Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Memahami Sikap Jan Hwa Diana
Opini

Memahami Sikap Jan Hwa Diana

Last updated: 20/04/2025 12:33
20/04/2025
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

SEHARIAN tadi netizen +62 mencurahkan amarah pada Jan Hwa Diana. Sekarang, saya mencoba membawa followers memahami dari sisi penguasa asal Surabaya itu.

Sambil seruput kopi americano di Kafe Teduh Jalan Dansen Pontianak, yok kita bahas sambil dengarkan lagu Perfect dari Ed Sheeran.

Kita mulai dari kisah telepon legendaris antara Wakil Walikota Surabaya dan Diana. Wakil sudah berdiri di depan pabrik, gerbang terkunci seperti pintu hati mantan yang trauma. Diteleponlah Diana. Responnya? “Siapa Anda?Jangan-jangan penipu.” Ini bukan sekadar jawaban, ini pernyataan ideologis.

Diana mungkin tumbuh besar dengan prinsip “jangan percaya siapa pun kecuali notaris.” Bisa jadi dia sudah kebal terhadap suara-suara asing yang biasanya menawarkan voucher, MLM, atau hutang.

Lagi pula, siapa yang bisa memastikan itu memang Wakil Walikota? Suara di telepon bisa dimanipulasi. Mungkin Diana hanya waspada, atau… mungkin dia pikir jabatan wakil itu tidak cukup penting dibanding kepala HRD-nya sendiri.

Kemarahan publik makin membara saat Diana bertemu Wakil Menteri Tenaga Kerja. Bayangkan, seorang pejabat negara datang, lalu Diana menyambutnya dengan santai sambil menggenggam HP. Ini bukan sekadar gesture, ini pernyataan level eksistensial.

Diana tampaknya sudah di level “aku sudah tahu solusinya, tinggal tunggu kalian paham.” Atau dalam teori psikologi sosial, ini disebut sebagai desensitisasi otoritas, kondisi di mana seseorang kehilangan rasa takut terhadap simbol-simbol kekuasaan. Biasanya muncul pada orang yang merasa tak tersentuh. Alias, punya beking. Atau punya foto bareng jender

Soal sistem denda yang katanya kejam? Telat kerja didenda. Salat Jumat lebih dari 20 menit didenda. Gak masuk kerja didenda. Cuti juga didenda. Napas terlalu panjang? Mungkin nanti juga didenda. Tapi kita coba bayangkan kemungkinan lain.

Bisa saja karyawan-karyawan Diana adalah kumpulan makhluk penuh alasan, lupa bangun, motor bocor, nenek sakit padahal udah meninggal dari 2004. Denda mungkin bukan alat penindasan, tapi bentuk perlawanan Diana terhadap budaya molor.

Dalam pikirannya, mungkin ini revolusi industri 5.0: pekerja diawasi, waktu dijaga, dan setiap detik berharga. Kapitalisme rasa timer microwave.

Lalu ada isu soal ijazah yang ditahan. Di sinilah Diana benar-benar ditahbiskan sebagai villain nasional. Tapi tunggu dulu. Bisa jadi ini bentuk trauma personal. Mungkin dulu dia terlalu sering ditinggal karyawan. Baru diajarin cara buka mesin, eh besoknya resign.

Maka ijazah dijadikan semacam “jaminan cinta.” Logikanya: “Kau boleh pergi, tapi ijazahmu tetap bersamaku.” Ini bukan kejahatan, ini luka batin yang berubah jadi sistem manajemen sumber daya manusia.

Ada juga yang bilang, Diana tidak takut siapa pun. Netizen ngamuk? Gak goyah. Pejabat marah? Biasa aja. Ormas datang? Masih bisa ngopi. Ini menimbulkan satu spekulasi psikologis menarik, Diana mungkin mengidap Anti-Fear Personality Disorder.

Sebuah kondisi langka di mana seseorang benar-benar tidak peduli pada ancaman eksternal, internal, maupun spiritual. Atau bisa jadi dia punya beking sekuat sinyal BTS, tak terlihat tapi nyata. Kalau dia main game, pasti pilih karakter tank dengan skill kebal semua.

Namun di balik semua keabsurdan ini, ada teori yang layak dipertimbangkan, bisa saja Diana hanyalah puncak dari gunung es industri yang sudah lama beku.

Pabrik lain mungkin sama kejam, tapi lebih pintar bersandiwara. Mereka senyum ke wartawan, traktir ormas, kirim parcel ke pejabat, dan upload CSR di Instagram. Diana? Terlalu polos. Terlalu jujur dalam ketidaksopanannya.

Apakah Diana salah? Mungkin. Apakah dia jahat? Entahlah. Tapi yang jelas, dalam republik absurd ini, yang jujur malah paling mudah dipenjara, dan yang pintar pencitraan bisa ikut seminar antikorupsi sambil bagi-bagi stiker. Maka memahami Diana bukan tentang membela, tapi menyadari, sistem ini sendiri yang bikin dia jadi begitu.

Selamat datang di negeri +62. Silakan denda diri sendiri karena terlalu berharap masuk akal.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Jan Hwa DianaKetua Satupena Kalimantan BaratRosadi Jamani
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kisah Salbiah Pelaku UMKM di Sungai Pinyuh : Dagangan Hampir Habis, Musibah Datang dari Arah Jalan

02/02/2026
Menang di Kandang Persipon, Persiwah Mempawah Puncaki Klasemen Grup A
30/01/2026
Ngeri….!!! Penyidik Kejati Kalbar Geledah Kantor PT DSM, Perkuat Bukti Dugaan Korupsi Tata Kelola Bauksit Tahun 2017 – 2023
19/01/2026
Polisi Bekuk Pemilik Puluhan Gram Sabu di Jalan Sepakat Ketapang
06/02/2026
Penggeledahan di Air Upas, Polisi Temukan 10 Kantong Sabu
25/01/2026

Berita Menarik Lainnya

40 Tahun Jadi Muazin Akhirnya Dapat Hadiah Umrah Gratis

09/02/2026

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

03/02/2026

Trump Ancam, Iran Menggeram, Sekutu Kabur

31/01/2026

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang

26/01/2026

PT. DIMAS GENTA MEDIA
Kompleks Keraton Surya Negara, Jalan Pangeran Mas, No :1, Kel Ilir Kota, Sanggau, Kalbar

0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang