FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
SEBELUMNYA saya pernah menulis “Dua Pejabat Tinggi Paling Sayang Istri” Pejabat itu Menteri PU. Saya kira persoalannya tamat mirip Brankas Cipete. Rupanya belum.
Saking sayangnya ia sama istri dan anaknya, sang menteri rela memutasi delapan anak buah ke “ujung dunia.” Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Konon, cinta memang membuat orang rela melakukan apa saja. Ada rela kehujanan, rela begadang demi Prancis vs Spanyol, rela makan mi instan tanggal tua. Tapi level Menteri PU Dody Hanggodo sudah naik ke kasta mitologi birokrasi. Demi menjaga ketenteraman rumah tangga dari badai netizen, kabarnya anak buah justru ikut diterbangkan. Bukan ke New York, melainkan ke berbagai penjuru Nusantara.
Drama ini dimulai setelah dokumen kunjungan kerja ke New York pada 13-19 Juli 2026 bocor ke publik. Di dalam daftar delegasi, muncul nama istri tercinta, Irma Hermawati, dan putri, Aurellia Tsabitha Meidirama. Netizen langsung berubah menjadi detektif dadakan. Final Piala Dunia 2026 yang kebetulan berlangsung di Amerika pun ikut diseret masuk ke ruang sidang media sosial.
Pemerintah tentu punya penjelasan. Sekjen Kementerian PU Apri Artoto menegaskan nama istri dan anak hanya dicantumkan untuk mengurus visa melalui Kementerian Luar Negeri. Biaya ditanggung dana pribadi Menteri. APBN disebut tidak tersentuh. Namun gelombang komentar telanjur seperti banjir kiriman emoji tertawa. Akhirnya Menteri Dody membatalkan keberangkatan ke Amerika.
Selesai? Belum. Justru filmnya baru mulai.
Kementerian PU kemudian membentuk tim investigasi guna mencari siapa yang membocorkan surat dinas itu. Kalau ketahuan berasal dari internal, siap-siap menerima sanksi ringan, sedang, atau berat. Mirip level cabai, tinggal pilih mau pedas yang mana.
Lalu muncullah kabar membuat media sosial kembali nyeruput Koptagul. Sejumlah pegawai senior dikabarkan dimutasi. Ada menuju Maluku Utara, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Kalimantan Utara hingga Surabaya. Ada pula kehilangan jabatan alias non-job.
Nama-namanya pun beredar luas. Tegar Rizkiadi yang sudah 15 tahun menangani kerja sama internasional disebut dipindah ke Maluku Utara. Fransiska Dini ke Papua Barat. Indri Damayanti yang 15 tahun di Humas menuju NTT. Lisniari Munthe yang hampir 17 tahun mengabdi disebut ke Maluku. Wibisono Sularso ke Kalimantan Utara. Daswandi Indra ke Papua Barat. Andika Jaya Arsyadin ke Surabaya. Mereka disebut-sebut berkaitan dengan proses administrasi visa dan surat dinas.
Netizen langsung membuat teori sendiri. “Ini mutasi atau paket wisata ASN Nusantara?”
Pengamat politik Fernando Emas ikut angkat suara. Menurutnya, bila mutasi benar dilakukan karena kebocoran informasi, langkah itu keliru. Kritik publik semestinya dijadikan evaluasi, bukan dibalas dengan kebijakan terkesan represif. Ia juga mengingatkan, perjalanan dinas pejabat merupakan informasi memang layak diketahui masyarakat sebagai bagian dari keterbukaan informasi.
Sementara itu, hingga kini Kementerian PU belum mengeluarkan pernyataan resmi yang membenarkan ataupun membantah rincian mutasi tersebut. So, informasi yang beredar masih bersumber dari unggahan media sosial dan berbagai pemberitaan.
Publik pun kembali mengangguk pelan. “Iya… pasti semua sesuai prosedur.” Di republik Embegia, eh salah, Indonesia, cinta memang luar biasa. Ada rela membelikan bunga. Ada rela membuat puisi. Ada rela menyingkirkan anak buah sendiri demi rumah tangga tetap utuh. Bila perlu jangan lagi melihat mukanya.
Entahlah. Yang pasti, setiap kali muncul kalimat “sesuai prosedur”, rakyat sekarang tidak lagi spontan percaya. Mereka justru spontan mencari colokan untuk mengisi daya ponsel. Sebab mereka tahu, sebentar lagi pasti ada episode berikutnya. Di negeri +62, birokrasi kadang terasa seperti serial tak pernah tamat. Kadang berujung damai itu indah.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalisyangmenyapa
#JYM
