Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam
Opini

Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam

Last updated: 06/04/2025 11:48
06/04/2025
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

MASIH soal tarif bea masuk dari Paman Sam. Setelah membahas upaya China melawan AS, sekarang giliran Vietnam.

Sambil seruput kopi Vietnam, mari kita dalami negeri Nguyen melawan kesombongan Donald Trump.

Vietnam pernah bikin Amerika kocar-kacir. Bukan dalam kontes cosplay atau lomba TikTok, tapi dalam perang beneran. Tentara Vietkong bersembunyi di hutan, makan nasi kepal, dan bikin jebakan yang bisa bikin tentara Amerika nyangkut kayak kabel headset.

Hasilnya? Amerika mundur, pulang, dan sejak saat itu menyimpan satu rasa, dendam nasional berskala emosional.

Tahun demi tahun berlalu. Dunia berubah. Teknologi canggih, TikTok mendunia, dan hubungan internasional mulai membaik. Tapi Amerika? Masih ngambek. Kalau dulu perang pakai senapan, sekarang mereka perang pakai tarif. Vietnam jadi sasaran favorit.

Di antara semua negara ASEAN yang polos, imut, dan penuh harapan, Vietnam dihantam tarif impor tertinggi, 46 persen. Gila..gila..! Ini bukan sekadar angka, ini deklarasi dendam terselubung.

“Kalian menang perang? Sip. Nih, coba ekspor kursi lipat ke kami. Bayar dulu hampir separuh harganya.”

Vietnam? Kaget. Mereka pikir semua sudah baik-baik saja. Bahkan, mereka dengan tulus bilang, “Hei, kami siap kok me-nol-kan tarif untuk barang-barang dari Amerika.

Asal kalian juga sopan, ya, kasih kami tarif ringan juga.” Itu bukan tanda menyerah, itu strategi. Mereka kasih umpan. Kalau ini catur, Vietnam lagi ngorbanin pion buat jebak raja.

Tapi Paman Sam kayaknya masih trauma. Atau mungkin dia pikir, kalau tidak bisa menang pakai peluru, coba pakai pajak. Seolah-olah spreadsheet bisa menebus kehormatan yang hilang di hutan belantara tahun 70-an.

Tentu saja Vietnam tidak tinggal diam. Negara ini punya DNA ngotot. Mereka langsung aktif, mendiversifikasi pasar ekspor, merayu Jepang, menggoda Kanada, dan bersolek di depan Uni Eropa.

Pokoknya siapa pun yang siap nerima barang mereka tanpa drama tarif, langsung disamperin. Amerika dicuekin dulu, biar kangen.

Sementara itu di dalam negeri, Vietnam perkuat industrinya. Mesin-mesin berdentam, pabrik-pabrik disulap jadi benteng produksi. Barang elektronik, tekstil, furnitur, semua disiapkan untuk menghadapi tarif seperti pendekar menghadapi badai.

Kalau itu belum cukup, Vietnam main trik, ubah kode barang, utak-atik label. Bahkan, ganti komponen supaya barang terlihat ‘tidak terlalu Vietnam’ ketika masuk pelabuhan Amerika.

Bayangkan seorang anak muda yang habis diputusin pacar, tapi tetap ngirim kado ulang tahun. Begitulah Vietnam. Tetap baik, tetap berharap, sambil ngebangun masa depan lebih cerah tanpa tergantung pada si mantan.

Sementara itu, meja diplomasi tetap ramai. Vietnam datang dengan senyum tipis dan suara halus, “Kami siap nolkan tarif untuk kalian. Ayo kita kerja sama.” Tapi di dalam hati, mereka menggumam, “Kita lihat siapa yang tertawa terakhir, ya.”

Paman Sam, dengan segala kebesaran dan ego historisnya, mungkin mengira dia masih pegang kendali. Tapi kita tahu, sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang underestimate negara kecil yang hobi bertahan hidup.

Vietnam bukan cuma jago perang gerilya, mereka sekarang juga jago perang dagang.

Jadi, 46 persen? Silakan. Vietnam tetap berdiri. Ekspor tetap jalan. Perjanjian dagang makin banyak. Bahkan sekarang mereka bisa nyengir sambil ngetik invoice. Karena dendam masa lalu boleh jadi belum reda, tapi masa depan selalu milik mereka yang bisa negosiasi sambil ngopi.

“Bang, Indonesia gimanalah?” Ah, sudah ada Pak Probowo memikirkannya. Kita mah bisanya seruput kopi.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:ASDonald TrumpPajakPaman SamVietnam
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

3 jam lalu

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang