FOTO : ilustrasi ( Ai )
Oleh : Rosadi Jamani ( Ketua Satupena Kalbar)
MUNGKIN terpengaruh kisah perang yang masif, Rusia vs Ukraina, membuat personel Brimob ingin merasakan sensasi perang sungguhan.
Ia pun kabur dari satuan, bahkan negaranya, lalu gabung menjadi tentara Rusia.
Siapkan Koptagul lagi, simak kisahnya wak!
Negara ini sedang sibuk menjaga pagar rumahnya yang panjang dari Miangas sampai Rote, eh, di satu sudut ada cerita yang bikin alis naik sendiri. Seorang Bripda Brimob dari Aceh, namanya Muhammad Rio, tiba-tiba menghilang dari apel. Bukan ke warung kopi, bukan pula ke sawah.
Ia kabarnya memilih jalan ninja paling ekstrem, menukar seragam cokelat dengan seragam salju, lalu berangkat ke Rusia. Kalau ini sinetron, judulnya pasti lebay, Dari Barak ke Donbas. Tapi ini bukan sinetron. Ini kabar yang bikin orang kaget sambil mikir, “Lho, bisa begitu?”
Konon, ceritanya sederhana tapi menggelikan sekaligus menyayat. Desersi. Minggat. Sejak awal Desember 2025, Bripda Rio tak lagi berdinas. Lalu muncullah potongan puzzle yang bikin netizen mendadak jadi analis geopolitik.
Foto dan video beredar, menunjukkan seorang pria Indonesia di wilayah konflik, menyebut-nyebut gaji puluhan juta rupiah per bulan, plus bonus rubel yang kalau dikonversi bisa bikin dompet tepuk tangan. Di negeri yang harga cabai naik-turun, angka-angka itu memang terdengar seperti sihir. Uang berbicara, sumpah diam. Tragis? Iya.
Yang lebih lucu, atau mengerikan, adalah jalurnya. Tak ada rekrutmen resmi dengan spanduk “Dibutuhkan WNI Berani Dingin”. Tidak. Jalurnya adalah jalur sunyi, jalur digital, jalur pesan berantai yang katanya lebih cepat dari birokrasi. Ada yang menyebut kontrak sukarela, ada yang menyebut tentara bayaran, ada yang menyebut PMC.
Nama boleh beda, risikonya sama, nyawa jadi invoice, paspor jadi tiket sekali jalan. Di sini, negara berdiri kaku, menunjuk buku hukum, masuk dinas militer asing tanpa izin presiden, bisa kehilangan kewarganegaraan. Selesai. Formal. Rapi. Dingin.
Polda Aceh bergerak. Rumah didatangi, yang ditemui istri. Sidang etik digelar tanpa terdakwa. Putusan jatuh seperti palu hakim yang tak perlu drama, PTDH. Tamatlah satu karier. Sementara di luar sana, di medan yang namanya saja bikin merinding, seseorang memegang senjata dengan bahasa yang bukan bahasanya, di bawah bendera yang bukan benderanya.
Ironi tingkat dewa, negara yang ditinggalkan justru sibuk memastikan prosedur, sementara yang meninggalkan sibuk memastikan bertahan hidup.
Lalu muncul pertanyaan yang bikin ruang tamu jadi ruang debat, ini satu orang atau fenomena? Jawabannya membuat kita makin gelisah. Sejauh ini, yang terungkap hanyalah kasus-kasus individual. Satu mantan marinir di tahun-tahun sebelumnya, satu Bripda hari ini. Tidak ada data resmi yang bilang “sekian puluh WNI”.
Tidak ada pula pengakuan negara tujuan, mereka merekrut dari Nusantara. Semua menyangkal sambil berkedip. Tapi sejarah mengajari kita satu hal, kalau pintu retak, angin pasti masuk. Angin bernama iming-iming selalu pandai mencari celah.
Di titik ini, konspirasi pun menari. Ada yang bilang ini efek ekonomi global, ada yang menyalahkan algoritma, ada yang berbisik tentang jaringan perekrut. Ada juga yang sinis, ini soal mentalitas instan, ingin lompat jauh tanpa antre.
Semua mungkin benar, semua mungkin salah. Yang pasti, cerita ini memaksa kita bercermin. Ternyata, godaan bukan hanya soal moral, tapi juga matematika. Sering kali, yang kalah duluan adalah logika.
Namun jangan salah, di balik tawa getir dan satire, ada pelajaran yang menampar. Inspirasi itu kadang lahir dari cerita yang pahit. Bahwa sumpah jabatan bukan sekadar kalimat di atas kertas. Bahwa identitas bukan aksesori yang bisa diganti sesuai cuaca.
Bahwa negara, dengan segala kekurangannya, bukan ATM yang bisa ditinggal ketika saldo di tempat lain terlihat lebih menggiurkan. Inspirasi itu bukan untuk meniru, melainkan untuk menguatkan, kalau godaan datang, kita belajar berkata tidak, meski dunia menawarkan rubel.
Kisah ini juga mengingatkan, negara perlu lebih dari sekadar pasal. Perlu perawatan manusia. Perlu mendengar sebelum terlambat. Perlu memastikan, mereka yang berseragam tidak merasa sendirian di tengah tekanan hidup.
Karena kalau tidak, cerita seperti ini akan berulang dengan nama yang berbeda, tempat yang lebih jauh, dan ironi yang lebih tebal.
Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang tak nyaman tapi jujur, ini bukan sekadar kisah satu orang yang “salah pilih jalan”. Ini alarm. Bunyi keras di tengah malam. Mengagetkan. Menyindir. Menampar. Semoga, menginspirasi kita semua untuk memilih tetap tinggal, tinggal setia, tinggal waras, tinggal manusia, di rumah bernama Indonesia, meski dingin rubel kadang terlihat lebih berkilau dari hangatnya merah putih.
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM




