Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Sebuah Cerpen, “Hari Guru yang Tak Terlupakan”
Opini

Sebuah Cerpen, “Hari Guru yang Tak Terlupakan”

Last updated: 25/11/2024 16:59
25/11/2024
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat]

LANGIT Andoolo kelabu, seperti mencerminkan hati Supriyani yang gundah. Ia melangkah perlahan menuju ruang sidang, mengenakan baju kebaya sederhana yang dulu ia jahit sendiri.

Tangan kirinya menggenggam erat sebuah tas usang, tas hadiah murid-muridnya di Hari Guru dua tahun lalu.

Di depan pintu ruang sidang, ia berhenti. “Bu Supriyani, yakin kuat?” tanya Winda, sahabatnya sesama guru, yang mendampinginya sejak awal kasus ini.

“Aku nggak tahu, Win. Aku cuma… aku cuma ingin semua ini selesai,” jawab Supriyani, suaranya gemetar.

Ruang sidang itu seperti gua gelap yang menelannya. Semua mata tertuju padanya, seakan menilai apakah ia pantas disebut guru atau hanya sekadar terdakwa.

Ketua Majelis Hakim membuka sidang. “Terdakwa Supriyani binti Sugiarto, mari kita lanjutkan pembacaan putusan.”

Supriyani menunduk. Rasanya ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa ia tidak bersalah, tapi kata-kata itu selalu tercekat di tenggorokannya.

“Bu Guru,” sebuah suara kecil tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Supriyani menoleh. Di sudut ruangan, seorang bocah laki-laki berdiri, mengenakan seragam sekolah. Itu Aldi, salah satu muridnya.

Aldi melambaikan tangannya, menyemangati. “Bu Guru, saya percaya Ibu baik. Jangan takut ya!”

Air mata Supriyani menggenang. Ia tersenyum kecil, lalu menunduk lagi, menggigit bibir agar tangisnya tidak pecah.

Hakim mulai membacakan putusan. “Setelah menimbang semua fakta dan bukti di persidangan…”

Ruang itu terasa sunyi. Detik jam di dinding seperti pukulan keras di dada Supriyani.

“…Menyatakan terdakwa Supriyani binti Sugiarto tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah.”

Suasana hening sesaat. Kalimat berikutnya menggema.

“…Membebaskan terdakwa dari semua dakwaan.”

Supriyani membeku. Hatinya kosong. Ia bahkan tak percaya apa yang baru saja didengarnya.

“Bu Supriyani, kita menang!” bisik Winda sambil mengguncang bahunya.

Supriyani tiba-tiba menangis keras. Ia jatuh berlutut di lantai, menangis seperti anak kecil yang kehilangan, lalu menemukan kembali harapan.

“Kenapa saya harus melalui ini semua, Win? Kenapa? Apa salah saya sampai dituduh seperti ini?” isaknya di tengah keheningan.

Winda memeluknya erat. “Sudah selesai, Bu. Sudah selesai.”

Guru-guru lain yang hadir menghambur memeluk Supriyani. “Kami tahu kamu nggak bersalah. Kami selalu percaya, Supri!” ujar salah satu dari mereka.

Ketua Majelis Hakim menambahkan. “Kami memulihkan nama baik terdakwa, kedudukan, serta martabatnya. Saudari Supriyani, Anda adalah seorang guru. Tugas Anda mulia. Kembali dan didik anak-anak dengan cinta.”

Saat Supriyani keluar dari ruang sidang, ia dikejutkan oleh pemandangan di luar. Murid-muridnya berdiri berbaris, memegang bunga plastik dan kertas warna-warni yang mereka buat sendiri.

“Bu Guru!” Aldi berteriak paling keras, berlari menghampirinya. Ia menyerahkan bunga plastik berwarna kuning. “Kami selalu percaya Ibu baik.”

Supriyani memeluk Aldi, menangis keras di bahunya. “Kalian percaya, ya? Meski semua orang nggak percaya sama Bu Guru?”

“Iya, Bu. Kalau nggak ada Ibu, saya nggak akan suka belajar. Ibu itu pahlawan saya,” kata Aldi dengan suara polos.

Para murid ikut memeluk Supriyani. Guru-guru dan wali murid yang datang ikut terisak. Di tengah kerumunan, seorang ibu mendekati Supriyani. Itu ibu dari anak yang sempat dituduhkan jadi korban.

“Saya salah, Bu Supriyani,” katanya dengan suara bergetar. “Anak saya sudah cerita… itu semua cuma salah paham. Saya… saya terlalu emosi. Maafkan saya.”

Supriyani menatapnya lama, air matanya terus mengalir. Tapi ia tersenyum. “Saya sudah memaafkan sejak awal, Bu. Saya hanya ingin bisa mengajar lagi. Saya hanya ingin murid-murid saya bahagia.”

Langit Andoolo yang kelabu berubah cerah. Matahari malu-malu menampakkan diri. Hari Guru kali ini adalah yang paling tak terlupakan bagi Supriyani. Bukan karena hadiah, tetapi karena keadilan akhirnya berpihak padanya.

Ia berjalan pulang dengan kepala tegak. Hatinya remuk, tapi ia tahu, ia telah menang. Ia telah menyelamatkan apa yang paling ia cintai, anak-anak didiknya, harapan masa depan.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Hari GuruSiswaSupriyani
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Bertahun-tahun Gelap, Warga Dusun Pangkalan Makmur Kini Terang Benderang Berkat Swadaya dan Donatur

30/03/2026
Sikapi Isu “Pungli” di Imigrasi Entikong, Pengamat Hukum Desak Audit Investigatif Menyeluruh
29/03/2026
Kejari Singkawang Selidiki Alur Dana Hibah PSDKU Polnep, Mantan Direktur Dipanggil
08/04/2026
Keluarga Pasien Keluhkan Layanan RSUD MTh Djaman Sanggau, Soroti Prosedur Medis dan Administrasi BPJS
20/04/2026
Tuntut Keadilan dari “Raksasa”, Warga Kubu Raya Kirim Surat Terbuka ke Presiden Prabowo
15/04/2026

Berita Menarik Lainnya

VinFast Mobil Listrik Asal Vietnam Mogok Sebabkan 7 Tewas

8 jam lalu

Akhirnya Gubernur Kaltim Memecat Adiknya, Hijrah Mas’ud

27/04/2026

Mengenal Ustaz Al Misry, Juri Hafiz Quran Jadi Tersangka Kekerasan Seksual

26/04/2026

Saat Mahasiswa Disadarkan oleh Bank Indonesia

24/04/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang