Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Mengenal Zeus, Tuhan yang Dulu Disembah, Sekarang Jadi Logo Judi
Opini

Mengenal Zeus, Tuhan yang Dulu Disembah, Sekarang Jadi Logo Judi

Last updated: 07/01/2026 22:18
07/01/2026
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

KARENA kalian sudah pada bahagia, saya mau bicara soal Tuhan. Tepatnya Tuhan Zeus. Tuhan yang tinggal kenangan.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dulu ada Tuhan atau dewa yang disembah dengan jutaan pengikut. Punya kuil besar, ritual sakral, dan legitimasi negara. Ia bukan Tuhan ecek-ecek yang muncul di kolom komentar.

Namanya Zeus. Raja para dewa. Penguasa langit dan petir. Di zamannya, menyebut nama Zeus bukan gaya-gayaan intelektual, tapi perkara hidup dan mati. Petir menyambar, orang langsung sadar diri, itu urusan Tuhan.

Sekitar abad ke-8 hingga ke-5 sebelum Masehi, Zeus berada di puncak karier ketuhanan. Kuil Zeus di Olympia, dibangun sekitar 470–456 SM, berdiri megah seperti pengingat, manusia itu kecil dan sebaiknya tahu diri.

Di dalamnya berdiri Patung Zeus setinggi kurang lebih 12 meter, terbuat dari emas dan gading, karya Phidias, yang kemudian dicatat sebagai salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Olimpiade kuno bukan festival olahraga dan iklan, tapi ritual persembahan. Atlet bersumpah jujur atas nama Zeus. Bohong artinya menantang langit, bukan sekadar kena sanksi panitia.

Zeus bukan Tuhan lokal. Ia disembah lintas polis, dari Athena, Dodona, Nemea, Pergamon. Ia simbol hukum, keadilan, dan keteraturan kosmos. Kalau negara butuh legitimasi, Zeus ada. Kalau manusia butuh makna, Zeus siap. Pokoknya, lengkap.

Lalu datang masalah klasik yang sering menimpa Tuhan-Tuhan besar, kontradiksi internal. Zeus adalah dewa hukum, tapi kisah hidupnya penuh skandal. Ia suka menyamar jadi banteng, angsa, bahkan hujan emas demi menipu manusia. Moralitasnya lebih fleksibel dari tafsir undang-undang.

Para filsuf Yunani mulai gelisah. Plato dan kawan-kawan bertanya, bagaimana mungkin semesta diatur oleh Tuhan yang kelakuannya sering kalah tertib dari warga biasa? Iman mulai bocor dari dalam, pelan tapi konsisten.

Namun yang benar-benar menentukan bukan filsafat, melainkan politik. Ketika Romawi beralih dari paganisme ke Kristen pada abad ke-4 M, terutama setelah Kaisar Theodosius I pada tahun 391 M melarang ritual pagan dan menutup kuil-kuil lama, nasib Zeus selesai. Tidak ada debat teologis terbuka. Tidak ada voting publik.

Negara berpindah Tuhan. Olimpiade dihentikan. Kuil ditutup. Patung Zeus di Olympia akhirnya hancur atau terbakar sekitar abad ke-5 M. Zeus tidak kalah argumen, ia kehilangan kekuasaan pendukung.

Sejak itu, Zeus tidak mati, tapi diturunkan pangkatnya. Dari Tuhan menjadi mitos. Dari objek ibadah menjadi cerita. Dari pusat iman menjadi materi pelajaran. Ketika kapitalisme modern datang membawa kreativitas tanpa batas dan etika fleksibel, Zeus turun lagi satu tingkat, jadi logo judi.

Dewa petir kini dipakai menghiasi mesin slot dan aplikasi taruhan. Petir tak lagi simbol keadilan, tapi jackpot. Raja dewa kini bekerja paruh waktu sebagai brand ambassador keberuntungan.

Di sinilah ironi sejarah menampar tanpa aba-aba. Tuhan yang dulu disembah, kini dipakai. Bukan karena ia palsu, tapi karena manusia berhenti merasa perlu. Tuhan tidak mati karena diserang, tapi karena dilewati.

Atheisme modern tidak membunuh Tuhan dengan pedang, melainkan dengan rasa cukup. Petir dijelaskan sebagai beda potensial listrik. Penyakit urusan laboratorium. Nasib dikelola statistik. Moral diatur konsensus. Tuhan tidak dibantah, hanya dianggap tidak relevan.

Nietzsche pernah berkata, “Tuhan telah mati.” Banyak orang mengira itu deklarasi pembunuhan. Padahal itu laporan forensik. Manusia modern sudah berhenti hidup seolah Tuhan ada. Dalam sejarah, Tuhan yang tak lagi memengaruhi keputusan, moral, dan arah hidup, secara sosial dianggap wafat, meski secara teologis tetap ada.

Ironisnya, manusia yang mengaku tak bertuhan tidak berhenti menyembah. Ia hanya mengganti altar. Dulu berdoa, sekarang menyembah algoritma. Dulu iman, sekarang pasar. Dulu Tuhan, sekarang diri sendiri. Sejarah Zeus membuktikan, Tuhan tanpa iman dan tanpa kekuasaan akan direduksi pelan-pelan, sampai tinggal simbol.

Maka jangan cepat menertawakan Zeus yang kini jadi logo judi. Itu bukan cerita masa lalu yang jauh. Itu cermin. Sejarah sedang berbisik, Tuhan yang hari ini hanya diingat sesekali, suatu hari bisa bernasib sama.

Bersyukurlah jika kalian masih mengingat Tuhan, bukan sebagai hiasan, tapi sebagai pusat makna. Sebab sejarah tidak pernah bertanya siapa Tuhan yang paling benar. Sejarah hanya mencatat siapa yang masih dianggap perlu.

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Logo JudiZeus
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

14 menit lalu

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang