FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
LAMPU karnaval menyala gemerlap. Panggung berdiri megah seperti istana para penguasa zaman baru. Di tengah sorak-sorai, Kepala BGN Sudaryono melompat dari mobil hias.
Ia berlari membawa dua omprengan MBG, seolah seorang pahlawan baru pulang dari medan perang membawa benda pusaka penyelamat bangsa.
Di mimbar utama berdiri Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Omprengan diserahkan. Tepuk tangan meledak.
Guruh manusia mengguncang malam, seolah negeri ini baru saja memenangkan perang melawan kelaparan. Seolah sebuah wadah makanan telah menjadi simbol kemenangan besar peradaban.
Namun di bawah langit yang sama, di Berastagi, 64 siswa masih terbaring di rumah sakit. Tubuh yang sehari sebelumnya lincah berlari kini terkapar. Mulut getir. Kulit gatal. Perut nyeri. Muntah. Lemas. Napas sesak. Anak-anak seharusnya pulang membawa cerita tentang sekolah justru pulang sebagai pasien.
Orang tua mereka duduk di sisi ranjang. Mata sembab. Tangan menggenggam tangan anak. Mereka menunggu satu keajaiban sederhana, anaknya kembali berdiri.
Seorang ibu di RS Efarina Etaham bahkan menangis di hadapan Sudaryono. “Racun apa yang terkandung dalam tubuh anak kami? Biar tahu kami mengobatinya.”
Kalimat itu mungkin lebih keras dari ribuan pengeras suara. Sudaryono berlutut. Menangis. Meminta maaf. Tetapi maaf, betapapun tulusnya, terasa begitu kecil di hadapan tubuh anak yang masih terbaring sakit.
Sementara itu, angka korban terus membesar. Awalnya 265 siswa SMA dan SMK di Karo. Kemudian 269. Lalu 353. Hingga mencapai 361 siswa yang mengalami gatal di mulut, muntah, lemas, dan sesak setelah menyantap gulai ikan dencis.
Investigasi sementara menemukan fakta yang sederhana, tetapi mengerikan. Sekitar 200–300 ekor ikan tidak pernah masuk freezer. Ikan-ikan itu dibiarkan pada suhu ruangan selama 12 jam atau lebih.
Dua belas jam. Cukup lama untuk sesuatu disebut makanan bergizi berubah menjadi sumber petaka. Sudaryono sendiri menyebut kelalaian itu sebagai “kebodohan” menyangkut nyawa.
Dapur SPPG ditutup. Kepala SPPG dicopot. Sampel makanan diperiksa laboratorium. Hasilnya telah keluar dan dikirim kepada Dinas Kesehatan Karo.
Tetapi sementara birokrasi menyimpan detail hasil pemeriksaan, anak-anak tidak bisa menunggu. Mereka membutuhkan obat, jawaban, dan jaminan kejadian serupa tidak akan kembali.
Di sinilah ironi itu menjadi begitu kejam. Omprengan yang kemarin menghantar ratusan anak ke ambang maut, malam berikutnya justru diarak dengan penuh kemegahan.
Di satu sisi, lampu panggung menyala terang. Di sisi lain, lampu bangsal rumah sakit menerangi wajah para ibu yang basah oleh air mata. Di satu sisi, tepuk tangan bergemuruh. Di sisi lain, doa-doa dipanjatkan dengan suara lirih.
Di satu sisi, omprengan diangkat seperti trofi kemenangan. Di sisi lain, anak-anak masih berjuang mengalahkan sakit. Inilah tragedi paling getir dari sebuah program yang dilahirkan untuk menghadirkan harapan.
MBG seharusnya membuat anak-anak kenyang dan sehat. Bukan membuat orang tua berjaga di samping ranjang rumah sakit. Sebab bagi seorang ibu, anak sehat jauh lebih berharga dari seribu panggung yang gemerlap.
Bagi seorang ayah, permintaan maaf tidak akan pernah cukup jika kelalaian masih mungkin berulang. Bagi anak-anak Karo, mereka tidak membutuhkan seremoni. Mereka hanya ingin pulang. Pulang ke rumah. Pulang dengan tubuh sehat. Pulang tanpa rasa takut pada makanan yang seharusnya menjadi berkah.
Maka di antara gemerlap panggung dan sunyi bangsal rumah sakit, pertanyaan itu menggantung seperti awan hitam, apakah tepuk tangan mampu menutupi tangisan para ibu? Tidak.
Negara bukan dinilai dari seberapa megah ia mengarak omprengan. Negara diuji dari seberapa aman makanan sampai ke tangan anak-anaknya. Malam itu, di balik gemuruh tepuk tangan, masih ada 64 anak yang diam-diam mengajarkan kita satu hal, harapan tidak boleh disajikan dengan kelalaian.
Yok, kita seruput Koptagul, wak!
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
