FOTO : Para peserta terlihat antusias menonton Pesta Babi sedang berlangsung di Taman Water Front Mempawah [ ist ]
Pewarta : Tim liputan | Editor/publisher : Admin radarkalbar.com
MEMPAWAH – Ratusan orang menghadiri nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mempawah, berlangsung di Taman Water Front, pada Sabtu (23/5/2026) malam.
Ratusan orang yang hadir itu, merupakan para mahasiswa, pemuda, hingga masyarakat umum di Kota Mempawah dan sekitarnya.
Seperti dilansir mempawahnews.com, sejak awal penayangan film yang mengangkat isu kerusakan alam dan lingkungan di Provinsi Papua itu mendapatkan sambutan antusias dari para peserta nobar.
Kabid Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan HMI Cabang Mempawah, Muslim mengatakan nobar ditujukan untuk membangun kesadaran sosial serta meningkatkan budaya diskusi di kalangan generasi muda.
“Tujuan nobar film Pesta Babi ini bukan hanya sekadar menonton bersama, melainkan ruang refleksi dan edukasi bagi generasi muda agar lebih peka terhadap realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat hari ini,” ungkapnya.
Dijelaskan, HMI Mempawah Melalui Bidang PTKP berkomitmen menghadirkan kegiatan positif yang mampu memperkuat daya kritis mahasiswa dan masyarakat Kabupaten Mempawah.
“Insyaallah pada tanggal 1 Juni nanti, kami kembali melaksanakan nobar Film Pesta Babi Jilid 2 di Sungai Pinyuh tepatnya di kawasan Patoka,” jelasnya.
” Kegiatan ini terbuka untuk umum, dan kami mengajak seluruh masyarakat untuk ikut hadir dan meramaikan acara nobar tersebut,” cetusnya.
Selama rangkaian acara nobar film Pesta Babi di Kota Mempawah berlangsung tertib, aman dan lancar. Bahkan, para peserta nobar memberikan apresiasi.
Sebab, film tersebut memberikan edukasi dan pengetahuan tentang dampak kerusakan alam dan lingkungan akibat proyek pemerintah.
Pada sejumlah daerah, acara nobar film Pesta Babi mendapatkan pertentangan bahkan dibubarkan secara paksa oleh aparat berwenang. Karena, film tersebut dianggap dapat menimbulkan perpecahan dikalangan masyarakat.
Diketahui, film dokumenter Pesta Babi menggambarkan kolonialisme di zaman Kkita kini bisa disaksikan secara gratis oleh seluruh masyarakat Indonesia melalui YouTube.
Karya investigatif berdurasi 95 menit ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.
Secara garis besar, film ini menceritakan situasi masyarakat adat Papua saat ini, dengan kolonialisme sebagai benang merah yang merepresentasikan hampir keseluruhan isi cerita.
Film ini mengangkat isu krusial perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, terutama suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti perkebunan sawit, tebu untuk bioetanol, dan kawasan industri pangan skala besar.
Melalui testimoni warga asli Papua, kamera mengungkap dampak deforestasi, militerisasi, dan konflik agraria yang menyertai klaim “ketahanan pangan” dan “transisi energi”. Dokumenter ini menyoroti isu konflik lahan serta dampak PSN terhadap masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Judul Pesta Babi merujuk pada tradisi adat penting di Papua. Pesta babi bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan ungkapan syukur kepada alam, sarana mendamaikan konflik antar suku, dan simbol persatuan komunitas.
Dalam film, tradisi ini menjadi sebuah metafora kuat. Di satu sisi menunjukkan kekayaan budaya yang terancam, di sisi lain mengkritik “pesta” rakus para pemegang kekuasaan dan korporasi yang membagi tanah adat tanpa persetujuan pemiliknya.
Produksi film ini melibatkan sejumlah organisasi yang selama ini aktif mengadvokasi isu lingkungan dan hak masyarakat adat, seperti Greenpeace, WatchDoc, Yayasan Bentala Pusaka, dan Jubi.id. [ red ]
