dahsyat bernama, netizen.

Di hadapan kamera, Gus Miftah sering menyeka air matanya. Ia begitu sedih dan menyesali apa yang telah diucapkan. Beberapa kali ia menyebut nama Presiden Prabowo.

Drama ini sebenarnya sudah dimulai sejak babak pertama, bakul es teh dari Magelang. Nama Sunhaji mendadak menjadi selebriti setelah video Gus Miftah bermain-main dengan martabat sang pedagang es teh viral di jagat maya.

Panggung berubah panas. Gus Miftah, seperti seorang pahlawan tersesat, buru-buru bertandang ke Grabag untuk meminta maaf. Dialognya terdengar manis, seperti sinetron Ramadan. Sunhaji memaafkan, air mata meleleh, dan netizen bersorak kecil.

Namun, takdir atau algoritma punya rencana lain. Babak kedua dimulai dengan video lama yang entah dari mana muncul.

Kali ini, lawannya adalah Yati Pesek, seniman senior yang dihormati. Gus Miftah, dalam cuplikan video itu, diduga melontarkan hinaan fisik kepada Yati. Seolah tidak cukup satu insiden, panggung Gus Miftah kini dipenuhi adegan balas dendam netizen yang lebih memukau dari final Liga Champions.

Jika Napoleon pernah berkata, “Aku lebih takut pada satu pena wartawan dari seribu bayonet,” maka bayangkan Napoleon bertemu dengan netizen. Sosok tanpa wajah, tanpa mahkota, namun mampu mengguncang istana dengan hanya ujung jari.

Gus Miftah, seorang tokoh nasional, akhirnya tunduk pada kekuatan viral. Mereka ini, netizen, adalah prajurit tanpa seragam yang memerintah dengan kekuatan scroll, like, comment, dan share.

Apa yang mereka lakukan pada Gus Miftah? Mereka mengolah video, menyulut emosi, dan menyebar komentar yang lebih pedas dari sambal bawang Sunhaji.

Hasilnya? Seorang Utusan Khusus Presiden yang sebelumnya tak tergoyahkan, kini berdiri dengan hati remuk di depan podium, memohon pengunduran diri.

Jika istana adalah benteng, netizen adalah meriam yang tak terlihat, menembakkan amunisi berupa meme dan cuitan sarkas hingga pertahanan runtuh.

Ironi terbesar dari drama ini adalah jabatan Gus Miftah yang seharusnya menjadi lambang kerukunan. Tapi justru dari hinaan kecil, kerukunan itu hancur bak kartu domino yang dijatuhkan satu per satu.

Apa ini bukti bahwa jabatan besar tak selalu mampu melindungi dari ketajaman algoritma? Atau, mungkin ini peringatan bahwa di zaman ini, dosa kecil di masa lalu bisa meledak lebih keras dari petasan Tahun Baru.

Keputusan Gus Miftah mundur mungkin adalah akhir dari satu episode, tapi jelas bukan akhir dari serial ini. Netizen, bak kritikus seni yang tak kenal ampun, akan terus memutar ulang adegan-adegan ini.

Gus Miftah mungkin akan melanjutkan “pembinaan” di panggung-panggung ceramah lain, tapi bayangan Sunhaji dan Yati Pesek akan selalu menjadi latar belakang yang sulit dihapus.

Oh, Gus, panggung sudah ditutup, tapi drama ini akan terus hidup dalam ingatan netizen. Mereka bukan hanya mengguncang istana, mereka mengajarkan bahwa di era digital, rakyat kecil pun bisa menggerakkan dunia dengan satu klik.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Gus Miftah
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

22 jam lalu

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang