Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Rakyatnya Ingin Ketemu, Abang Adik Ini Memilih Sembunyi dan Bungkam
Opini

Rakyatnya Ingin Ketemu, Abang Adik Ini Memilih Sembunyi dan Bungkam

Last updated: 1 jam lalu
20/04/2026
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

KITA kawal terus demo rakyat Kaltim sampai tuntas. Mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi. Tapi, abang adik itu menutup pintu. Rakyatnya dihadapkan dengan aparat dan kawat berduri.

Mental pengecut

Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ini bukan lagi soal demo. Ini soal harga diri rakyat yang diinjak pelan-pelan, lalu ditutup rapat dengan pagar kawat berduri.

Rakyat datang tidak bawa api. Tidak bawa senjata. Mereka bawa suara. Bawa luka. Bawa pertanyaan. Sesederhana itu, ingin ketemu pemimpinnya.

Tapi apa yang mereka dapat? Penghalang. Barikade. Sunyi dari orang yang dulu mati-matian minta dipilih.

Dulu, saat butuh suara, jalan rusak tak jadi soal. Sungai disebrang, hutan ditembus, kampung paling ujung pun didatangi. Senyum ditebar, janji dijual murah meriah. Rakyat dielu-elukan seperti keluarga sendiri.

Sekarang? Rakyat yang sama datang mengetuk pintu. Pntu itu dikunci dari dalam. Di sinilah wajah asli kekuasaan terkuak.

Rudy Mas’ud sang guberbur, pemimpin eksekutif, dan Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD Kaltim, pemimpin legisatif. Abang adik di dua kursi penting. Seharusnya jadi simpul harapan.

Tapi yang terjadi justru simpul kekecewaan. Satu bungkam, satu menghilang, ngumpet ntah kemana. Dua-duanya menjauh dari rakyat yang ingin bicara.

Ini bukan sekadar salah langkah. Ini cacat moral kepemimpinan.

Pemimpin itu bukan perabot seremoni. Bukan penghias rapat-rapat mewah, bukan aktor yang hanya muncul saat kamera menyala. Pemimpin itu pelindung suara rakyat, terutama saat suara itu keras, saat kritik itu tajam, saat situasi tak nyaman.

Kalau yang datang adalah pujian, semua berani tampil.
Tapi ketika yang datang adalah kemarahan rakyat, di situlah terlihat isi nyali. Malam itu, nyali itu runtuh.

Rakyat dibendung. Aspirasi ditahan.
Pertemuan dihindari. Padahal mereka tidak minta lebih. Mereka hanya ingin didengar.

Tapi saat suara dibungkam dengan pagar. Saat dialog diganti pengamanan. Satu hal pasti terjadi,
perlawanan tidak padam. Ia justru membara.

Sejarah berkali-kali mengajarkan, rakyat yang dihalangi bukan menjadi diam, tapi menjadi keras. Bukan pulang, tapi bertahan. Bukan lupa, tapi mengingat lebih dalam.

Karena yang dilukai bukan sekadar tuntutan.
Yang dilukai adalah rasa dihargai. Pemimpin yang lari dari rakyatnya sendiri sedang menyalakan api tak mudah dipadamkan. Api itu bukan dari ban terbakar, tapi dari hati yang merasa dikhianati.

Kalau hari ini mereka hanya berteriak, besok mereka bisa lebih dari itu. Bukan karena mereka ingin chaos, tapi karena pintu dialog ditutup rapat.

Siapa yang menutup pintu itu? Pemimpinnya sendiri.

Ingat baik-baik. Jabatan itu bukan benteng untuk bersembunyi. Ia adalah panggung untuk bertanggung jawab.

Kalau rakyat datang, hadapi. Kalau mereka marah, dengarkan.
Kalau mereka menuntut, jawab. Bukan menghilang. Bukan diam. Bukan bersembunyi di balik aparat.

Karena setiap langkah mundur dari rakyat, satu langkah maju menuju kehilangan legitimasi.

Untuk para pemimpin lain, ini bukan sekadar cerita Kaltim. Ini peringatan keras. Jangan biasakan diri hidup di ruang nyaman. Jangan cuma gagah saat kampanye, lalu rapuh saat diuji.

Rakyat bisa memaafkan kesalahan. Tapi rakyat sulit memaafkan pengkhianatan. Menghindari rakyat sendiri, itulah bentuk pengkhianatan paling telanjang.

Jika hari ini mereka memilih sembunyi, jangan salahkan siapa-siapa jika esok hari suara rakyat tak lagi bisa dibendung.

Karena api yang dipicu dari ketakutan pemimpin…akan dibesarkan oleh keberanian rakyat.

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Aksi MassademoDPRDKaltimKetua DPRD
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Bakar Sampah di Kebun, Warga Mempawah Timur Ditemukan Meninggal Dunia

26/03/2026
Bertahun-tahun Gelap, Warga Dusun Pangkalan Makmur Kini Terang Benderang Berkat Swadaya dan Donatur
30/03/2026
Warga Sukadana Masih Jerit Krisis Air Bersih, Proyek SR Milyaran Rupiah Disorot
28/03/2026
Sikapi Isu “Pungli” di Imigrasi Entikong, Pengamat Hukum Desak Audit Investigatif Menyeluruh
29/03/2026
Kejari Singkawang Selidiki Alur Dana Hibah PSDKU Polnep, Mantan Direktur Dipanggil
08/04/2026

Berita Menarik Lainnya

Dari Selat Hormuz ke Cina Selatan : Analisa Permintaan Banket Overflight Clearance Amerika ke Indonesia

1 jam lalu

Aksi Premanisme, Ketua Golkar Ditikam Hingga Tewas, Ngeri Wak!

20/04/2026

Mengenal Aris Mukiyono, Kadis ESDM Jatim Suka Pungli Akhirnya Ditangkap Kejati

19/04/2026

Rekor Baru Koruptor, Baru Enam Hari Menjabat Ditangkap Kejaksaan

18/04/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang