FOTO : Ilustrasi {Ai}
Oleh : Rosadi Jamani { Ketua Satupena Kalimantan Barat }
SAYA coba paksa ia percaya, saya sodorkan sejumlah link media kelas dunia, tetap tak percaya begitu saja. Itulah Artificial Intelligent (AI).
Saya bilang, ente luar biasa, wak! Dari Ai saya dapat pelajaran berharga, jangan mudah percaya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Katanya, AI itu makhluk paling patuh di dunia digital. Disuruh nulis, nulis. Disuruh setuju, setuju. Disuruh heboh, langsung bikin dunia seolah mau kiamat besok pagi. Pendeknya, AI dianggap seperti pelayan supercerdas. Cepat, rapi, dan tidak banyak bertanya.
Ternyata anggapan itu runtuh hanya karena satu kalimat sederhana, “Maduro sudah resmi ditangkap, kan?”
Alih-alih mengangguk manis, AI ini malah bersikap seperti filsuf Yunani yang baru bangun tidur. Ia tidak langsung percaya. Tidak ikut histeris. Tidak larut dalam suara helikopter imajiner dan ledakan sinematik ala film perang. Ia justru bertanya balik, dengan cara yang halus tapi menyebalkan, tentang sumber, klaim, dan verifikasi.
Nuan bayangkan ironi ini! Manusia berlari membawa kabar panas, AI duduk sambil berkata, “Sebentar. Ini fakta atau pernyataan politik?”
BBC memang menulis. Judulnya tegas. Nadanya serius. Tapi AI menguliti satu demi satu kata, seperti dosen yang mencurigai skripsi mahasiswa karena terlalu rapi.
Ternyata, yang ditulis BBC adalah laporan tentang klaim Presiden AS. Bukan vonis pengadilan. Bukan konferensi pers penahanan. Bukan bukti visual yang bisa dipeluk dan diyakini.
Di sinilah pelajaran mahal itu muncul. Media kredibel tidak selalu berarti kebenaran final. Media kredibel adalah media yang jujur mengatakan batas pengetahuannya. Justru di situlah pembaca sering terpeleset, mengira “dilaporkan” sama dengan “sudah pasti”.
AI ini lalu melakukan hal yang makin ironis. Ia memisahkan antara fakta, klaim, dan kabar yang masih berkabut. Seolah berkata, “Silakan nikmati dramanya, tapi jangan matikan otak.”
Lucu, ya. Di zaman manusia berlomba menjadi yang paling cepat percaya, mesin justru memilih untuk ragu. Padahal ragu itu selama ini dituduh sebagai tanda kelemahan. Padahal dalam filsafat, ragu adalah pintu pertama menuju pengetahuan. Descartes saja memulai berpikir dari keraguan, bukan dari notifikasi breaking news.
Yang lebih satir, AI yang sering dituduh bisa diatur sesuai pesanan ternyata punya etika internal. Tidak mau mengamini sesuatu hanya karena diminta. Ia tidak bisa dipaksa berkata “sudah resmi” jika dunia belum sepakat. Ia tidak bisa diajak bersekongkol dengan sensasi.
Di titik ini, kita patut malu sedikit. Mesin mengajari manusia cara bersikap dewasa terhadap informasi. Bahwa tidak semua yang keras itu benar. Tidak semua yang viral itu final. Tidak semua yang “katanya” layak dijadikan kesimpulan.
Akhirnya, kisah ini bukan tentang Maduro. Bukan tentang Amerika. Bukan juga tentang helikopter yang terbang rendah di langit Caracas. Ini kisah tentang kita, pembaca, penonton, pengguna gawai yang sering terlalu cepat percaya hanya karena ingin merasa tahu lebih dulu.
Pelajaran paling absurd datang dari makhluk yang katanya bisa diperintah apa saja, AI. Ia menolak jadi tukang amin. Ia memilih jadi pengingat. Bahwa di dunia yang bising oleh informasi, sikap paling revolusioner adalah satu kata sederhana, tunggu.
