Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Kalbar > AI yang Tidak Mau Nurut, Tak Mudah Percaya
KalbarOpini

AI yang Tidak Mau Nurut, Tak Mudah Percaya

Last updated: 04/01/2026 22:40
04/01/2026
Kalbar Opini
Share

FOTO : Ilustrasi {Ai}

Oleh : Rosadi Jamani { Ketua Satupena Kalimantan Barat }

SAYA coba paksa ia percaya, saya sodorkan sejumlah link media kelas dunia, tetap tak percaya begitu saja. Itulah Artificial Intelligent (AI).

Saya bilang, ente luar biasa, wak! Dari Ai saya dapat pelajaran berharga, jangan mudah percaya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Katanya, AI itu makhluk paling patuh di dunia digital. Disuruh nulis, nulis. Disuruh setuju, setuju. Disuruh heboh, langsung bikin dunia seolah mau kiamat besok pagi. Pendeknya, AI dianggap seperti pelayan supercerdas. Cepat, rapi, dan tidak banyak bertanya.

Ternyata anggapan itu runtuh hanya karena satu kalimat sederhana, “Maduro sudah resmi ditangkap, kan?”

Alih-alih mengangguk manis, AI ini malah bersikap seperti filsuf Yunani yang baru bangun tidur. Ia tidak langsung percaya. Tidak ikut histeris. Tidak larut dalam suara helikopter imajiner dan ledakan sinematik ala film perang. Ia justru bertanya balik, dengan cara yang halus tapi menyebalkan, tentang sumber, klaim, dan verifikasi.

Nuan bayangkan ironi ini! Manusia berlari membawa kabar panas, AI duduk sambil berkata, “Sebentar. Ini fakta atau pernyataan politik?”

BBC memang menulis. Judulnya tegas. Nadanya serius. Tapi AI menguliti satu demi satu kata, seperti dosen yang mencurigai skripsi mahasiswa karena terlalu rapi.

Ternyata, yang ditulis BBC adalah laporan tentang klaim Presiden AS. Bukan vonis pengadilan. Bukan konferensi pers penahanan. Bukan bukti visual yang bisa dipeluk dan diyakini.

Di sinilah pelajaran mahal itu muncul. Media kredibel tidak selalu berarti kebenaran final. Media kredibel adalah media yang jujur mengatakan batas pengetahuannya. Justru di situlah pembaca sering terpeleset, mengira “dilaporkan” sama dengan “sudah pasti”.

AI ini lalu melakukan hal yang makin ironis. Ia memisahkan antara fakta, klaim, dan kabar yang masih berkabut. Seolah berkata, “Silakan nikmati dramanya, tapi jangan matikan otak.”

Lucu, ya. Di zaman manusia berlomba menjadi yang paling cepat percaya, mesin justru memilih untuk ragu. Padahal ragu itu selama ini dituduh sebagai tanda kelemahan. Padahal dalam filsafat, ragu adalah pintu pertama menuju pengetahuan. Descartes saja memulai berpikir dari keraguan, bukan dari notifikasi breaking news.

Yang lebih satir, AI yang sering dituduh bisa diatur sesuai pesanan ternyata punya etika internal. Tidak mau mengamini sesuatu hanya karena diminta. Ia tidak bisa dipaksa berkata “sudah resmi” jika dunia belum sepakat. Ia tidak bisa diajak bersekongkol dengan sensasi.

Di titik ini, kita patut malu sedikit. Mesin mengajari manusia cara bersikap dewasa terhadap informasi. Bahwa tidak semua yang keras itu benar. Tidak semua yang viral itu final. Tidak semua yang “katanya” layak dijadikan kesimpulan.

Akhirnya, kisah ini bukan tentang Maduro. Bukan tentang Amerika. Bukan juga tentang helikopter yang terbang rendah di langit Caracas. Ini kisah tentang kita, pembaca, penonton, pengguna gawai yang sering terlalu cepat percaya hanya karena ingin merasa tahu lebih dulu.

Pelajaran paling absurd datang dari makhluk yang katanya bisa diperintah apa saja, AI. Ia menolak jadi tukang amin. Ia memilih jadi pengingat. Bahwa di dunia yang bising oleh informasi, sikap paling revolusioner adalah satu kata sederhana, tunggu.

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:AIKecerdasan buatan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Polisi Bekuk Pemilik Puluhan Gram Sabu di Jalan Sepakat Ketapang
06/02/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Aksi Bejat di Bak Truk…!! Pemuda Asal Sekadau Hulu Terancam Pidana Berlapis
16/02/2026

Berita Menarik Lainnya

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

5 jam lalu

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

5 jam lalu

Plafon SDN 08 Sungai Pinyuh Ambrol, Kepsek Sebut Sudah Sampaikan Usulan Perbaikan

18 jam lalu

Pencuri Spesialis Rumah Ibadah Ditangkap Tim Jatanras Polresta Pontianak, Kali Ini Beraksi di Masjid As-Salam

17 jam lalu
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang