Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Pemimpin dan Keperkasaan yang Runtuh di Tengah Malam
Opini

Pemimpin dan Keperkasaan yang Runtuh di Tengah Malam

Last updated: 12/12/2024 20:28
12/12/2024
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [Ketua Satupena Kalimantan Barat]

KEKUASAAN adalah dongeng yang sering kali berakhir dengan ironi. Mereka yang berkuasa, di atas takhta emas, sering lupa bahwa angin perubahan tak pernah mengenal belas kasih.

Singgasana yang megah hanyalah panggung rapuh, dan di atas panggung itu, pertunjukan sering kali berakhir dalam keheningan malam yang menggigil.

Bashar Al-Assad, raja tanpa mahkota dari tanah Damaskus, akhirnya menyerah pada desakan sejarah. Desember 2024 menjadi saksi ketika ia meninggalkan negeri yang pernah tunduk di bawah bayangannya.

Dua minggu, hanya itu yang dibutuhkan pemberontak untuk meruntuhkan apa yang ia bangun selama dua dekade. Moskow menjadi pelabuhan terakhirnya, jauh dari aroma mawar Damaskus yang kini berlumur abu.

Di tanah delta yang jauh, Sheikh Hasina menemukan bahwa kuota dan keadilan sosial dapat menjadi api yang membakar tenda kekuasaan.

Mahasiswa berteriak, jalanan menyala, dan ia memilih pergi ke India. Dua puluh tahun kepemimpinan menguap dalam semalam, seperti embun yang lenyap sebelum matahari terbit.

Gotabaya Rajapaksa, sang pengendali di Sri Lanka, belajar bahwa kekurangan bahan pokok bisa menjadi musuh yang lebih mematikan daripada oposisi politik.

Ia melarikan diri, berpindah dari Maladewa ke Singapura, sementara rakyatnya lapar dan marah. Di tengah aroma teh dan rempah-rempah yang pernah mengharumkan negerinya, ia menyerah pada takdir yang pahit.

Ashraf Ghani adalah presiden yang larinya lebih cepat daripada kejatuhan ibu kota. Kabul, kota yang ia janjikan akan dijaga, terjatuh ke tangan Taliban dalam hitungan hari.

Tajikistan menjadi perhentian pertama, tetapi bukan yang terakhir. Ia mencari perlindungan di Uni Emirat Arab, meninggalkan rakyatnya dalam kekacauan yang membisu.

Jean-Bertrand Aristide, dari Haiti, hidup dalam pengasingan lebih lama daripada ia memerintah. Ia melarikan diri, dua kali, seperti pelaut yang terombang-ambing di tengah badai. Namun, setiap kepergiannya menanamkan bayangan gelap dalam sejarah negaranya—bayangan yang tak pernah benar-benar hilang.

Pervez Musharraf, sang jenderal besi, akhirnya luluh oleh waktu dan perlawanan. London dan Dubai menjadi tempat pelariannya, jauh dari tanah yang pernah ia kuasai dengan tangan besi. Kematian datang kepadanya di pengasingan, meninggalkan cerita bahwa bahkan baja pun berkarat.

Sadiq Al-Mahdi, pengembara politik dari Sudan, mengerti bahwa eksil adalah harga yang harus dibayar oleh mereka yang bermimpi terlalu tinggi.

Dari negeri asing, ia menyulam perlawanan hingga akhirnya kembali, seperti burung yang pulang ke sarangnya. Namun, pulang tidak pernah sama dengan kembali ke rumah.

Malam yang dingin, angin yang menderu, dan bayang-bayang rakyat yang marah menjadi penutup bagi mereka yang lupa bahwa kekuasaan adalah pinjaman.

Kepada para pemimpin yang merasa tak tergoyahkan, ingatlah bahwa sejarah mencatat semua, bahkan langkah terakhir di jalan yang sunyi. Jangan biarkan nama Anda menjadi epilog dari tragedi yang tak perlu terjadi.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Ketua Satupena Kalimantan BaratRosadi Jamani
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

“Riak” Dalam MI Ma’arif Labschool Sintang Berada di “Titik Didih” Akibat Kisruh Internal, Guru Ancam Mogok Ngajar

30/11/2025
Pertama Kali Terjadi, Kasus Pencurian Mobil Gemparkan Warga Pasir Wan Salim, Pemilik Lapor Polisi
30/11/2025
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
22/11/2025
Pesan Ria Norsan : SMSI Wajib Jadi Guardian of Unity di Ruang Digital
30/11/2025
Tim Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sejumlah Lokasi di Sintang, Terkait Kasus Ini
21/11/2025

Berita Menarik Lainnya

Jangan Panik, Ini Dua Langkah Wajib Sebelum SPT-an di Coretax!

17 jam lalu

Prabowo Benar-benar Ngamuk, Minta Bupati Aceh Selatan Dicopot

08/12/2025

UPA PERADI 2025 Wilayah Yogyakarta Digelar di Fakultas Hukum UGM

06/12/2025

Paradoks Pemkab Mempawah : Prioritas Perbaikan Rumah Dinas atau Kesejahteraan Rakyat?

06/12/2025

PT. DIMAS GENTA MEDIA
Kompleks Keraton Surya Negara, Jalan Pangeran Mas, No :1, Kel Ilir Kota, Sanggau, Kalbar

0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang