FOTO : Ilustrasi {Ai ]
SAAT saya menulis ada sanstriwati tak pernah pacaran, tak pernah gituan, lalu hamil dan melahirkan, semua menjawab, mustahil. Saya juga begitu.
Sempat pasrah, karena pihak keluarga ingin menutup kasus itu. Namun, Tuhan berkata lain, pelakunya terungkap, diduga kuat seorang kiyai, seorang gus, pengasuh pondok pesantren. Sudah ditangkap polisi. Duh negeriku. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Masih ingat santriwati 22 tahun yang dulu viral itu? Hamil besar, melahirkan, tapi bersumpah tak pernah pacaran, tak pernah berhubungan badan. Publik geger seperti lihat trailer kiamat versi pondok pesantren. Keluarganya sampai yakin itu takdir Tuhan, mukjizat, kisah suci ala zaman modern. Netizen terbelah dua. Ada yang percaya mentah-mentah, ada yang mulai curiga tapi takut ngomong karena khawatir dituduh menghina ulama.
Eh, sekarang kenyataannya nongol seperti tikus got keluar dari saluran mampet.
Nama yang muncul adalah KH. Abdul Halim Fadlun alias Gus Lim. Usianya sekitar 54–55 tahun. Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Padepokan Padang Ati di Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Tempat yang mestinya jadi rumah ilmu agama. Tempat santri belajar Tafsir Jalalain, Shahih Bukhari-Muslim, Ihya Ulumuddin. Tempat orang tua menitipkan anak sambil berdoa, “Ya Allah, jadikan anak kami salehah.”
Tapi menurut laporan polisi, sejak 2008 justru muncul dugaan praktik menjijikkan yang bikin publik ingin muntah berjamaah.
Rabu pagi, 27 Mei 2026, sekitar pukul 06.30 WIB, polisi menangkapnya tepat saat umat Islam bersiap Idul Adha. Timing-nya seperti tamparan langit. Di hari orang bicara pengorbanan dan kesucian, publik malah disuguhi dugaan predator yang bertahun-tahun nyaman bersembunyi di balik sorban.
Sudah enam santriwati melapor. Umurnya 17 sampai 25 tahun. Polisi menduga korban sebenarnya jauh lebih banyak. Bisa puluhan. Kalau dugaan itu benar, berarti selama hampir 18 tahun ada luka yang berjalan diam-diam di lorong pondok sementara masyarakat sibuk memuliakan pelakunya.
Modusnya klasik. Minta dipijat, lalu diduga melakukan pencabulan. Pola basi yang terus muncul di banyak kasus pelecehan berbasis relasi kuasa. Bedanya, ini terjadi di tempat yang katanya benteng moral bangsa. Tempat yang tiap malam dipenuhi suara ngaji. Ironisnya setebal kasur asrama.
Yang paling membuat publik naik darah, salah satu korban diduga adalah santriwati F yang dulu viral dengan “kehamilan misterius”. Jadi semua narasi tentang mukjizat itu akhirnya ambruk seperti triplek kena banjir. Tidak ada bayi turun dari langit. Tidak ada cerita suci. Yang ada justru dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh orang yang selama ini dielu-elukan seperti manusia paling alim sedunia.
Inilah penyakit akut negeri ini, terlalu banyak orang takut mengkritik tokoh agama. Begitu ada gelar “kyai”, akal sehat langsung check out. Korban disuruh diam demi nama baik pondok. Netizen diminta husnuzan sampai level halu. Kadang masyarakat lebih galak pada pembongkar kasus dibanding pada dugaan pelaku.
Padahal kalau lembaga pendidikan sibuk menyapu kotoran ke bawah karpet demi menjaga reputasi, maka karpet itu lama-lama berubah jadi tempat berkembang biak predator.
Kasus ini harus jadi alarm keras buat pondok lain. Jangan merasa aman cuma karena tembok dipenuhi ayat suci dan jadwal ngaji padat dari magrib sampai subuh. Sebab monster paling berbahaya kadang bukan yang bertato dan mabuk di jalanan.
Kadang monster justru berdiri paling depan sambil memegang kitab.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Disclaimer : Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mengikat/mewakili redaksi radarkalbar.com.
