Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Seperti Tak Ada Habisnya, Korupsi Rp193 Triliun
Opini

Seperti Tak Ada Habisnya, Korupsi Rp193 Triliun

Last updated: 26/02/2025 09:34
25/02/2025
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

KORUPSI 300 triliun rasanya masih hangat. Kali ini muncul baru lagi korupsi senilai 193,7 triliun. Ada benarnya, negeri ini sudah dikuasai koruptor.

Selangkah lagi korupsi menjadi kearifan lokal. Sambil menikmati kopi tanpa gula di Satuwatt Jalan Martadinata Pontianak, yok kita bahas para pengkhianat rakyat.

Bayangkan, wak! Rp193,7 triliun. Bukan harga tiket ke bulan. Bukan ongkos beli pulau pribadi. Tapi kerugian negara dari kasus korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pertamina.

Angka ini begitu besar, hingga jika dibagi rata, setiap warga Indonesia bisa dapat Rp7 juta. Cukup untuk beli gorengan seumur hidup. Atau bayar utang cicilan motor. Tapi uang itu lenyap. Menguap. Hilang bak asap knalpot di jalanan Jakarta.

Aturannya jelas. Prioritaskan minyak dalam negeri. Jangan impor dulu kalau lokal masih ada. Tapi apa daya. Aturan hanya secarik kertas. RS, SDS, dan AP, nama-nama yang terdengar seperti kode rahasia agen mata-mata, mengondisikan rapat optimalisasi hilir.

Hasilnya? Produksi kilang diturunkan. Minyak lokal “tidak sesuai spesifikasi.” Lalu, solusinya? Impor! Tentu saja dengan harga selangit. Seolah-olah minyak impor adalah cairan ajaib dari planet lain.

Di sini, broker-broker beraksi bak bintang film laga. MKAR, anak saudagar minyak legendaris Reza Chalid, menjadi salah satu tersangka. Bersama enam orang lainnya, mereka menciptakan simfoni korupsi yang megah.

DW dan GRJ bahkan berkomunikasi langsung untuk mendapatkan harga tinggi meski syarat belum terpenuhi. Ini bukan sekadar transaksi. Ini seni manipulasi tingkat dewa.

Akibat ulah mereka, harga indeks pasar BBM melonjak. Kompensasi dan subsidi membengkak. APBN pun menangis darah. Uang 193,7 triliun digunakan untuk memperkaya segelintir orang. Sementara rakyat harus puas dengan BBM mahal. Ini bukan lagi korupsi. Ini perampokan skala nasional.

Janji Prabowo memberantas korupsi “sampai ke akar-akarnya” mulai terdengar nyata. Tapi apakah ini pertanda baik? Atau justru pertanda bahwa korupsi sudah sedemikian sistematis sehingga sulit dibendung? Entahlah. Yang pasti, ketika korupsi dijadikan seni, kita semua harus bertanya, apakah ini tragedi, atau komedi?

Duit 193,7 triliun. Angka ini lebih besar dari anggaran pendidikan. Lebih besar dari anggaran kesehatan. Bahkan mungkin cukup untuk membiayai eksplorasi luar angkasa. Ini baru perkiraan sementara. Mungkin nanti akan ada revisi Rp200 triliun, Rp300 triliun, atau cukup untuk membeli negara tetangga.

Sementara itu, Prabowo mungkin sedang tertawa geli. Baginya, ini mungkin kemenangan. Tapi bagi rakyat, ini pengingat bahwa perjuangan melawan korupsi masih panjang. Sangat panjang.

Mungkin tidak ada ujungnya. Karena, korupsi sudah mendarah daging. Korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini. Kadang malah bahas korupsi, karena bikin muak.

Tapi, kalau tak disuarakan, makin menjadi-jadi. Serba salah, lebih baik menyaksikan Red Sparks vs GS Caltex, esok.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:KorupsiTak ada habisnya
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kisah Salbiah Pelaku UMKM di Sungai Pinyuh : Dagangan Hampir Habis, Musibah Datang dari Arah Jalan

02/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
11/02/2026
Menang di Kandang Persipon, Persiwah Mempawah Puncaki Klasemen Grup A
30/01/2026
Ngeri….!!! Penyidik Kejati Kalbar Geledah Kantor PT DSM, Perkuat Bukti Dugaan Korupsi Tata Kelola Bauksit Tahun 2017 – 2023
19/01/2026
Polisi Bekuk Pemilik Puluhan Gram Sabu di Jalan Sepakat Ketapang
06/02/2026

Berita Menarik Lainnya

HPN 2026 Banten: Hajatan Nasional atau Panggung Eksklusif Gerombolan Pedagang?

12/02/2026

BBM Bersubsidi Nelayan dan Ujian Integritas Aparat Penegak Hukum

11/02/2026

Lewat Putusan dan e-Court, MA RI 2025 Berkontribusi Puluhan Triliun bagi Negara

12/02/2026

40 Tahun Jadi Muazin Akhirnya Dapat Hadiah Umrah Gratis

09/02/2026

PT. DIMAS GENTA MEDIA
Kompleks Keraton Surya Negara, Jalan Pangeran Mas, No :1, Kel Ilir Kota, Sanggau, Kalbar

0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang