FOTO : Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kayong Utara, dr. Maria Fransisca Antonelly Schoggers dalam suatu momen bersama para ibu dan anak [ ist ]
Pewarta : Rizal Komarudin | Editor/publisher : admin radarkalbar.com
KAYONG UTARA – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kayong Utara meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan menyusul adanya satu kasus virus hanta yang terkonfirmasi di Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kayong Utara, dr. Maria Fransisca Antonelly Schoggers mengatakan, langkah antisipasi dilakukan guna mencegah potensi penyebaran penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut.
“Langkah yang kami lakukan terkait hal tersebut yakni meningkatkan kewaspadaan dini di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, terutama terhadap kasus demam yang disertai gangguan pernapasan maupun riwayat kontak dengan tikus,” ujarnya saat dikonfirmasi, pada Selasa (12/6/2026).
Selain itu, Dinkes Kayong Utara juga menginstruksikan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memperkuat surveilans epidemiologi serta pelaporan cepat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) apabila ditemukan kasus suspek.
Selain itu, pihaknya turut melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar dan Kementerian Kesehatan terkait perkembangan situasi serta pedoman penanganan terbaru.
Menurut dr Sisca promosi kesehatan kepada masyarakat juga terus diintensifkan, khususnya terkait penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengendalian tikus, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
”Selain itu kami juga memantau potensi faktor risiko lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan tikus tinggi, area pergudangan, pasar, maupun permukiman padat,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Kayong Utara terus memperkuat langkah kewaspadaan melalui penguatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan koordinasi lintas program mulai dari surveilans, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan hingga pelayanan medis.
Selain itu, tenaga kesehatan lingkungan juga melakukan pemantauan terhadap kebersihan lingkungan baik di fasilitas kesehatan maupun di tengah masyarakat guna memastikan area sekitar tetap bersih dan bebas dari potensi sarang tikus.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah gejala yang dapat mengarah pada infeksi virus hanta. Gejala tersebut di antaranya demam tinggi lebih dari dua hari, sesak napas, batuk berat, kondisi tubuh yang lemah, penurunan kesadaran hingga pendarahan internal.
” Masyarakat kita minta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila kondisi semakin memburuk dan tidak membaik dengan pengobatan biasa agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, ” pintanya.
Di sisi lain, dr. Sisca mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus hanta dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan di lingkungan sekitar.
” Masyarakat menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta tidak membiarkan sampah menumpuk yang dapat mengundang tikus datang, ” ungkapnya.
Warga juga diingatkan untuk menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan gudang, loteng, maupun tempat yang berpotensi terdapat kotoran tikus.
”Jangan menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering karena debunya bisa terhirup. Sebaiknya semprotkan disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan, lalu cuci tangan menggunakan sabun setelah selesai membersihkan lingkungan,” katanya.
Dia meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mencurigakan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
”Kami juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Sampai saat ini belum terdapat laporan penularan antarmanusia untuk jenis virus hanta yang ditemukan di Indonesia, yaitu Seoul Virus,” pungkasnya. (red)
