FOTO : Anak-anak PAUD saat menyalami Kepala Sekolah PAUD Al Fatimah, Kades Pedalaman, Sunarto dan Ketua Yayasan, Dr Muhammad Faisal [ok]
Pewarta/editor : SerY TayaN
SANGGAU – Suasana penuh semangat bercampur haru menyelimuti hari pertama masuk sekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al Fatimah dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ma’arif Mutiara Bangsa, terletak di Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalbar, Senin (13/7/2026).
Momen yang menandai dimulainya kalender akademik baru ini menjadi ruang apresiasi bagi keterlibatan aktif orang tua, sekaligus kilas balik atas perjuangan panjang dalam merintis lembaga pendidikan di wilayah tersebut.
Hari pertama ini diisi dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pihak sekolah sengaja merancang kegiatan yang edukatif dan menyenangkan agar para siswa baru dapat beradaptasi dengan lingkungan, guru, serta teman-teman baru mereka tanpa rasa cemas.

Kepala Sekolah PAUD Al Fatimah, Susila Rahmi, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para orang tua murid yang telah hadir mendampingi anak-anak mereka.
Menurut Susila, kehadiran fisik dan dukungan moral dari orang tua di hari pertama sekolah sangat krusial bagi perkembangan psikologis anak, terutama dalam melewati masa transisi dari lingkungan rumah ke dunia pertemanan yang baru.
”Melihat antusiasme anak-anak dan ketulusan orang tua yang mendampingi sejak pagi adalah sebuah kebahagiaan bagi kami. Kehadiran orang tua hari ini memberikan rasa aman yang luar biasa bagi anak-anak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bangku sekolah,” ujar Susila Rahmi.
Di balik keceriaan wajah anak-anak didik baru, terdapat sejarah perjuangan yang mendalam terkait berdirinya lembaga pendidikan ini.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Agropolitan Nurul Ma’arif, Dr. Muhammad Faisal, mengungkapkan institusi yang ia pimpin tidak berdiri begitu saja dalam semalam, melainkan lahir dari rahim perjuangan sebuah keluarga.
Pria asal Desa Pedalaman, Tayan ini sempat menceritakan pembentukan sekolah tersebut berawal dari sebuah yayasan keluarga yang sangat sederhana.
Nama “Al Fatimah” yang disematkan pada PAUD tersebut diambil langsung dari nama sang ibu tercinta, Fatimah, sebagai bentuk penghormatan dan dedikasi abadi atas nilai-nilai pendidikan yang diajarkan dalam keluarga.
”Sekolah ini didirikan dengan modal tekad yang kuat untuk mencerdaskan anak bangsa di daerah ini. Kami memulainya dari tingkat yayasan keluarga terkecil. Alhamdulillah, seiring dengan perkembangan zaman dan besarnya kepercayaan masyarakat, PAUD Al Fatimah dan SMP Ma’arif dapat terus tumbuh, berkembang, dan meningkatkan mutu pendidikannya seperti yang kita saksikan hari ini,” kenang Dr. Faisal.
Kehadiran para orang tua, khususnya figur ayah, pada hari pertama sekolah ini ternyata bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan wujud nyata kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah setempat.
Kepala Desa (Kades) Pedalaman, Sunarto, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga yang dinilai sangat responsif terhadap imbauan pemerintah. Kehadiran para ayah yang meluangkan waktu di tengah kesibukan kerja untuk mengantarkan anak ke sekolah dinilai sebagai pemandangan yang sangat positif.
“Kami dari pihak pemerintah desa sangat mengapresiasi partisipasi para orang tua. Ini berkenaan langsung dengan adanya surat edaran dari Pemkab Sanggau yang mengimbau agar para ayah mengantarkan anak mereka di hari pertama masuk sekolah,” jelas Sunarto.
Menurut Sunarto, keterlibatan seorang ayah dalam momentum penting seperti ini merupakan bentuk investasi emosional yang luar biasa bagi masa depan anak. Kebijakan ini dinilai berhasil memperkuat sinergi antara lingkungan keluarga dan institusi pendidikan sejak hari pertama sekolah dimulai.
Hari pertama masuk sekolah ini sepenuhnya difokuskan untuk pelaksanaan MPLS, sebuah masa krusial bagi siswa baru untuk mengenali lingkungan sekolah, sarana prasarana, serta metode pembelajaran yang akan mereka hadapi ke depan.
Tentunya, melalui MPLS yang humanis, PAUD Al Fatimah dan SMP Ma’arif berkomitmen untuk menghapus kesan menakutkan tentang sekolah baru, dan menggantinya dengan ruang belajar yang penuh motivasi, kenyamanan, dan rasa kekeluargaan. [ red ]
