FOTO : kondisi unjuk rasa di salah satu kota Iran [ ANTARA ]
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
TADI malam saya mengulas aksi jenius perampok bank di Jerman. Sekarang kita pindah ke Iran. Di negeri para mullah ini, ribuan rakyat sedang menepalkan atau mengguyuk (bahasa Pontianak) pemimpinnya.
Akankah tragedi 1979 terulang? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Iran sedang menulis tragedi epik di atas karpet Persia yang mahal, bermotif singa dan matahari. Sementara asap gas air mata naik seperti dupa di altar kekuasaan. Tahun lalu, langitnya robek oleh bom Amerika dan Israel, dentuman yang membuat menara Azadi bergetar seperti habis dengar kabar duka.
Iran membalas, tentu. Negara tua ini tak pernah lupa caranya menatap tajam sambil menggenggam sejarah. Dunia lalu menggelar sajadah diplomasi, membaca doa “de-eskalasi”, dan semua berpura-pura damai. Tapi seperti samovar tua di sudut rumah, apinya tidak mati. Ia mendidih pelan, sabar, menunggu air meluap.
Belum genap bara itu dingin, Iran disergap musuh paling licin, perut rakyatnya sendiri. Akhir Desember 2025 sampai awal Januari 2026, jalan-jalan dari Teheran, Isfahan, Shiraz, Mashhad, hingga provinsi-provinsi lain berubah menjadi halaman Syahnameh versi modern, tanpa pahlawan berkuda, tapi penuh manusia yang dompetnya kurus.
Nilai rial jatuh ke titik nadir, inflasi menggila, harga kebutuhan melonjak seperti roket yang lupa mendarat. Orang turun ke jalan bukan untuk menggulingkan patung, melainkan untuk menuntut nasi yang tak lagi terjangkau. Ketika nasi mahal, ideologi pun mendadak lapar.
Pemerintah merespons dengan wajah dua sisi, seperti koin tua Persia. Di satu sisi, Presiden mengakui “keluhan sah”, mengajak dialog, seolah berkata, “Kami dengar.” Di sisi lain, aparat bergerak, internet dipelankan, dan garis merah digambar tebal.
Ini teater politik kelas tinggi, mendengarkan sambil menyiapkan borgol. Narasi “tangan asing” dikeluarkan dari museum retorika, AS dan Israel dituding meniup api. Padahal api sebesar ini tak butuh kipas impor. Ia menyala karena dapur rakyat lama tak berasap.
Korban pun berjatuhan, dan angka, yang selalu dingin, menjadi panas. Laporan internasional mencatat setidaknya 6 hingga 7 orang tewas dalam bentrokan, puluhan lainnya ditangkap. Ada warga sipil, ada aparat. Setiap korban adalah bait puisi pahit yang dibacakan di depan rezim, stabilitas itu rapuh bila dibayar dengan nyawa.
Garda Revolusi, IRGC, berdiri seperti benteng kuno Persepolis, berlapis, ideologis, loyal. Temboknya tebal, katanya. Benar. Tapi sejarah Iran tahu satu hal, Persepolis juga pernah terbakar, bukan oleh satu api, melainkan oleh waktu dan kesombongan.
Apakah ini déjà vu 1979, ketika Reza Pahlevi tumbang? Mirip, tapi tidak fotokopi. Dulu ada figur pemersatu, arah jelas, dunia belum secepat kilat. Kini tuntutan terfragmentasi, ekonomi, kebebasan, masa depan, tanpa satu imam revolusi. Namun justru itu yang bikin rezim gelisah.
Revolusi modern tak selalu pakai komando. Ia bisa hadir sebagai kebisingan kolektif yang tak punya tombol mute. Negara boleh mematikan internet, tapi tak bisa mematikan rasa sesak di dada.
Di luar negeri, komentar berdatangan, membuat Teheran menegaskan ini urusan internal. Dunia menonton seperti menyaksikan duel di arena kuno, sambil menghitung risiko. Di dalam negeri, rakyat memainkan peran paling berbahaya, berharap.
Harapan itu seperti karpet Persia yang indah, bila ditarik terlalu keras, seluruh ruangan bisa berubah. Rezim boleh berkata “terkendali”, tapi kata itu sering diucapkan tepat sebelum pintu berderit.
Iran hari ini adalah negeri dengan mahkota sejarah dan sepatu ekonomi yang bocor. Ia kuat, tua, penuh simbol, dari singa dan matahari hingga menara Azadi, namun simbol tak mengenyangkan. Api geopolitik masih menyala, dan kini api domestik ikut membara.
Bila ada pelajaran paling menakutkan dari kisah-kisah lama Persia, itu sederhana, kerajaan jarang runtuh oleh musuh luar. Mereka goyah ketika rakyat berhenti percaya, dan kepercayaan, sekali retak, tak bisa ditambal dengan pidato, sekeras apa pun gema suaranya.
“Jurus rakyat menepalkan pemimpinnya, itu ngeri ya, Bang. Iran tak belajar dari Nepal.”
“Rakyat Iran kalau sudah muak, jurus itulah yang dipakai. Jurus baik-baik, santun, tanpa anarkis, didengar sih, abis itu mereka ngopi, wak.”
Sumber foto: Antara
#camanewak
#jurnaliameyangmenyapa
#JYM
