FOTO : Aktivitas pada salah satu gudang kelapa di Bengkayang [ ist ]
Pewarta : Uray Tomi M | Editor/publisher : Admin radarkalbar.com
BENGKAYANG – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak nyata pada sektor pertanian di Kabupaten Bengkayang.
Harga komoditas kelapa dilaporkan terjun bebas akibat terhambatnya rantai ekspor produk turunan kelapa dari Cina ke negara-negara Timur Tengah.
Aan, seorang agen kelapa di Kabupaten Bengkayang, mengungkapkan bahwa selama ini kelapa lokal dipasok ke Cina untuk diolah menjadi tepung kelapa dan briket arang. Produk-produk tersebut kemudian diekspor kembali oleh Cina ke pasar Timur Tengah.
Namun, ketegangan politik di sana membuat pengiriman terhenti.
“Karena ada gejolak di Timur Tengah, stok buah kelapa di Cina menumpuk. Akibatnya, harga beli di tingkat petani langsung anjlok drastis,” ujar Aan saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2026).
Penurunan harga mencapai lebih dari 50 persen. Kelapa kualitas Kelas A yang semula dibanderol Rp6.500 per kilogram, kini hanya dihargai Rp 3.000. Sementara untuk Kelas B, harga merosot dari Rp 4.200 menjadi Rp2.000 per kilogram.
Kondisi ini membuat para petani menjerit. Alian, salah satu pemilik kebun kelapa, mengaku saat ini petani hanya bisa pasrah. Biaya operasional panen dianggap sudah tidak sebanding dengan harga jual.
“Untuk biaya panen saja sudah tinggi. Ongkos panjat pohon itu Rp7.500 per pohon, belum lagi upah mengumpulkan buah Rp200 per butir dan biaya kupas kulit Rp200 per butir,” keluh Alian.
Menurut Alian, klasifikasi Kelas A ditentukan jika berat kelapa mencapai minimal 7 ons, sedangkan di bawah itu masuk kategori Kelas B atau buah pecah.
Di tengah situasi sulit ini, muncul istilah “buah sontor” atau borongan tanpa pilih kelas berdasarkan kesepakatan harga antara penjual dan pembeli agar stok tidak membusuk di kebun. [ red ]
