FOTO : ilustrasi (Ai)
Oleh : Rosadi Jamani ( Ketua Satupena Kalimantan Barat)
INI tulisan saya paling jauh, Indonesia terluar, tepatnya di Kepulauan Talaut. Di sana warganya sedang marah besar karena ulah oknum, ya oknum, TNI Angkatan Laut. Siapa pun akan marah bila warga digebukin.
Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di ujung utara peta Indonesia, di tempat sinyal sering menyerah tapi harga diri tidak pernah menyerah, negara sedang diuji. Bukan oleh kapal asing. Bukan oleh intrusi bawah laut.
Bukan pula oleh bayangan kapal selam nuklir yang kini makin ramai dibicarakan para analis. Lokasinya Melonguane, Kepulauan Talaud, wilayah yang jaraknya lebih dekat ke Filipina dari ke pusat pengambilan keputusan di Jakarta.
Di luar sana, dunia sedang tegang. China, diam-diam tapi konsisten, telah melampaui Rusia dalam jumlah kapal selam bertenaga nuklir. Kini Beijing duduk di posisi kedua global, tepat di belakang Amerika Serikat. Keseimbangan penangkal bawah laut di Indo-Pasifik bergeser.
Peta kekuatan berubah. Laut menjadi papan catur raksasa. Semua negara bicara soal strategi, deterrence, dan ancaman senyap dari kedalaman samudra.
Tapi di Talaud, ancaman datang bukan dari bawah laut. Ia datang dari atas geladak.
Malam 22 Januari 2026 seharusnya malam biasa. Pelabuhan Melonguane tenang, laut berkilau, warga bersiap tidur. Namun dari sebuah kapal TNI AL, malam berubah arah. Suara gaduh, tawa keras, nyanyian tak beraturan, botol-botol yang tak semestinya hadir di kapal negara. Pesta kecil, mungkin. Tapi di tempat kecil seperti Talaud, pesta gaduh bukan hiburan. Ia terasa sebagai penghinaan.
Lalu datang seorang guru. Bukan aktivis. Bukan provokator. Bukan ancaman strategis. Hanya seorang guru, profesi yang di republik ini sering diminta sabar, tapi jarang dilindungi. Ia menyampaikan kalimat sederhana, tolong jangan ribut, ini sudah malam. Kalimat yang bahkan di ruang kelas TK pun dianggap wajar.
Ternyata kalimat itu lebih sensitif dari radar kapal selam. Teguran dianggap tantangan. Kritik dianggap serangan. Enam warga dihajar. Ditendang. Dipukul. Termasuk sang guru. Di titik itu, negara tidak sedang menjaga kedaulatan. Negara sedang kehilangan kendali.
Ironisnya tajam. Di saat negara-negara besar sibuk menghitung jumlah kapal selam nuklir dan merancang perang senyap di dasar laut, di beranda utara Indonesia justru terjadi perang kecil antara ego berseragam dan warga sipil tak bersenjata. Kita bicara pertahanan strategis, tapi gagal menjaga etika paling dasar.
Keesokan harinya, Talaud tidak memilih balas dendam. Warga memilih bahasa mereka sendiri. Mereka melepas tambang kapal perang dari dermaga. Tindakan sederhana, simbolik, dan memukul tepat di jantung makna. Dalam budaya pesisir, melepas tambang bukan sekadar melepas tali. Itu pencabutan kepercayaan. Pesan sunyi tapi keras, kapal ini tidak lagi diterima sebagai tamu.
Jumat siang, 23 Januari, ratusan warga bergerak ke Markas Lanal Melonguane. Tanpa senjata. Tanpa api. Mereka membawa suara. Mereka membawa ingatan. Mereka mengingatkan, tentara bukan penguasa pelabuhan, melainkan pelindung warga, termasuk guru yang tugasnya mendidik, bukan menantang senjata.
Permintaan maaf pun keluar. Janji evaluasi diumumkan. Tapi rakyat tahu, permintaan maaf tanpa kejelasan sanksi hanyalah manuver defensif, bukan koreksi serius. Danlanal belum dicopot. Pelaku belum transparan. Namun satu hal sudah jelas, legitimasi moral sudah bocor.
Peristiwa Talaud bukan sekadar insiden mabuk. Ini potret besar bagaimana negara bisa gagap membedakan ancaman strategis dan kritik warga. Kita sibuk memandang jauh ke laut lepas, ke kapal selam nuklir China, ke dominasi Amerika, ke rivalitas global, tapi lalai menjaga hubungan paling dekat, hubungan antara aparat dan rakyatnya sendiri.
Kepulauan Talaud bukan halaman belakang republik. Ia adalah beranda Indo-Pasifik. Melonguane hanya sekitar seratus kilometer dari Mindanao. Miangas bahkan lebih dekat ke Davao dibanding ke Manado. Di wilayah sepenting ini, rasa keadilan seharusnya setebal baja kapal perang.
Talaud sudah berbicara. Dengan tambang yang dilepas. Dengan markas yang dikepung secara bermartabat. Dengan keberanian warga sipil yang memilih berdiri, bukan menyerang. Kita semua seharusnya berdiri bersama mereka.
Karena hari ini yang dipukul adalah guru. Besok bisa siapa saja. Ketika itu terjadi, jangan heran jika rakyat tak hanya melepas tambang kapal, tapi juga tambang kepercayaan pada negara.
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM




