FOTO : Momen Kades Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Sunarto saat mengantarkan seorang anak yatim berkebutuhan khusus, pada hari pertama masuk sekolah [ SerY TayaN ]
Pewarta/editor : SerY TayaN
SANGGAU – Pagi itu, Senin (13/7/2027), atmosfer Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalbar, diselimuti kabut tipis dan riuh rendah suara anak-anak yang bersiap menyambut hari pertama sekolah.
Lembar Surat Edaran (SE) Pemkab Sanggau tersebar di meja-meja birokrasi, mengimbau para ayah untuk menggandeng tangan darah daging mereka, mengantarnya ke gerbang sekolah.
Namun di sebuah rumah sederhana, seorang anak yatim berkebutuhan khusus menatap seragam merah putih, yang dikenakan waktu dirinya masih mengenyam pendidikan SD, dengan sunyi.
Bagi Fahri Al Hidayat, bocah yang di kampungnya akrab disapa Jumadi, imbauan itu bak belati yang menyentuh ruang rindu. Ayahnya telah tiada. Tidak ada tangan kekar seorang bapak yang akan menepuk pundaknya hari ini, untuk mengusir gugup menjelang masuk ke kelas baru di SMP Ma’arif Mutiara Bangsa, yang terletak di Desa Pedalaman.

Sebelum matahari benar-benar meninggi, deru suara sepeda motor metik sudah berumur, memecah kesunyian halaman rumahnya. Di depan stang, bukanlah seorang asing, melainkan Kepala Desa Pedalaman, Sunarto. Sang pemimpin desa sengaja datang bukan dengan setelan dinas yang kaku, melainkan dengan hati seorang ayah.
“Ayo, Jumadi. Kita berangkat,” ucap pria yang akrab disapa Mas Kades Narto lembut.
Mata bocah berkebutuhan khusus itu seketika berbinar. Ada riak emosi yang tertahan di sudut matanya yang berkaca-kaca. Dengan penuh kehati-hatian, Sang Kades membantu Jumadi naik ke atas motor, memastikan pegangannya kuat, seolah sedang mendekap harapan paling berharga dari desanya.
Sepeda motor itu bergerak membelah jalanan. Di sepanjang aspal yang mereka lalui, Sang Kades terus membisikkan kata-kata penguat, meruntuhkan dinding kecemasan yang sempat menggelayuti dada Jumadi.
Riuh angin pagi menjadi saksi, bahwa meski terlahir dengan keterbatasan dan kehilangan, Jumadi tidak berjalan sendirian. Ia memiliki seorang “ayah” yang melindunginya.
Setibanya di gerbang SMP Ma’arif Mutiara Bangsa, pemandangan mengharukan itu sontak menyedot perhatian.
Sang Kades turun, merapikan kerah seragam dan ikat pinggang Jumadi yang sedikit kusut dan kedodoran, lalu menggandeng tangannya dengan erat. Langkah kaki Jumadi yang mungkin tak sesempurna anak lain, hari itu terasa begitu megah saat melintasi halaman sekolah.
Di hadapan para guru, Sang Kades menyerahkan Jumadi dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Surat edaran hari itu berubah wujud menjadi sebuah aksi kemanusiaan yang mengetuk pintu hati siapa saja.
Kades Pedalaman Sunarto, membuktikan jabatan bukan soal kuasa, melainkan tentang menjadi pelindung bagi mereka yang yatim dan tak berdaya.
“Jumadi adalah anak kita bersama. Keterbatasan fisik dan ketiadaan orang tua tidak boleh menjadi penghalang baginya untuk menatap masa depan,” ucapnya.
” Hari ini saya mengantarnya dengan sepeda motor bukan untuk pencitraan, tapi untuk memastikan ia tahu bahwa dia tidak sendirian. Pemerintah desa hadir, masyarakat hadir, dan kami semua adalah keluarga yang akan mengawal mimpi-mimpinya hingga terwujud di SMP Ma’arif Mutiara Bangsa,” sambungnya.
Hari itu, Jumadi resmi menjadi siswa SMP. Dan di atas jok motor matic pagi tadi, sebuah mimpi besar telah resmi dinyalakan.
”Surat Edaran ini bukan sekadar lembaran kertas instruksi yang habis dibaca lalu diarsip. Bagi saya, ini adalah panggilan nurani. Di desa ini, ada anak-anak kita yang tidak lagi memiliki figur ayah, seperti ananda Jumadi. Jika aturan meminta seorang ayah hadir di hari pertama sekolah, maka sebagai pemimpin, sayalah yang harus berdiri dan menjadi ‘ayah’ bagi anak-anak yatim di desa ini,” pungkas pria yang dikenal dekat dengan berbagai kalangan ini. [ red ]
Publisher : Admin radarkalbar.com
