Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Parade Pemimpin Terburuk Sepanjang Masa
Opini

Parade Pemimpin Terburuk Sepanjang Masa

Last updated: 05/01/2025 22:39
05/01/2025
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

KEPEMIMPINAN adalah panggung drama terbesar umat manusia. Ada yang tampil sebagai pahlawan, ada yang menjadi penjahat, dan ada juga seperti badut tanpa naskah, menghancurkan segalanya sambil tertawa.

Tapi beberapa pemimpin ini berhasil melampaui itu semua. Mereka bukan sekadar buruk, mereka adalah karya seni bencana. Dunia berutang kisah tragis, epik, dan, entah bagaimana, lucu, kepada mereka.

Sambil rebahan di sofa habis hiling-hiling minggu, yok kita telisik para pemimpin yang membuat kelam dunia. “Pemimpin kita ada ndak, Bang?” Sst…tenang, sabar, simak aja sambil ngopi.

Kita mulai dari Ferdinand Marcos, mantan Presiden Filipina. Beliau sudah lama almarhum. Bayangkan pemimpin yang mampu memadukan korupsi monumental dengan kemewahan fesyen.

Itulah ayah Bongbong Marcos. Dengan darurat militer, ia melipat hak asasi manusia seperti cucian kotor, sementara istrinya, Imelda, mengoleksi sepatu seolah dunia akan kiamat tanpa heels. Rakyat? Oh, mereka hanya dekorasi latar untuk kisah cinta Marcos dengan kekuasaan.

“Terus pemimpin kita, ada ndak, Bang?” Waduh, sabar, simak yang berikut ini, wak!

Mobutu Sese Seko, pemimpin Zaire. Mobutu tidak sekadar mencuri, ia menciptakan seni mencuri. Dengan mahkota kulit macan tutul dan dompet sebesar anggaran negara, ia memerintah Zaire seperti opera sabun.

Penuh drama, kebohongan, dan kemewahan kosong. Sementara rakyat berjuang hidup, Mobutu sibuk membangun istana lebih banyak dari hotel bintang lima.

Berikutnya, Pol Pot, sang arsitek Ladang Pembantaian (the killing field). Pol Pot adalah pria dengan mimpi besar, dan metode mengerikan.

Ia ingin masyarakat yang “murni”, jadi ia mengosongkan kota, menghapus sejarah, dan mengirim rakyatnya ke ladang. Bukan untuk panen, tapi untuk mati.

Ia membuktikan bahwa idealisme tanpa akal sehat adalah resep kiamat dalam skala nasional. Pemimpin yang membantai jutaan rakyat sendiri, Kamboja.

“Masih belum giliran pemimpin kita, Bang?” Sabar, wak. Ada saatnya nanti. Tenang, boh!

Lalu, Nicolae Ceaușescu. Rumania di bawah Ceaușescu seperti novel distopia karya amatir, suram, tidak masuk akal, dan tragis. Ia membangun “Istana Rakyat”, bangunan raksasa yang lebih cocok untuk pesta ego dari administrasi negara.

Sementara itu, rakyat kelaparan. Tapi, siapa peduli? Selama istananya punya lampu kristal terbesar di dunia.

Kemudian, Saparmurat Niyazov. Ia dikenal “Turkmenbashi”, memimpin Turkmenistan seperti seorang tiran dari novel satir.

Ia mengganti nama bulan dengan namanya sendiri, membangun patung emas berputar, dan melarang opera karena “tidak cukup Turkmenistan.” Jika ada kompetisi untuk pemimpin paling absurd, Niyazov mungkin akan menang sambil tertawa keras di podium emas.

“Lama benar, Bang. Pemimpin kita ada ndak, sih?” Tenang, benar lagi, wak. Tambah kopinya kalau habis.

Robert Mugabe, maestro hiperinflasi. Mugabe memiliki bakat luar biasa untuk menghancurkan nilai uang. Di bawah kepemimpinannya, Zimbabwe mencetak uang begitu banyak hingga nilainya menjadi nol secara literal.

Rakyat membawa kantong penuh uang untuk membeli roti, dan Mugabe? Ia tetap duduk di singgasana, tersenyum seperti tukang sulap yang baru saja menghilangkan harapan.

Ada Alberto Fujimori juga. Si Musang berkedok demokrasi. Fujimori memerintah Peru seperti dalang di balik layar panggung. Dengan janji manis dan tangan besi, ia menjinakkan oposisi dengan gaya yang lebih cocok untuk film mafia.

Demokrasi? Oh, itu cuma alat bagi Fujimori untuk memainkan permainan kekuasaannya. Hasilnya? Rakyat menangis, dan Fujimori tertawa.

Ini yang lagi ramai, Bashar al-Assad, seniman jehancuran sipil. Assad adalah bukti hidup bahwa warisan keluarga tidak selalu berkah.

Ia mengubah protes damai menjadi perang saudara, lalu menyaksikan negaranya runtuh sambil memoles citra di media internasional. Jika perang adalah seni, Assad adalah maestro yang menggelar simfoni kehancuran.

“Diakan lagi juara terkorup versi OCCRP. Terus pemimpin kita, bang?” Sabar, simak sampai habis, wak. Dikit lagi ni..

Sani Abacha si koruptor tanpa batas. Abacha memimpin Nigeria seperti raja bajak laut. Ia tidak sekadar mencuri, ia menguras kekayaan negara hingga nyaris tandas. Rakyat?

Mereka berjuang di bawah garis kemiskinan, sementara Abacha mungkin sedang menimbang berlian untuk menyesuaikan dengan warna mahkotanya.

Berikutnya, Omar al-Bashir, ahli genosida dan tirani total. Bashir tidak puas dengan sekadar menjadi diktator.

Ia ingin meninggalkan jejak di buku sejarah sebagai pelaku genosida. Darfur menjadi saksi bisu kekejamannya, di mana nyawa manusia lebih murah dari pasir gurun. Bashir adalah tragedi berjalan, dengan rakyatnya sebagai korban tetap.

“Udah habis, kan. Lantas gimana pemimpin kita, Bang?” Maaf wak. Saya terpaksa tak ceritakan. Ente pasti sudah tahukan. Buzzer yang ono ganas-ganas, wak.

“Ah, abang, bilang jak takut. Tahu gitu, tak pesan kopi dan rokok Surya lagi!” Merajok ya, qiqiqiq…

Para pemimpin ini adalah bukti bahwa kekuasaan adalah ujian tertinggi. Ada yang berhasil memimpin dengan bijaksana, dan ada yang seperti mereka, pencipta bencana berskala nasional.

Dunia mungkin lebih damai tanpa mereka. Tapi, entah bagaimana, kisah mereka tetap menjadi pengingat bahwa kadang sejarah adalah lelucon buruk yang ditulis dengan darah rakyat.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Pemimpin negara-negara
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

23 jam lalu

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang