Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Benarkah Rakyat Indonesia Paling Bahagia di Dunia?
Opini

Benarkah Rakyat Indonesia Paling Bahagia di Dunia?

Last updated: 07/01/2026 22:23
07/01/2026
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

KATA Prabowo, rakyat Indonesia adalah rakyat paling bahagia di dunia. Pernyataan ini bukan hasil polling sambil ngopi di warkop, tapi bersandar pada Global Flourishing Study, riset internasional kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup, melibatkan responden dari hampir 200 negara.

Dalam survei ini, Indonesia mencetak skor kebahagiaan sekitar 8 koma sekian dari 10. Ini tertinggi dalam kategori orang yang melaporkan dirinya merasa bahagia. Angka ini sah, global, dan cukup untuk membuat negara-negara maju mengernyit, “kok bisa?”

Saya yakin kalian yang baca ini sambil seruput Koptagul, orang paling bahagia itu. Benarkan? Lebih jelasnya simak sampai habis narasi ini.

Begitu kabar bahagia ini menyebar, muncullah suara pemalas berijazah filsafat dari balik selimut. “Kalau rakyat Indonesia sudah paling bahagia di dunia, buat apa lagi kerja keras?”

Pertanyaan ini tidak bodoh. Ia malas, tapi jujur. Bukankah kita hidup di dunia untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat? Kalau dunia sudah bahagia, kenapa harus ngos-ngosan? Tinggal jaga kebahagiaan, bukan mengejarnya. Camanewak?

Masalahnya, survei ini tidak menanyakan saldo ATM, harga rumah, atau umur pensiun. Yang ditanya adalah perasaan hidup. Apakah hidup terasa bermakna, apakah masih punya relasi sosial, apakah batin relatif tenang. Jadi yang diukur bukan kerasnya hidup, tapi cara manusia berdamai dengan hidup.

Orang Indonesia, dengan bakat alami menertawakan nasib, menjawab, “ya, saya bahagia,” meski besok tetap bangun subuh dan cicilan belum lunas.

Agar kita tidak langsung mengesahkan Undang-Undang Rebahan Nasional, mari lihat data lain yang jarang dibawa ke panggung pidato, angka bunuh diri. Indonesia pada 2024 mencatat sekitar 4.750 kasus, dengan rasio 1,7 per 100 ribu penduduk.

Angka ini relatif rendah secara global, tapi ada catatan yang bikin dahi berkerut, dalam lima tahun terakhir trennya naik sekitar 60 persen, dan Jawa Tengah mencatat kasus tertinggi, 478 kejadian. Artinya, bahagia ada, tapi tidak merata dan tidak kebal masalah.

Bandingkan dengan negara-negara yang sering disebut “sudah jadi”. Jepang mencatat 20.268 kasus bunuh diri pada 2024, dengan rasio 21,5 per 100 ribu penduduk. Angkanya menurun, tapi pelajar dan perempuan justru makin rentan. Korea Selatan lebih ekstrem lagi.

Dalam enam bulan pertama 2025 saja, tercatat 7.067 kasus, dengan rasio 28,1 per 100 ribu, tertinggi di antara negara OECD. Bunuh diri bahkan menjadi penyebab kematian utama pada usia 40-an dan lansia. Tiongkok menunjukkan tren berbeda, rasio sekitar 6,9 per 100 ribu pada 2025, menurun dari 7,3 pada 2023 dan diproyeksikan terus turun hingga 2028.

Di sinilah ironi global menari-nari. Negara-negara yang sering dijadikan role model kesejahteraan justru punya angka bunuh diri tinggi. Sementara Indonesia, yang gemar mengeluh soal ekonomi dan fasilitas, angkanya lebih rendah. Psikologi menjelaskan ini dengan tenang. Penelitian, termasuk dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menunjukkan, kebahagiaan psikologis berbanding terbalik dengan ideasi bunuh diri.

