Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Cerpen “Dua Kepsek Ngopi Usai Dipecat Lalu Diangkat Lagi”
Opini

Cerpen “Dua Kepsek Ngopi Usai Dipecat Lalu Diangkat Lagi”

Last updated: 18/10/2025 07:50
18/10/2025
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

DISCLAIMER : Ini hanya fiksi lagi nyantai di warung kopi. Kalau ada kesamaan nama, hanya ilusi. Siapkan kopi!

Warkop di pinggir pantai Ancol sore itu jadi tempat paling filosofis di dunia. Bukan karena suasananya tenang, tapi karena dua kepala sekolah yang pernah dipecat, difitnah, lalu dikembalikan jabatannya, sedang nongkrong di sana.

Mereka bukan sembarang orang, ini duet maut: Roni Ardiansyah, sang penegur anak wali kota, dan Dini Fitria, si penampar anak perokok. Kalau dunia pendidikan punya Avengers, dua orang inilah yang sudah mati, dikubur, lalu dihidupkan lagi pakai surat keputusan.

“Din,” kata Roni, meniup kopi seperti meniup masalah yang gak kelar-kelar, “aku tuh heran, kenapa aku dipecat cuma gara-gara ngelarang anak wali kota parkir mobil di sekolah.

Lha emang aku harus sambut dia pake karpet merah, pasang bunga, dan bilang ‘Selamat datang, Nyonya Muda, parkirlah di ruang kepala sekolah sekalian!’ gitu?”

Dini ngakak, nyaris keselek pisang goreng. “Kau masih untung, Ron. Aku dipecat karena tampar anak yang ngerokok. Lah, kalau gak kutampar, besok-besok mungkin dia jualan rokok di kantin. Padahal tamparanku itu tamparan edukatifz cuma satu kali, tapi penuh nilai Pancasila.”

Roni geleng-geleng. “Aku tuh kadang mikir, mungkin kita berdua ini bukan kepala sekolah, tapi tokoh sinetron yang disutradarai oleh Dinas Pendidikan. Episode pertama, ‘Kepsek Ditegur karena Menegur’. Episode kedua, ‘Tamparan Kasih Season Dua’. Ending-nya, diaktifkan kembali karena netizen ngamuk.”

Dini langsung ngakak lagi sampai air matanya keluar. “Betul! Sekarang nasib guru bukan di tangan gubernur, tapi di tangan kolom komentar!”

Roni menyeringai. “Waktu aku dicopot, murid-murid nangis, guru pada protes. Aku pikir, wah, ini solidaritas luar biasa! Eh, ternyata mereka nangis bukan karena aku pergi, tapi karena takut aku tak bisa nyanyi untuk mereka.”

Kopi mereka tinggal setengah. Tapi absurditas hidup masih penuh.

“Kau tahu, Din,” kata Roni sambil menatap laut, “setelah viral, aku dipanggil dinas. Mereka bilang, ‘Kami sudah evaluasi, dan Anda akan dikembalikan ke posisi semula.’ Aku tanya, ‘Kenapa?’ Mereka jawab, ‘Karena masyarakat sudah tenang.’ Lah, jadi jabatan kepsek ini kayak cuaca, nunggu reda dulu baru boleh kerja lagi?”

Dini menepuk dahinya. “Aku juga gitu! Katanya aku terlalu keras, padahal kalau gak tegas, sekolah berubah jadi warung kopi, bebas ngerokok. Aku cuma tampar sekali, tapi efeknya sampai Komnas Anak, Komnas HAM, dan Komnas Netizen.”

Mereka tertawa keras. Pengunjung warkop sampai nengok.

“Din,” Roni menatap serius, “kita bikin organisasi yuk. Namanya P2J, Persatuan Kepala Sekolah yang Pernah Dijegal.”

“Bagus!” seru Dini. “Aku sekretarisnya. Moto kita, ‘Demi Disiplin, Kami Siap Dipecat Kapan Saja.’”

Roni menambahkan, “Visi kita: Mendidik bangsa sambil waspada terhadap anak pejabat.”

Dini menyambar, “Misinya, Menegur dengan sopan, menampar dengan kasih, dan viral dengan terencana!”

Tawa mereka makin pecah. Seekor kucing lewat, melirik sinis seperti mau bilang, “Manusia makin lucu. Wong edan.”

Menjelang magrib, mereka berdiri. Dini menatap Roni sambil berkata, “Ron, kayaknya kita ini bukti nyata kalau dunia pendidikan itu spiritual, penuh ujian, tapi selalu ada remidi.”

Roni angguk. “Betul. Bedanya, kalau murid salah, disuruh belajar lagi. Kalau kepala sekolah salah, disuruh cuti sambil viral.”

Lalu mereka saling tos, meninggalkan warkop dengan langkah gagah, dua pahlawan absurd yang selamat dari badai politik pendidikan. Di langit, awan membentuk tulisan tak kasat mata, “Selamat datang di Indonesia, tempat integritas diuji dengan trending topic.”

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Kepsek dipecat
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Resmi Dilantik, Utin Risty Emilya Putri Sulung Raja Sanggau Perkuat Layanan Kenotariatan
04/03/2026

Berita Menarik Lainnya

Bukit Peniraman Kabupaten Mempawah Dikeruk, Ketegasan Pemerintah Jangan Hanya di Atas Kertas!

14/03/2026

Amr bin Ash, Pembuka Gerbang Benua Afrika

11/03/2026

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

06/03/2026

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang