Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Mengapa PSSI Harus Dibubarkan…? Ketika Warisan Penjajah Menjadi Ladang Mafia
Opini

Mengapa PSSI Harus Dibubarkan…? Ketika Warisan Penjajah Menjadi Ladang Mafia

Last updated: 23/10/2025 20:22
22/10/2025
Opini
Share

Oleh : Benz Jono Hartono [ Praktisi Media Massa dan Vice Director Confederation ASEAN Journalis PWI Pusat ]

ADA satu ironi besar dalam sejarah bangsa ini. Dulu, penjajah Belanda memperkenalkan sepak bola ke tanah Hindia Belanda dengan niat “peradaban” sebuah permainan Eropa yang katanya mendidik sportivitas dan disiplin.

Tapi mereka tidak pernah menyangka bahwa permainan itu justru akan menjadi simbol kebangkitan martabat bangsa bumiputra.

Dari lapangan tanah becek kampung, rakyat pribumi menantang dominasi Belanda dengan kaki telanjang. Sepak bola menjadi medan kehormatan, lambang keberanian untuk tidak tunduk.

Namun, seiring waktu, sejarah yang heroik itu justru dijual murah oleh para pewaris bangsa sendiri. Kini, sepak bola Indonesia bukan lagi arena perjuangan rakyat, melainkan arena pertunjukan busuk dari para mafia. PSSI Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang seharusnya menjadi rumah besar olahraga rakyat, berubah menjadi sarang kepentingan pribadi, kongsi judi, dan permainan uang kotor.

Setiap pekan, jutaan rakyat menatap layar televisi dengan harapan sederhana: ingin melihat tim kebanggaannya menang dengan jujur. Tapi di balik sorak sorai tribun, ada transaksi gelap yang mengatur skor, menentukan siapa menang, siapa kalah, bahkan siapa yang harus “disakiti” oleh peluit wasit.

Mafia wasit, mafia skor, mafia judi—semuanya hidup dan beranak-pinak dalam tubuh PSSI yang sudah kehilangan ruh olahraga.

Belanda dulu menyesal memperkenalkan sepak bola, sebab permainan itu membangkitkan kesadaran dan semangat persatuan bangsa jajahannya.

Tapi kini, ironisnya, yang membuat bangsa ini terpecah bukan lagi kolonialisme asing, melainkan kolonialisme moral yang tumbuh di antara pejabat olahraga kita sendiri. PSSI bukan lagi simbol persatuan, melainkan simbol kebusukan yang dilegalkan.

Oleh karena itu, pembubaran PSSI bukan sekadar tuntutan emosional, melainkan kebutuhan moral bangsa. Indonesia membutuhkan lembaga baru, bersih dari kepentingan politik dan uang, lembaga yang mengembalikan sepak bola sebagai olahraga rakyat, bukan industri tipu daya.

Jika dulu sepak bola membangkitkan martabat bangsa, maka hari ini tugas kita adalah membebaskan sepak bola dari para penjajah baru para mafia berkedok patriot olahraga.

Dan satu-satunya jalan menuju kebangkitan itu: bubarkan PSSI, bangun kembali sepak bola Indonesia dari tanah yang bersih.

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Bubarkan PSSIPSSI
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

BREAKING NEWS : Pulang Jemput Anak Mengaji, Ibu Muda Tewas Ditabrak

02/06/2026
Bukan Tabrak Lari, Kasus Kecelakaan di Purun Besar Berakhir Damai secara Kekeluargaan
29/05/2026
Diduga Kabur Usai Tabrak Satu Keluarga di Depan RM Tahu Sumedang, Sopir Honda Jazz Dicari Polisi dan Keluarga
28/05/2026
Korban Lakalantas di Jalan Raya Sungai Batang, Sungai Pinyuh Bertambah
03/06/2026
Betapa Dahsyatnya Film Pesta Babi
24/05/2026

Berita Menarik Lainnya

Geliat Bayang-Bayang Sang Mantan

04/06/2026

Mengenal KH Abdul Karim Fadlun, Predator Enam Anak Kini Jadi Tersangka

29/05/2026

Santriwati yang Hamil tanpa Pernah Gituan, Terungkap, Pelakunya Pengasuh Ponpes

28/05/2026

Ekspor Satu Pintu Jangan Sampai Membuat Petani Sawit Menjadi Korban

27/05/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang