Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Netizen Jadi Polisi dan Penegak Hukum Virtual, Apa Itu No Viral, No Justice?
Opini

Netizen Jadi Polisi dan Penegak Hukum Virtual, Apa Itu No Viral, No Justice?

Last updated: 02/11/2024 23:56
02/11/2024
Opini
Share

Oleh : Madeline Margareth Wibisono Fakultas International Bussiness Management
Universitas Ciputra Surabaya

“No Viral, No Justice” telah menjadi jargon yang populer di tahun 2024.
Fenomena ini menggambarkan keyakinan masyarakat bahwa viralitas suatu kasus dapat mendorong aparat penegak hukum bertindak lebih adil dan responsif dalam menangani laporan.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga Indikator pada periode 22-29 September 2024 dengan 1.200 responden dari 11 provinsi besar di Indonesia melalui metode multistage random sampling, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga Polri tercatat sebesar 67%, pengadilan 66%, dan Mahkamah Konstitusi 64%.

Angka ini menunjukkan penurunan kepercayaan yang cukup signifikan.

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi ruang publik di mana reputasi para pejabat hukum dipertaruhkan. Kesalahan atau tindakan yang dinilai kurang bijak dan tertangkap kamera seringkali menjadi sasaran kritik jutaan netizen.

Akibatnya, viralitas menjadi syarat tidak tertulis agar keluhan masyarakat direspons maksimal oleh pihak berwenang. Fenomena ini berakar pada prinsip hukum dalam Konstitusi UUD 1945, yang menjamin hak atas kebebasan komunikasi dan penyampaian informasi, serta Undang-undang HAM Nomor : 39 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk mempunyai, mengeluarkan, dan menyebarluaskan pendapat.”

Sepanjang tahun 2024, beberapa kasus yang menjadi viral mendapat perhatian khusus dan mengalami pemeriksaan kembali karena dianggap tidak memenuhi rasa keadilan publik. Beberapa di antaranya adalah:

1. Kasus Kematian Vina dan Eky di Cirebon
Film Vina: Sebelum 7 Hari menjadi film terlaris kedua di tahun 2024 dengan 5,8 juta penonton.

Film ini mengangkat kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang terjadi pada tahun 2016 di Cirebon, Jawa Barat, yang belum terpecahkan.

Pada kasus ini, delapan tersangka divonis penjara seumur hidup berdasarkan bukti visum. Namun, sejumlah kejanggalan muncul, seperti hasil autopsi yang dipertanyakan, prosedur penangkapan tersangka sebelum pelaporan, penangkapan Pegi Setiawan, serta kesaksian palsu dari Dede.

Saat ini, kasus Vina masih dalam proses sidang Peninjauan Kembali (PK) yang diusulkan oleh para terpidana. Sidang PK keenam berlangsung pada Jumat, 27 September 2024, dan hasilnya masih menunggu putusan Mahkamah Agung.

2. Kasus Ronald Tannur
Gregorius Ronald Tannur menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan dan pembunuhan terhadap Dini Sera, pacarnya.

Kasus ini terjadi pada 4 Oktober 2023 di Lenmarc Mall, Surabaya, di mana Ronald menendang kaki korban hingga jatuh, memukul kepala korban dengan botol minuman keras, dan melindasnya dengan mobil hingga terseret sejauh lima meter.

Ronald kemudian membawa korban ke apartemennya sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Namun, dalam sidang yang dipimpin Erintuah Damanik, Ronald dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari semua tuntutan, dengan alasan kematian korban disebabkan oleh penyakit lain, bukan luka akibat kekerasan.

Keputusan itu menuai kontroversi dan reaksi keras dari masyarakat, yang memprotes melalui media sosial dan memberikan karangan bunga sebagai sindiran kepada para hakim yang membebaskan Ronald.

Akhirnya, Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman penjara lima tahun kepada Ronald setelah terbukti melanggar Pasal 351 Ayat (3) KUHP.

Saat ini, masih berlangsung penyelidikan mengenai dugaan suap dalam kasus ini, di mana salah satu tersangka, termasuk mantan pejabat MA Zarof Ricar, telah ditangkap dengan nilai suap mencapai Rp 920 miliar.

Fenomena No Viral, No Justice pada akhirnya memang berdampak pada percepatan penyelesaian suatu kasus. Video atau informasi elektronik dapat dijadikan bukti hukum yang sah setelah dipastikan validitasnya oleh ahli digital forensik, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat 1 UU ITE.

Namun, masih banyak berita viral yang belum terverifikasi kebenarannya (hoaks), sehingga sebagai pengguna internet yang bijak, kita harus mampu memilah informasi yang valid dan menggunakannya sebagai media edukasi.

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:NitizenNo JusticeNo ViralPolisi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Polisi Bekuk Pemilik Puluhan Gram Sabu di Jalan Sepakat Ketapang
06/02/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

21 jam lalu

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

21 jam lalu

Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi

02/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang