FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KEMARIN, istana sangat meraih. Putra-putri terbaik bangsa mengimbarkan bendera pusaka di hadapan seluruh petinggi negeri. Bendera berkibar, pasukan berbaris, dan foto raksasa Prabowo diterjunkan dari pesawat oleh penerjun.
Hari ini sebaliknya, Jakarta juga meriah oleh demo mahasiswa. Teriakan “Tolak MBG dan KDMP” justru menggema.
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Selasa, 18 Agustus 2026, ratusan mahasiswa BEM UI bersama Front Mahasiswa Nasional dan aliansi kampus lain turun ke jalan. Mereka berkumpul sejak pagi di lapangan FISIP UI Depok. Jumlahnya diperkirakan 500-700 mahasiswa.
Mereka mengenakan baju hitam dan jaket kuning. Kalau dilihat sekilas, seperti rombongan hendak menghadiri pemakaman. Bedanya, yang hendak dimakamkan bukan manusia, melainkan sejumlah kebijakan pemerintah.
Mereka membawa delapan tuntutan. Minta dihentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri, hentikan KKN, wujudkan reforma agraria sejati, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi total PSN sekaligus setop MBG dan KDMP. Lalu, mereka juga minta hentikan pemusatan kekuasaan serta pemangkasan Transfer ke Daerah, tetapkan status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores, serta hentikan represivitas TNI-Polri di ruang sipil dan bubarkan YON TP.
Namun ada satu tuntutan yang paling rajin dipukul seperti gong perang. “Tolak MBG! Tolak MBG sekarang juga!”
Lalu menggema, “Tolak MBG, Prabowo-Gibran sudah gagal!”
Waduh. Baru sehari sebelumnya negara memperlihatkan kemerdekaan dengan upacara megah, foto Prabowo segeda gaban diterjunkan dari langit oleh penerjun. Hari berikutnya, mahasiswa menyajikan menu berbeda, kritik panas tanpa nasi.
Mereka bergerak menuju Bundaran HI. Tetapi demokrasi rupanya punya pagar. Di depan Gedung UOB, Jalan Sudirman, polisi menghadang dengan barikade. Mahasiswa berteriak:
“Buka jalannya! Kami cuma mau demo!” Kalimat sederhana, tetapi nadanya seperti rakyat sedang meminta kunci gudang demokrasi entah disimpan di mana.
Adu mulut terjadi. Dorong-dorongan ringan tak terhindarkan. Lagu-lagu sindiran terhadap Prabowo-Gibran berkumandang. Di atas mobil komando, orator termasuk Fatimah Azzahra terus membacakan tuntutan.
Sampai sore, mereka masih bertahan di depan UOB Tower. Di sinilah drama kemerdekaan berubah menjadi komedi satir.
Kemarin langit Jakarta dipenuhi penerjun dan foto raksasa presiden. Hari ini jalan Jakarta dipenuhi mahasiswa yang meneriakkan “Bubarkan MBG!”
Seperti sebuah restoran yang baru selesai memasang spanduk, “Makan Gratis, Semua Kenyang!”
Lalu pelanggan datang membawa pengeras suara, “Chef! Kami tidak pesan ini!”
Ironinya luar biasa. Program MBG dirancang dengan nama terdengar seperti malaikat turun membawa ompreng makanan. Tetapi ketika pelaksanaannya dipersoalkan, nama itu justru ikut diseret ke jalan.
Begitu pula KDMP. Mahasiswa tidak sekadar mempersoalkan makanan. Mereka sedang mempertanyakan arah kebijakan, penggunaan uang negara, pemusatan kekuasaan, harga kebutuhan pokok, PSN, transfer daerah, hingga ruang sipil.
Sebab kemerdekaan bukan cuma soal bendera berkibar di Istana atau foto presiden terjun dari langit. Kemerdekaan juga soal rakyat boleh berkata, “Tunggu dulu. Program ini benar-benar untuk kami atau kami cuma disuruh tepuk tangan?”
Maka 18 Agustus 2026 menjadi babak kedua setelah upacara. Babak pertama berlangsung di Istana, penerjun turun dari langit membawa foto raksasa Prabowo.
Babak kedua berlangsung di Sudirman, mahasiswa turun ke jalan membawa megafon. Di Istana, kemerdekaan dipertontonkan. Di jalan, kemerdekaan dipertanyakan. Sejarah mungkin sedang tertawa kecil melihat adegan absurd ini. Foto presiden bisa diterjunkan dari langit. Tetapi keluhan rakyat tidak bisa dijatuhkan dari pesawat. Ia harus didengar dari jalan.
Barangkali itulah pelajaran paling sederhana setelah upacara kemerdekaan. Negara membawa kebijakan. Mahasiswa membawa megafon. Rakyat membawa keresahan. Pemerintah? Semoga membawa telinga.
Sebab kalau rakyat sudah berteriak sampai serak, yang dibutuhkan bukan mikrofon untuk menjawab. Kadang negara hanya perlu berhenti sebentar, lalu benar-benar mendengarkan.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