Semakin kuat rasa makna hidup, hubungan sosial, dan penerimaan diri, semakin kecil kecenderungan ingin mengakhiri hidup. Tapi ini bukan hukum besi. Banyak orang tampak “baik-baik saja” di luar, rajin senyum dan kerja, tapi menyimpan badai di dalam kepala.

Fenomena ini dikenal sebagai paradoks kebahagiaan. Di masyarakat yang menuntut warganya sukses dan bahagia, kegagalan terasa lebih memalukan. Tekanan untuk selalu tampak baik-baik saja membuat orang enggan mencari bantuan. Ditambah stigma kesehatan mental dan ketimpangan sosial yang tersembunyi di balik angka rata-rata, kebahagiaan nasional bisa tinggi, sementara penderitaan personal tetap sunyi.

Sekarang kita masukkan satu data penting lagi agar gambarnya utuh, World Happiness Report. Ini liga utama kebahagiaan global yang disusun berbasis Gallup World Poll, PBB, dan Oxford, dengan indikator seperti dukungan sosial, kebebasan hidup, kesehatan, dan keamanan ekonomi.

Dalam laporan terbaru, negara-negara paling bahagia di dunia masih didominasi oleh Finlandia, Denmark, Islandia, Swedia, Belanda, Norwegia, diselingi Kosta Rika dan Meksiko. Finlandia bahkan sudah bertengger di posisi puncak selama bertahun-tahun berturut-turut.

Di laporan ini, Indonesia tidak berada di papan atas, melainkan di kisaran peringkat 80-an dari sekitar 140-an negara, dengan skor sekitar 5,6–5,7. Artinya apa? Artinya ada dua kebenaran yang hidup berdampingan tanpa saling membatalkan. Dalam satu survei, banyak orang Indonesia merasa bahagia secara subjektif. Dalam survei lain, secara struktural dan objektif, kualitas hidup kita masih biasa-biasa saja.

Maka ketika Prabowo mengatakan rakyat Indonesia paling bahagia, itu bukan klaim bahwa hidup di sini tanpa masalah, apalagi ajakan untuk berhenti kerja keras. Itu cermin yang menunjukkan satu hal penting, di tengah hidup yang belum ideal, banyak orang Indonesia masih menemukan alasan untuk bertahan dan tersenyum. Kebahagiaan di sini bukan euforia, tapi daya tahan.

Kesimpulannya sederhana tapi tidak dangkal. Bahagia bukan alasan untuk malas, tapi modal untuk berjuang. Bahagia di dunia tanpa ikhtiar hanya akan jadi bahagia sebentar. Bahagia di dunia dan akhirat, seperti kata pepatah lama, tetap butuh usaha. Meski, tentu saja, usaha itu sah-sah saja diselingi rebahan.

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Prabowo SubiantoPresiden RIRakyat bahagiaRakyat Indonesia
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Derai Hujan dan Duka Malam Tahun Baru, Pelajar di Mempawah Tewas dalam Laka Lantas

01/01/2026
Jajanan Anak Berujung Duka, Bocah di Sungai Pinyuh Meninggal Dunia
10/01/2026
Ngeri….!!! Penyidik Kejati Kalbar Geledah Kantor PT DSM, Perkuat Bukti Dugaan Korupsi Tata Kelola Bauksit Tahun 2017 – 2023
19/01/2026
Tiga Pria di Delta Pawan Kena Tangkap Polisi, Kasusnya Cukup Berat
07/01/2026
SEMARAK LDII Ketapang, Ruang Tumbuh Generasi Tri Sukses
01/01/2026

Berita Menarik Lainnya

Trump Ancam, Iran Menggeram, Sekutu Kabur

2 jam lalu

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang

26/01/2026

Bos, Jangan Gunakan Kata Syariah Kalau Hanya untuk Menipu Nasabah

25/01/2026

Kemarahan Warga Talaud pada TNI Angkatan Laut, Tambang Kapal Dilepas

25/01/2026

PT. DIMAS GENTA MEDIA
Kompleks Keraton Surya Negara, Jalan Pangeran Mas, No :1, Kel Ilir Kota, Sanggau, Kalbar

0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang