FOTO : Perianto semasa hidupnya [ ist ]
Pewarta/editor : Hamzah
MEMPAWAH [ radarkalbar.com ] – Di bawah langit pada Senin, 17 Agustus 2026 yang riuh oleh gempita kemerdekaan, sebuah rumah bersahaja di Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalbar mendadak hening.
Tak ada sorak-sorai perayaan, yang ada hanyalah isak tangis yang pecah di antara aroma bunga setaman. Di sana, tubuh kaku Perianto terbaring bisu seorang remaja polos yang napas terakhirnya terenggut tepat saat negeri ini merayakan kebebasannya.
Bagi warga Desa Sepang, Perianto bukan sekadar anak tetangga dari desa sebelah. Menurut Desta, Ketua Panitia Peringatan HUT RI Desa Takong, mengingat betul bagaimana remaja ringan tangan itu selalu hadir tanpa diminta.
Hari itu, Minggu, 16 Agustus 2026, Perianto berlari kecil mengejar rombongan pikap yang mengangkut bambu dan umbul-umbul. Wajahnya penuh semangat, tangannya cekatan memegang kain merah dan putih yang hendak dipasang mengelilingi sudut jalan hingga kawasan pasar.
Namun, pengabdian tulus itu berubah menjadi tragedi di sebuah persimpangan. Ketika pikap melaju, sehelai bendera terlepas.
Dalam refleks kepolosannya untuk menjaga agar Sang Saka tak menyentuh tanah, Perianto hilang keseimbangan dan terjatuh. Benturan keras di jalan keras mematahkan mimpi-mimpinya seketika, menyisakan luka parah di bagian kepala yang merenggut kesadarannya.
Perjuangan menyelamatkan nyawanya menjadi maraton air mata yang panjang dan melelahkan, pertolongan pertama diberikan, sempat dilarikan ke Rumah Sakit Menjalin. Namun kondisi Perianto kian memburuk akibat cedera kepala berat.
Lantas, dirinya dilarikan ke Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak, demi fasilitas yang lebih memadai. Tim medis berpacu dengan waktu, melakukan operasi darurat kepala di tengah bayang-bayang biaya cukup berat.
Doa dan harapan keluarga membumbung tinggi di ruang perawatan intensif. Namun takdir menuang duka yang teramat getir. Pada Senin, 17 Agustus 2026, tepat ketika sirine detiknya bergema dan Presiden Prabowo Subianto membacakan teks Proklamasi, jantung Perianto berhenti berdetak.
Negeri ini bersorak mengibarkan bendera, sementara satu keluarga di pelosok Mempawah harus menaikkan bendera putih di dalam dada mereka.
Kejadian ini menyisakan duka mendalam yang juga mengetuk kepolisian setempat. Kapolsek Toho, Iptu Adi Putra Syamsudin, membenarkan duka tersebut meski belum menerima laporan formal.
Pihaknya langsung bergerak melakukan sambang duka ke rumah korban untuk menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya keselamatan di jalan raya.
Direncanakan pada Selasa, 18 Agustus 2026, tanah merah Desa Pak Utan akan memeluk peristirahatan terakhir Perianto. Ia tidak akan pernah dicatat dalam buku pelajaran sejarah sebagai pahlawan nasional.
Namun di atas tiang-tiang bambu yang berdiri tegak di sepanjang jalan desa, ada helaan napas dan tetes darah Perianto yang tertinggal sebuah pengorbanan sunyi dari seorang anak bangsa yang gugur demi menjaga Sang Merah Putih tetap berkibar tinggi. [ red ]
Publisher : admin radarkalbar.com
