FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KITA kawal terus demo rakyat Kaltim sampai tuntas. Mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi. Tapi, abang adik itu menutup pintu. Rakyatnya dihadapkan dengan aparat dan kawat berduri.
Mental pengecut
Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ini bukan lagi soal demo. Ini soal harga diri rakyat yang diinjak pelan-pelan, lalu ditutup rapat dengan pagar kawat berduri.
Rakyat datang tidak bawa api. Tidak bawa senjata. Mereka bawa suara. Bawa luka. Bawa pertanyaan. Sesederhana itu, ingin ketemu pemimpinnya.
Tapi apa yang mereka dapat? Penghalang. Barikade. Sunyi dari orang yang dulu mati-matian minta dipilih.
Dulu, saat butuh suara, jalan rusak tak jadi soal. Sungai disebrang, hutan ditembus, kampung paling ujung pun didatangi. Senyum ditebar, janji dijual murah meriah. Rakyat dielu-elukan seperti keluarga sendiri.
Sekarang? Rakyat yang sama datang mengetuk pintu. Pntu itu dikunci dari dalam. Di sinilah wajah asli kekuasaan terkuak.
Rudy Mas’ud sang guberbur, pemimpin eksekutif, dan Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD Kaltim, pemimpin legisatif. Abang adik di dua kursi penting. Seharusnya jadi simpul harapan.
Tapi yang terjadi justru simpul kekecewaan. Satu bungkam, satu menghilang, ngumpet ntah kemana. Dua-duanya menjauh dari rakyat yang ingin bicara.
Ini bukan sekadar salah langkah. Ini cacat moral kepemimpinan.
Pemimpin itu bukan perabot seremoni. Bukan penghias rapat-rapat mewah, bukan aktor yang hanya muncul saat kamera menyala. Pemimpin itu pelindung suara rakyat, terutama saat suara itu keras, saat kritik itu tajam, saat situasi tak nyaman.
Kalau yang datang adalah pujian, semua berani tampil.
Tapi ketika yang datang adalah kemarahan rakyat, di situlah terlihat isi nyali. Malam itu, nyali itu runtuh.
Rakyat dibendung. Aspirasi ditahan.
Pertemuan dihindari. Padahal mereka tidak minta lebih. Mereka hanya ingin didengar.
Tapi saat suara dibungkam dengan pagar. Saat dialog diganti pengamanan. Satu hal pasti terjadi,
perlawanan tidak padam. Ia justru membara.
Sejarah berkali-kali mengajarkan, rakyat yang dihalangi bukan menjadi diam, tapi menjadi keras. Bukan pulang, tapi bertahan. Bukan lupa, tapi mengingat lebih dalam.
Karena yang dilukai bukan sekadar tuntutan.
Yang dilukai adalah rasa dihargai. Pemimpin yang lari dari rakyatnya sendiri sedang menyalakan api tak mudah dipadamkan. Api itu bukan dari ban terbakar, tapi dari hati yang merasa dikhianati.
Kalau hari ini mereka hanya berteriak, besok mereka bisa lebih dari itu. Bukan karena mereka ingin chaos, tapi karena pintu dialog ditutup rapat.
Siapa yang menutup pintu itu? Pemimpinnya sendiri.
Ingat baik-baik. Jabatan itu bukan benteng untuk bersembunyi. Ia adalah panggung untuk bertanggung jawab.
Kalau rakyat datang, hadapi. Kalau mereka marah, dengarkan.
Kalau mereka menuntut, jawab. Bukan menghilang. Bukan diam. Bukan bersembunyi di balik aparat.
Karena setiap langkah mundur dari rakyat, satu langkah maju menuju kehilangan legitimasi.
Untuk para pemimpin lain, ini bukan sekadar cerita Kaltim. Ini peringatan keras. Jangan biasakan diri hidup di ruang nyaman. Jangan cuma gagah saat kampanye, lalu rapuh saat diuji.
Rakyat bisa memaafkan kesalahan. Tapi rakyat sulit memaafkan pengkhianatan. Menghindari rakyat sendiri, itulah bentuk pengkhianatan paling telanjang.
Jika hari ini mereka memilih sembunyi, jangan salahkan siapa-siapa jika esok hari suara rakyat tak lagi bisa dibendung.
Karena api yang dipicu dari ketakutan pemimpin…akan dibesarkan oleh keberanian rakyat.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
