FOTO : Meteran sambungan rumah instalasi air bersih di Sukadana [ Rizal ]
Pewarta : Rizal Komarudin | Editor publisher/admin radarkalbar.com
SUKADANA – Efektivitas manfaat proyek Sambungan Rumah (SR) instalasi air bersih yang menelan anggaran milyaran rupiah di Kabupaten Kayong Utara dipertanyakan.
Meski anggaran besar telah digelontorkan pada 2025, warga Sukadana justru masih terjebak dalam krisis air bersih yang berkepanjangan.
Keluhan mencuat dari warga yang merasa pembangunan infrastruktur air bersih tersebut belum memberikan dampak nyata.
Adi, salah seorang warga, mengaku kecewa karena meskipun kini sudah terpasang meteran dan dikenakan biaya bulanan, distribusi air justru macet.
”Lucu kalau kita sering krisis air, padahal sumber air banyak. Secara anggaran pemerintah lebih besar, tapi persoalan tidak kunjung selesai. Sekarang sudah ada meteran, bayar tiap bulan, tapi air tidak ada,” cetus Adi kepada awak media, Sabtu (28/3/2026).
Ia menuding pemerintah daerah “setengah hati” dan salah sasaran dalam solusi teknis. Menurutnya, Kayong Utara seharusnya memprioritaskan pembangunan waduk atau penampung skala besar untuk cadangan musim kemarau, bercermin dari stabilitas distribusi air di Kabupaten tetangga, Ketapang.
Sementara, menanggapi hal tersebut, Kepala UPT Pelayanan Air Bersih Dinas PUPR Kayong Utara, Hermawan, mengakui adanya kendala teknis.
Ia berdalih penurunan debit air akibat musim kemarau menjadi faktor utama distribusi tidak maksimal.
Terkait keluhan meteran yang tetap berputar meski air tidak mengalir (hanya angin), Hermawan tidak menampiknya.
“Itu memang karena angin, kami akui hal itu. Masyarakat bisa mengajukan keringanan atau pembebasan sesuai mekanisme Perbup dengan bukti pendukung,” jelasnya.
Sebagai langkah darurat, pihak UPT menerapkan sistem buka-tutup aliran. Namun, ia mengakui langkah ini belum efektif menjangkau seluruh wilayah.
Untuk solusi jangka panjang, Hermawan mengklaim pemda berencana membangun reservoir dan broncaptering baru guna meningkatkan kapasitas layanan. ( red)
