Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > 600 Tahun Berkuasa, Utsmaniyah Tumbang Bukan oleh Musuh, Tapi oleh Zaman
Opini

600 Tahun Berkuasa, Utsmaniyah Tumbang Bukan oleh Musuh, Tapi oleh Zaman

Last updated: 18/01/2026 18:14
18/01/2026
Opini
Share

FOTO : ilustrasi ( Ai)

Oleh : Rosadi Jamani ( Ketua Satupena Kalbar) 

MASIH dalam suasana Peringatan Isra Miraj, kita lanjutkan sejarah peradaban Islam. Sebelumnya saya sudah memaparkan sejarah runtuhnya Dinasti Nasrid di Spanyol, sekarang giliran Dinasti Ottoman atau Utsmaniyah.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Enam ratus tahun lebih Kesultanan Utsmaniyah berdiri, bukan sebagai kerajaan musiman yang naik turun mengikuti tren, melainkan sebagai mesin sejarah lintas benua yang pernah membuat Eropa tidur dengan mata terbuka dan tangan menggenggam rosario.

Ini bukan cerita tentang kerajaan yang kalah perang lalu bubar, melainkan kisah tentang kekuasaan yang terlalu lama menang sampai lupa caranya berubah.

Utsmaniyah lahir bukan dari istana megah, melainkan dari mimpi, secara harfiah. Osman Gazi, penguasa kecil Anatolia, bermimpi tentang rembulan dan pohon raksasa yang menaungi dunia. Tafsirnya sederhana tapi berbahaya, Tuhan memberi izin, tinggal manusia yang mengurus administrasinya.

Dari titik inilah Utsmaniyah unggul sejak awal. Ketika kerajaan lain sibuk mengklaim darah biru dan silsilah suci, Utsmani sibuk membangun negara yang bisa bekerja. Mereka menciptakan tentara tetap bergaji saat dunia masih mengandalkan relawan bermodal nekat, memotong simbol ketergantungan pada Seljuk, mencetak mata uang sendiri, dan mengubah perang dari urusan musiman menjadi profesi.

Romawi Timur, yang merasa dirinya pewaris peradaban agung, perlahan dikunyah bukan karena Utsmani lebih suci, tapi karena lebih rapi. Orhan dan Murad membangun lembaga, bukan sekadar pasukan.

Bursa dan Edirne bukan hanya kota, melainkan pusat eksperimen pemerintahan. Ibu kota dipindah ke Eropa, seolah Murad berkata kepada dunia Kristen, “Kami tidak datang berkunjung, kami pindahan.” Ketika koalisi Balkan datang dengan pasukan besar dan ego lebih besar, mereka kalah oleh disiplin dan struktur. Jumlah kalah, sistem menang.

Mehmed II atau Muhammad Al Fatih lalu melakukan tindakan yang membuat Eropa trauma berabad-abad, Konstantinopel jatuh. Tapi pengetahuan barunya sering dilupakan, Mehmed tidak menghancurkan kota, ia menghidupkannya kembali.

Orang Yunani dipulangkan rumahnya, pedagang Genova diberi jaminan, gereja dilindungi lewat sistem millet. Toleransi Utsmani bukan slogan moral, melainkan kebijakan stabilitas. Negara ini paham satu hal, manusia yang merasa aman jarang memberontak.

Puncak kekuatan datang ketika Selim I dan Sulaiman Kanuni naik panggung. Selim mengubah peta dunia Islam dalam satu generasi. Safawi dipukul, Mamluk ditumbangkan, Mesir, Syam, dan Hijaz masuk Istanbul. Perbendaharaan penuh sampai disegel dan tak pernah terisi penuh lagi selama empat abad, sebuah rekor ekonomi yang sunyi.

Lalu Sulaiman datang dengan hukum, seni, dan meriam sekaligus. Ia tidak mengubah syariah, tapi menertibkan dunia lewat kanun. Ia membuat hukum tahan zaman, arsitektur tahan gempa sejarah, dan administrasi tahan konflik. Pada titik ini, Utsmaniyah bukan sekadar kuat, ia relevan.

Masalahnya, relevansi itu tidak diwariskan, hanya kekuasaan yang diwariskan. Setelah Sulaiman wafat, yang turun-temurun bukan kejeniusannya, melainkan kursinya. Janissari yang dulu mesin profesional berubah jadi serikat kepentingan.

Istana berubah menjadi arena intrik keluarga. Dunia memasuki revolusi industri, sementara Utsmani sibuk mempertahankan tata cara lama sambil berharap dunia ikut berhenti bergerak. Nasionalisme etnis bangkit di Balkan, utang menumpuk, reformasi datang terlambat dan sering setengah sadar.

Di abad ke-20, Kesultanan ini bukan lagi singa, melainkan artefak hidup. Revolusi Turki Muda mencoba memberi napas buatan lewat konstitusi dan parlemen, tapi tubuhnya sudah dipenuhi infeksi. Kudeta, perang Balkan, Perang Dunia I, tragedi kemanusiaan, dan pembagian wilayah. Sultan tinggal simbol sejarah yang menunggu tanda tangan penghapusan. Tahun 1922, kesultanan dicabut. Tahun 1923, republik lahir. Tepuk tangan terdengar di Eropa, sunyi panjang tersisa di Istanbul.

Utsmaniyah tidak runtuh karena kalah satu perang, melainkan karena terlalu lama menang sampai lupa, dunia tidak berjanji menunggu. Ia hancur bukan karena lemah, tetapi karena menua tanpa mau belajar menjadi muda kembali.

Sejarah memberi pelajaran pahit, kekuasaan yang tidak diperbarui akan berubah dari imperium menjadi museum, lengkap, megah, dan tak lagi hidup.

 

 

 

 

 

 

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:karena zamanRuntuhnya
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

15 menit lalu

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang