Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Gaza di Antara Damai Palsu dan Neraka
Opini

Gaza di Antara Damai Palsu dan Neraka

Last updated: 27/06/2025 21:29
27/06/2025
Opini
Share

SAAT Donald Trump sukses mendamaikan Iran vs Israel, dunia tepuk tangan. Padahal, ia memulai, ia pula mengakhiri.

Damai memang bisa dicapai oleh “Tom and Jerry,” tidak dengan Gaza Palestina. Usai damai, daerah ini malah dibom lagi. Siapkan lagi kopi tanpa gulanya, wak!

Ketika Iran dan Israel akhirnya menandatangani gencatan senjata, 24 Juni 2025, dunia bernapas lega. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelipkan harapan dalam setiap jeda koma siaran pers mereka. Donald Trump, yang entah bagaimana bisa kembali jadi Presiden, mengangkat dua tangan ke langit dan berkata, “Peace is very close,” seperti nabi-nabi zaman kapitalisme. Dunia pun bersorak. Tapi Gaza? Gaza justru menerima kiriman rudal berikutnya dengan alamat yang tidak pernah keliru, rakyat sipil.

Dalam dunia paralel yang absurd ini, gencatan senjata bukan berarti diam. Ia berarti fokus dialihkan. Gaza menjadi layar utama dengan resolusi tinggi dan ledakan surround stereo 9.1. Sejak 13 Juni, ketika Israel mulai membombardir Iran sebagai bentuk pembuktian testosteron geopolitik, lebih dari 860 warga Palestina di Gaza tewas.

Tapi siapa yang peduli? Karena tampaknya, dalam kamus diplomasi internasional, kata “Palestina” letaknya persis di antara “pengabaian” dan “pengalihan isu.”

Pada 25 Juni saja, dalam satu hari yang tidak terlalu istimewa bagi para pemegang senjata, 78 orang di Gaza menemui ajalnya. Termasuk 33 jiwa yang sedang mengantre bantuan makanan.

Ya, di Gaza, lapar bisa membunuhmu, dan bantuan bisa jadi alasan untuk dirudal. “Weaponized hunger,” kata PBB, ungkapan elegan untuk kenyataan yang biada, membunuh orang bukan karena mereka melawan, tapi karena mereka bertahan hidup.

Gencatan senjata dengan Iran justru membuka lembaran baru penderitaan Gaza. Seperti sepasang kekasih yang berbaikan sambil menendang tetangga. Militer Israel kini kembali fokus, kembali “serius,” dan kembali menyebut perang ini sebagai “operasi pembebasan sandera.” Tapi rakyat Gaza tahu, mereka bukan sandera, mereka cuma figuran tak berdialog dalam drama yang tak pernah mereka pilih.

Qatar dan Mesir sibuk menjadi mak comblang yang mempertemukan dua orang yang saling membenci tapi harus duduk semeja. Trump bilang gencatan senjata di Gaza sudah “sangat dekat,” tapi kita tahu, di kamusnya “dekat” bisa berarti setelah pemilu berikutnya, atau mungkin setelah dunia runtuh.

Sementara para diplomat menulis pernyataan manis dari dalam ruangan ber-AC, di luar sana, anak-anak Gaza menulis surat dengan darah di pasir.

Perdana Menteri Netanyahu kini bukan lagi politisi. Ia lebih mirip gladiator kuno yang haus sorak sorai. Buronan ICC ini baru saja mengalahkan Iran dalam versi diplomasi Hollywood, dan kini Gaza adalah arena gladiatornya. Tidak ada niat mundur, tidak ada niat damai.

Hanya ada “kemauan untuk menyelesaikan,” yang dalam praktiknya berarti lebih banyak tank, lebih banyak drone, lebih banyak keheningan yang pecah oleh dentuman.

Sementara itu, PBB terus membuat laporan yang tak akan dibaca, dan media dunia lebih sibuk meliput siapa menang Grammy. Gaza? Gaza tetap berdiri, atau lebih tepatnya, tetap bertahan dalam puing. Karena Gaza bukan sekadar tempat. Ia adalah ujian bagi siapa pun yang masih mengaku manusia. Sejauh ini, kita semua gagal. Dengan gemilang.

Perang modern bukan soal menang atau kalah. Ini tentang siapa yang paling jago berdalih, paling kuat menekan, dan paling sabar menghadapi hipokrisi global. Gaza menjadi catatan kaki dari perjanjian damai dunia, tempat manusia diuji bukan hanya dengan peluru, tapi dengan ketidakpedulian kolektif.

Di zaman ini, bahkan damai pun bisa jadi senjata. Gaza? Gaza sedang jadi panggung sandiwara dunia, di mana semua aktor sudah lupa naskah, dan penontonnya, hanya bisa menatap dengan air mata dan doa. Saya tidak tahu sampai kapan Israel terus membunuhi warga Gaza.

Dicap genosida pun negeri Yahudi itu tak pernah berhenti menumpahkan darah. Mungkin sampai warga di sana dihabisi semua baru berhenti membunuh. Mungkin orang Israel itu tak pernah ngopi kali, ya..?

 

 

 

 

#camanewak
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Gaza PalestinaIsrael
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Alami Pemadaman Massal, BPM Kalbar Desak Pimpinan PLN Dicopot dan Ancam Gelar Demonstrasi Besar

03/07/2026
Menelisik Bangunan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Dibangun Telan Dana Puluhan Milyar Tapi Tak Ditempati, Ini Penyebabnya
11/07/2026
KANNI Kalbar Desak PLN Transparan Soal Listrik Padam ‘Berjemaah’ di Sanggau hingga Mempawah dan Wilayah Lainnya
03/07/2026
Sengaja Dikunci? Dugaan Kongkalikong Tender Jembatan Sungai Barak Mukok Mencuat..!
28/06/2026
Digantung Tanpa Kejelasan, Puluhan Karyawan PT MJP 1 Sekadau, Tuntut Kepastian Nasib di DPRD Sekadau
07/07/2026

Berita Menarik Lainnya

Prabowo Minta Ia Mundur, Masih Ngeyel Sehari, Akhirnya Febrie Mundur Benaran

11/07/2026

Imbas Brankas Cipete, Polda Jateng Perintahkan Personel Jangan Mau Dipanggil Kejaksaan

10/07/2026

Negeri Ini Butuh Sahrial Abadi, Bukan Para Koruptor

08/07/2026

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap

05/07/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang