Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Nasional > Biaya Politik Tinggi Dorong Politik Transaksional di Pilkada Langsung, Prof. Albertus Soroti Dampak Demokrasi
Nasional

Biaya Politik Tinggi Dorong Politik Transaksional di Pilkada Langsung, Prof. Albertus Soroti Dampak Demokrasi

Last updated: 16/01/2026 22:01
16/01/2026
Nasional
Share

FOTO : Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si ( ist)

Tim liputan – radarkalbar.com

JAKARTA – Tingginya biaya politik dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung dinilai telah mendorong menguatnya praktik politik transaksional dan berisiko menurunkan kualitas demokrasi lokal.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si.

Pernyataan itu disampaikan Prof. Albertus dalam Simposium Nasional Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) bertajuk “Pilkada dalam Bingkai Demokrasi Pancasila” yang berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2026, di Press Club Indonesia, Kantor Pusat SMSI, Jakarta Pusat.

Menurut Prof. Albertus, persoalan utama dalam Pilkada saat ini bukan semata pada mekanisme pemilihan langsung atau tidak langsung, melainkan pada mahalnya ongkos politik serta lemahnya proses rekrutmen calon kepala daerah.

Ia menilai kontestasi Pilkada kerap didominasi oleh kekuatan modal, sehingga kandidat dengan kemampuan finansial besar lebih mudah memperoleh dukungan politik dibandingkan mereka yang memiliki kapasitas dan integritas kepemimpinan.

“Biaya pencalonan dan kampanye yang tinggi membuat Pilkada rawan menjadi ajang transaksi politik, mulai dari proses penjaringan partai hingga penyelenggaraan pemerintahan setelah terpilih,” ujar Prof. Albertus.

Dia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi melahirkan kebijakan publik yang tidak sepenuhnya berpihak kepada masyarakat, karena kepala daerah terikat pada kepentingan pengembalian biaya politik.

Menanggapi wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD, Prof. Albertus menyatakan bahwa mekanisme tersebut tidak otomatis menghapus praktik politik uang.

Namun, menurutnya, sistem tersebut dapat menekan biaya politik apabila disertai pengawasan yang kuat dan transparan.

“Risiko transaksi tetap ada, tetapi ruangnya lebih terbatas dan lebih mudah dikontrol secara institusional,” katanya.

Dalam paparannya, Prof. Albertus juga menyinggung pengalaman pemilihan kepala daerah melalui DPRD pada masa sebelum reformasi.

Menurutnya meskipun demokrasi saat itu memiliki banyak keterbatasan, terdapat pelajaran penting terkait efisiensi pemerintahan dan stabilitas kebijakan.

Ditegaskan jika wacana tersebut kembali dikaji, maka harus dibarengi dengan reformasi menyeluruh, termasuk penerapan seleksi berbasis merit, keterbukaan proses politik, serta penguatan akuntabilitas DPRD kepada publik.

Simposium Nasional SMSI dibuka oleh Ketua Umum SMSI, Drs. Firdaus, M.Si., yang menekankan pentingnya evaluasi sistem Pilkada agar demokrasi daerah tetap berkualitas dan sejalan dengan nilai-nilai Demokrasi Pancasila.

Forum ini dihadiri akademisi, praktisi media, dan pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya merespons dinamika demokrasi elektoral nasional. ( red)

 

 

 

 

 

Editor/publisher : admin radarkalbar.com

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:DPRDPilkadaSimposium SMSI
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

BREAKING NEWS : Pulang Jemput Anak Mengaji, Ibu Muda Tewas Ditabrak

02/06/2026
Bukan Tabrak Lari, Kasus Kecelakaan di Purun Besar Berakhir Damai secara Kekeluargaan
29/05/2026
Diduga Kabur Usai Tabrak Satu Keluarga di Depan RM Tahu Sumedang, Sopir Honda Jazz Dicari Polisi dan Keluarga
28/05/2026
Korban Lakalantas di Jalan Raya Sungai Batang, Sungai Pinyuh Bertambah
03/06/2026
Santriwati yang Hamil tanpa Pernah Gituan, Terungkap, Pelakunya Pengasuh Ponpes
28/05/2026

Berita Menarik Lainnya

Cetak Sejarah Baru, ABPEDNAS Raih 100 Ribu Anggota Baru

03/06/2026

Dalam Pusaran Dugaan Korupsi PT QSS, Setelah Aseng, Penyidik Tetapkan 4 Tersangka Lagi, Akankah Terus Bertambah?

23/05/2026

SMSI dan ABPEDNAS Jajaki Kolaborasi Nasional, Reda Manthovani : Dukungan Media Sangat Dibutuhkan

21/05/2026

Pemerintah Pastikan Galon Guna Ulang Aman

20/05/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang