FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]
KALAU ada keributan hal receh di negeri ini, pasti ada netizen komen begini, “China sudah bikin matahari, kalian masih ribut soal ijazah palsu.” Saya yakin kalian pernah baca komen seperti itu.
Nah, saya mau bahas, apakah benar negeri Panda itu bisa buat matahari buatan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
China memang sedang bikin “matahari”, bukan buat jemur pakaian, tapi lewat mesin bernama Experimental Advanced Superconducting Tokamak, disingkat EAST. Di dunia sains, alat ini dijuluki matahari buatan karena di dalamnya terjadi reaksi fusi, sama seperti yang bikin Matahari asli tetap menyala tanpa PLN.
Cara kerjanya begini, cak! Di dalam mesin tokamak, ada gas yang dipanaskan sampai super panas, namanya plasma. Panasnya bukan panas kopi tubruk, tapi lebih dari 100 juta derajat Celsius. Plasma ini dikurung pakai medan magnet superkuat supaya tidak kabur dan melelehkan mesin. Di dalam plasma itulah inti atom saling tabrakan dan menghasilkan energi. Energi jenis ini disebut energi fusi, energi masa depan yang diidamkan banyak negara.
Supaya energi yang dihasilkan besar, plasma harus dua syarat, panas dan padat. Semakin padat plasmanya, semakin sering tabrakan antar inti atom, semakin besar energi yang keluar. Bahkan secara hitungan ilmiah, energi fusi naik sebanding dengan kuadrat kepadatan plasma. Bahasa warungnya, kepadatan naik dikit, hasilnya bisa melonjak jauh.
Masalahnya, plasma yang terlalu padat itu rawan ribut. Ibarat warkop kepenuhan, sedikit senggol bisa ricuh. Karena itu, para ilmuwan bikin aturan aman bernama batas Greenwald. Selama puluhan tahun, ini dianggap batas maksimal kepadatan plasma biar mesin tetap jinak.
Nah, di sinilah EAST bikin dunia melirik. Dalam eksperimen terbaru, mereka berhasil menjaga plasma tetap stabil pada kepadatan 1,3 sampai 1,65 kali di atas batas Greenwald.
Bukan cuma lewat sebentar, tapi stabil dan terkendali. Ini seperti warung penuh sesak, tapi tidak ada yang berantem, kursi tidak beterbangan, malah semua tetap ngopi dengan tenang.
Triknya, para peneliti EAST memanaskan plasma ekstra sejak awal dan mengatur jumlah gas dengan sangat teliti. Bagian pinggir plasma, yang biasanya paling gampang rusuh, dijaga supaya tidak terlalu dingin atau liar. Mereka juga memperhatikan hubungan plasma dengan dinding reaktor. Plasma itu tidak hidup sendirian, selalu bersentuhan dengan dinding. Kalau hubungan ini diatur baik, plasma dan dinding bisa seimbang, dan batas lama bisa didorong lebih jauh tanpa bikin kacau.
Dampaknya besar. Kalau reaktor bisa jalan di 1,3 kali batas lama, laju reaksi fusi bisa naik lebih dari 30 persen. Kalau sampai 1,65 kali, energi yang dihasilkan bisa naik beberapa kali lipat. Artinya, ke depan, reaktor fusi bisa menghasilkan energi lebih besar tanpa harus bikin mesin makin gede, makin panas, atau makin ribet. Efisien, irit, dan tidak banyak drama.
Tapi jangan keburu mikir besok listrik rumah pakai matahari buatan. Masih banyak PR, plasma harus bisa menyimpan panas lebih lama, dinding reaktor harus super tahan banting, dan biaya risetnya mahal. ITER di Prancis saja, proyek fusi internasional 35 negara, biayanya lebih dari 20 miliar euro dan target operasi penuh sekitar 2035.
China juga bukan sendirian. Amerika Serikat lewat National Ignition Facility pada 2022 berhasil menghasilkan energi fusi lebih besar dari energi yang dimasukkan. Korea Selatan dengan KSTAR menahan plasma 100 juta derajat selama 30 detik. Jepang punya JT-60SA, Rusia dengan Tokamak T-15MD, Inggris dengan STEP, Jerman dengan Wendelstein 7-X.
Nah, bagian yang sering dilupakan di warkop, Indonesia juga ikut main, meski masih di level riset dan kerja sama. Indonesia aktif dalam program ASEAN dan IAEA (International Atomic Energy Agency) untuk membangun ekosistem riset fusi nuklir. Di dalam negeri, riset ini digarap lewat lembaga seperti Batan yang kini terintegrasi dalam BRIN. Kita belum bikin matahari sendiri, tapi kita tidak cuma jadi penonton sambil ngopi.
Jadi, wak, lain kali ada yang nyinyir soal “Cina sudah bikin matahari”, jawab santai saja. Dunia memang sedang serius nyiapkan energi masa depan. Kita mungkin belum di garis depan, tapi kita juga tidak sepenuhnya ketinggalan. Tinggal pilih, mau terus ribut soal hal remeh, atau pelan-pelan ikut paham apa yang sedang dipanaskan umat manusia.
Sebuah pertanyaan, “Apakah Indonesia bisa menjadi negara nuklir?”
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
