Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Terbaru, 20 Siswa SD Keracunan MBG, Prabowo yang di New York Merasa Terusik
Opini

Terbaru, 20 Siswa SD Keracunan MBG, Prabowo yang di New York Merasa Terusik

Last updated: 23/09/2025 20:56
23/09/2025
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi  [ AI ]

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

SAYA setuju MBG, sepanjang memenuhi gizi. Semua setuju soal itu. Nah, bagaimana bila MBG itu justru banyak keracunan.

Terbaru, di provinsi saya sendiri. Saya membayangkan begitu traumannya orang tua siswa melihat anaknya menggelepar. Mari kita ungkap lagi ada apa sebenarnya proyek triliunan ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Senin (23/9/2025) di Ketapang, suasana kelas berubah jadi ruang duka. Dua puluh siswa SD Negeri 12 Benua Kayong diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Enam belas anak terpaksa dirawat intensif di RSUD dr. Agoesdjam, lorong IGD dipenuhi tangisan ibu-ibu yang trauma. “Saya panik, saya takut terjadi apa-apa pada anak saya,” kata Asri Yani, salah satu orang tua korban. Trauma itu nyata: setiap sendok nasi gratis kini terasa penuh tanda tanya.

Menu penyebab keracunan konon adalah nugget hiu dan sayur yang dipanaskan ulang. Kepala sekolah hanya bisa menduga-duga. Tapi bagi para orang tua, dugaan itu terlalu mahal anak-anak mereka harus menanggung sakit di tubuh mungilnya.

Bagaimana mungkin program seharga Rp 71 triliun tega menyajikan makanan yang bahkan tidak lolos logika dasar dapur rumah tangga?

Data nasional semakin bikin perut ikut mual. Hingga 23 September, total korban keracunan MBG sudah mencapai 5.320 pelajar. Bayangkan, ribuan anak sekolah yang seharusnya belajar berhitung, justru sibuk menghitung berapa kali muntah sebelum masuk rumah sakit.

Ironisnya, dari 1.379 dapur MBG, hanya 312 yang menjalankan SOP keamanan pangan. Sisanya? Seperti sayur basi, dibiarkan membusuk tanpa pengawasan.

Presiden Prabowo yang sedang berada di New York pun merasa terusik. Kabarnya, sepulang ke tanah air beliau akan memanggil semua kepala SPPG.

Fokusnya jelas, telur. Satu diceplok, satu direbus. Tidak boleh didadar, tidak boleh diorek-orek. Telur utuh jadi simbol negara hadir. Namun, di Ketapang, ibu-ibu hanya ingin satu hal, bukan telur ceplok, tapi kepastian anak-anak mereka tidak lagi jadi korban.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menolak ide untuk mengubah skema MBG menjadi bantuan tunai. Menurutnya, program ini dirancang lama oleh Presiden Prabowo sebagai bentuk intervensi langsung terhadap gizi anak. “Kalau uang tunai, itu sudah ada BLT dari Kementerian Sosial. Kita tidak ingin melakukan itu,” katanya.

Dadan bahkan mencontohkan kasus di Sumatera Utara, ketika seorang ibu menggunakan dana KIP anaknya bukan untuk sekolah, melainkan untuk kebutuhan lain. Karena itu, menurut Dadan, MBG tidak boleh diganti uang. “Program ini adalah intervensi pemenuhan gizi,” tegasnya.

Masalahnya, intervensi yang dimaksud justru berubah jadi tragedi. Anggaran Rp71 triliun baru terserap 18,6%, namun korban sudah ribuan. Apa arti intervensi kalau anak-anak harus masuk IGD dulu untuk membuktikan negara hadir? Ibu-ibu di Ketapang jelas tidak peduli soal teori intervensi gizi, yang mereka tahu hanya satu: dapur MBG harus dievaluasi menyeluruh, diawasi ketat, dijalankan profesional, bukan sekadar proyek politik bergizi.

Di Senayan, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, malah sibuk membela diri dari tudingan dapur MBG dikuasai anggota dewan. “Yang pasti bukan saya!” katanya. Namun bagi publik, jawaban seperti itu tidak menenangkan. Trauma sudah terlalu dalam.

Maka, tuntutan rakyat kini sederhana namun mendesak, hentikan eksperimen basi ini. Jangan biarkan slogan Makan Bergizi Gratis berubah makna jadi Makan Basi Gratis. Karena bangsa besar bukan diukur dari jumlah jet tempur di angkasa, tapi dari satu piring makan siang anak sekolah yang aman ditelan tanpa drama IGD.

 

 

 

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:MBGSiswa keracunan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kisah Salbiah Pelaku UMKM di Sungai Pinyuh : Dagangan Hampir Habis, Musibah Datang dari Arah Jalan

02/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Menang di Kandang Persipon, Persiwah Mempawah Puncaki Klasemen Grup A
30/01/2026
Polisi Bekuk Pemilik Puluhan Gram Sabu di Jalan Sepakat Ketapang
06/02/2026
Penggeledahan di Air Upas, Polisi Temukan 10 Kantong Sabu
25/01/2026

Berita Menarik Lainnya

Satu Tahun Kerja Pemerintah Kalbar : Krisis Tambang Ilegal dan Masa Depan Ekologi Kalbar

21 jam lalu

Kerja Sunyi Desa, Dibalas Teguran Keras Istana: Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

22/02/2026

Akankah Minat Calon Kades Turun di Tengah Menyempitnya Dana Desa?

22/02/2026

Abu Lahab & Abu Jahal, Duo Oposisi Abadi yang Takut Kehilangan Kursi

20/02/2026

PT. DIMAS GENTA MEDIA
Kompleks Keraton Surya Negara, Jalan Pangeran Mas, No :1, Kel Ilir Kota, Sanggau, Kalbar

0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang