FOTO : ilustrasi [ ai ]
Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalbar ]
KALIAN pasti kenal Budiman Sudjatmiko. Ya, Budiman itu. Mantan aktivis ’98 yang dulu bikin rezim Orde Baru gatal-gatal. Ia sempat mendekam di penjara, lalu nyasar ke PDIP.
Akhirnya didepak karena nekat dukung Prabowo di Pilpres 2024. Kini beliau menjelma jadi Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
Dari tukang demo jadi tukang inspeksi dapur. Dari melawan senjata aparat ke melawan bakteri. Evolusi ini bukan main, lebih liar dari sinetron stripping 800 episode.
Sekarang ia sudah banyak berubah. Siapa yang tukang demo sekarang? Tentulah para juniornya. Simak lebih dalam lagi sambil seruput Koptagul, wak!
Tanggal 30 Desember 2025, Budiman blusukan ke SPPG Modern Semanggi 02 di Surakarta. Jangan bayangkan dapur sekolah ala kompor gosong dan panci penyok. Ini dapur yang bikin warung pinggir sawah mendadak minder.
Baru seminggu beroperasi, tapi Budiman bolak-balik ke sana, seperti pejabat jatuh cinta pada conveyor belt. Yang ia temukan? Dapur yang katanya paling bersih dan paling inovatif se-Indonesia Raya. Makanan anak sekolah tak lagi diambil pakai sendok trauma masa kecil, tapi diporsikan lewat trailer berjalan otomatis.
Setelah itu, makanan disinari sinar ultraviolet, wak. UV. Biasanya kita dengar UV itu buat skincare mahal, ini buat nasi dan lauk. Bakteri mati, virus KO, gizi tetap aman, rasa tetap waras. Lalu wadahnya disegel rapat, kedap udara, seolah mau dikirim ke stasiun luar angkasa, bukan ke SD negeri.
Petugas dapurnya? Jangan harap bisa masuk sambil pakai sandal jepit. Semua wajib lewat bilik sanitasi, pakai APD dari ujung rambut sampai ujung nasib. Juru masaknya pun bukan kaleng-kaleng. Ada yang berpengalaman di kapal pesiar mewah Eropa.
Jadi jangan kaget kalau suatu hari anak SD pulang sekolah ngomel, “Bu, hari ini lauknya kurang tekstur.” Dari yang dulu cukup tempe orek, kini anak bangsa berkenalan dengan standar internasional.
Budiman tentu saja memuji setinggi langit. Katanya ini harus jadi proyek percontohan nasional. Semua SPPG wajib upgrade. Demi anak-anak Indonesia bebas keracunan dan gizi buruk. Padahal program Makan Bergizi Gratis baru resmi jalan serentak 8 Januari 2026, tapi prototipenya sudah level NASA.
Dulu kita takut anak sekolah kelaparan, sekarang malah takut mereka kebiasaan makan steril, pulang ke rumah ogah menyentuh piring maknya. Kalau semua dapur MBG kayak begini, generasi emas bukan cuma pintar, tapi kinclong, karena yang masuk ke tubuh mereka lebih bersih dari ruang operasi bedah saraf.
Di balik semua kehebohan ini, ada pesan serius yang pelan-pelan nyelip. Pemerintah tampaknya tak mau program makan gratis sekadar jadi proyek kenyang massal. Ini investasi jangka panjang, dengan standar higienis yang selama ini cuma kita lihat di hotel bintang lima atau brosur luar negeri.
Budiman, dengan seluruh riwayat hidupnya yang zig-zag seperti jalan politik negeri ini, kini ngotot menyebarkan revolusi dapur sekolah. Siapa sangka, semangat ’98 berlanjut ke panci dan talenan. Musuhnya bukan lagi rezim, tapi bakteri. Keren? Mungkin. Absurd? Jelas. Tapi setidaknya, “makan siang gratis” kini bukan cuma gratis, melainkan futuristik. Selamat tinggal jorok.
Pergi berdemo membawa poster,
Terik panas tak pernah luntur
Dulu lawan rezim yang otoriter
Kini lawan bakteri di meja dapur.
Ke Surakarta meninjau kasur
Nasi sekolah tampak bersih
Perjuangan kini pindah ke panci dapur,
Melawan gizi buruk, jorok tersisih
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
