Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Sembilan Peluru dan Sunyi yang Tersisa
Opini

Sembilan Peluru dan Sunyi yang Tersisa

Last updated: 22/11/2024 21:11
22/11/2024
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [Ketua Satupena Kalbar]

MALAM itu, 00.43 WIB. Denting kematian terdengar di parkiran Polres Solok Selatan. Kilat api dari moncong senjata memecah gelap.

Lalu, melubangi sunyi dengan sembilan peluru. Tidak satu, tidak dua. Sembilan. Apa yang dapat lebih menjelaskan kedalaman amarah selain sembilan peluru yang ditembakkan dalam kegelapan?

Tubuh AKP Ulil Riyanto Ashari menjadi saksi bisu tragedi ini. Dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu tepat di kepala, memutus semua kemungkinan percakapan, harapan, dan masa depan.

Dia gugur di tempat yang seharusnya menjadi benteng keadilan. Ironi yang menusuk lebih dalam dari peluru.

Di Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kapolda Sumbar, Irjen Suharyono, berdiri tegar. Namun, wajahnya menyimpan letih. “Senjata dinas,” katanya pelan.

Hanya dua kata, tapi cukup untuk memunculkan sejuta pertanyaan, bagaimana senjata yang seharusnya menjaga, berubah menjadi alat penghancur?

Forensik bicara jujur, tanpa basa-basi. Sembilan peluru itu tidak hanya membawa kematian.

Ia membawa tuduhan. Bukan kepada pelaku semata, tetapi kepada sistem yang mengizinkan ledakan amarah tanpa kendali.

Tujuh peluru lainnya belum ditemukan. Mungkin tertanam di dinding, mungkin berserakan di tempat kejadian, mungkin juga hanya simbol dari kehancuran jiwa manusia.

Forensik akan menemukannya, satu per satu. Tapi luka di hati keluarga korban? Tidak ada ilmu yang bisa memetakan itu.

Dini hari itu menjadi saksi bahwa institusi yang seharusnya menjaga perdamaian malah menelurkan konflik berdarah.

“Parkiran Polres” bukan lagi sekadar tempat, tetapi kuburan martabat.

Apakah peluru kesepuluh diselamatkan untuk ditembakkan ke hati nurani kita? Atau mungkin ia sudah tidak ada, karena hati nurani itu sendiri telah lama mati?

Jenazah itu dibawa ke Makassar, kota kelahirannya. Dalam peti, ia terbaring tenang. Tapi jangan tertipu oleh ketenangan itu. Setiap kayu peti itu seperti mengetuk, “Ada yang harus diubah. Ada yang harus diperbaiki.”

Kepada mereka yang hidup. Dengarkan suara sunyi dari sembilan peluru itu. Ia lebih lantang dari segala orasi dan jargon institusi.

Keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan, jangan biarkan ketiganya ikut mati malam itu. Sembilan peluru sudah cukup. Jangan tambah dengan peluru apatisme kita sendiri.

 

 

 

 

 

#camanewak

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:AKP Ulil Riyanto AshariKasat ReskrimPistol
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

BREAKING NEWS : Pulang Jemput Anak Mengaji, Ibu Muda Tewas Ditabrak

02/06/2026
Bukan Tabrak Lari, Kasus Kecelakaan di Purun Besar Berakhir Damai secara Kekeluargaan
29/05/2026
Diduga Kabur Usai Tabrak Satu Keluarga di Depan RM Tahu Sumedang, Sopir Honda Jazz Dicari Polisi dan Keluarga
28/05/2026
Korban Lakalantas di Jalan Raya Sungai Batang, Sungai Pinyuh Bertambah
03/06/2026
Santriwati yang Hamil tanpa Pernah Gituan, Terungkap, Pelakunya Pengasuh Ponpes
28/05/2026

Berita Menarik Lainnya

Analisis Jaringan Kroni Silmy Karim, Sarang Ular di Tubuh Imigrasi

07/06/2026

Mengapa Harus Don Kancil?

08/06/2026

Geliat Bayang-Bayang Sang Mantan

04/06/2026

Mengenal KH Abdul Karim Fadlun, Predator Enam Anak Kini Jadi Tersangka

29/05/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang