FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KADANG ada jemu juga dengan persoalan negeri ini. Soal korupsi tiada henti, soal si Doddy-lah, keracunan MBG, KDMP, ijazah, omongan pejabat bak malaikat padahal penipu, banyak lagi. Berputar-putar di situ saja, seperti tidak ada lagi yang patut dibanggakan.
Untunglah Jumat kemarin semesta berkata, “Rosadi, istirahat dulu. Jangan marah terus. Nanti keriputmu mengalahkan APBN.”
Pukul 09.00 saya menjadi narasumber tunggal di acara “Ini Borneo” TVRI Pontianak. Bukan hanya disiarkan untuk Kalimantan Barat, tetapi se-Pulau Kalimantan. Tiba-tiba saya merasa sisir rambut yang saya gunakan pagi itu layak mendapat penghargaan jasa-jasa besar. Kalau rambut tampil berantakan, nanti bukan cuma saya yang malu, tetapi seluruh spesies sisir.
Saya datang memakai batik biru dongker dan celana hitam. Lalu masuk ruang make up. Di sana ada seorang ibu yang sudah puluhan tahun mengabdikan hidupnya membedaki wajah manusia sebelum bertemu kamera. Pengalamannya mungkin lebih panjang dari usia sebagian influencer. Saya yakin beliau sudah melihat wajah gugup, wajah sok tenang, wajah pura-pura pintar, sampai wajah yang baru sadar zipper celananya belum ditutup.
Giliran saya dibedaki. Saya sempat berpikir, “Wajah yang sudah ganteng ini masih dipoles juga?” Ups. Tapi saya sadar kamera televisi itu lebih jeli dari assist Messi. Ia mampu menemukan celah kosong untuk umpan buat Martinez.
Acara dipandu dua host muda, Indah dan Chantika. Yang membuat konsentrasi saya sedikit goyah bukan pertanyaannya, melainkan jersey Argentina yang mereka pakai. Saya langsung curiga jangan-jangan setiap pertanyaan nanti memakai formasi 4-3-3. Untung saya bukan bek Spanyol.
Tema kami sederhana, tetapi sangat dekat dengan hidup saya, Menulis di Era AI.
Saya bercerita dari zaman mesin tik. Dulu kalau salah mengetik satu huruf, rasanya seperti melakukan korupsi terhadap kertas. Harus pakai tip-ex, kadang diulang lagi. Lalu masuk era komputer Pentium. Menunggu komputer menyala saja cukup lama untuk menyeduh kopi, goreng pisang, bahkan sempat merenungkan mantan. Sekarang? AI bekerja lebih cepat dari rudal Iran menghantam pangkalan AS di Bahrain.
Saya bilang, dulu saya mampu menulis tiga artikel sehari. Sekarang lebih dari lima artikel bukan sesuatu yang sulit. AI membantu mencari data, membandingkan referensi, menemukan informasi dari berbagai sumber terpercaya. Kalau dulu harus berjam-jam di perpustakaan membuka buku satu per satu, sekarang data datang seperti rombongan tamu kondangan.
Tetapi saya juga bilang begini. AI itu bukan penulis. AI itu asisten. Ia bisa menyusun ribuan kata dalam hitungan detik. Namun ia tidak pernah deg-degan pertama kali tampil di televisi. Ia tidak tahu rasanya gugup sebelum lampu merah kamera menyala. Ia tidak pernah merasakan kopi pahit saat deadline mengejar dari belakang seperti debt collector.
Karena itu, tulisan AI sering lengkap, tetapi jantungnya belum berdetak. Yang membuat tulisan hidup adalah manusia.
Editing adalah operasi transplantasi jiwa. Kita memasukkan humor, pengalaman, emosi, ironi, dan sedikit kegilaan yang membuat pembaca tertawa, lalu diam, lalu berpikir. Tanpa editing, tulisan AI ibarat sayur tanpa garam. Mengenyangkan, tetapi lidah ingin demo.
Yang membuat saya paling bahagia justru bukan karena tampil di televisi, melainkan karena TVRI memilih tema literasi. Di tengah dunia sibuk joget, flexing, dan mengejar viral, ternyata masih ada panggung yang percaya, membaca dan menulis belum punah. Selama masih ada orang mau merawat kata-kata, saya yakin negeri ini belum benar-benar kehabisan harapan.
Sebab bangsa yang rajin membaca akan melahirkan pemikir. Bangsa yang rajin menulis akan meninggalkan jejak. Bangsa yang hanya rajin membuat sensasi… ya, paling-paling cuma jadi trending sampai besok siang. Terima kasih TVRI sudah memberikan panggung buat Partai Koptagul berkiprah. Selamat weekend untuk seluruh kader dan simpatisan Partai Koptagul, seruput jangan lupa, wak!
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
