Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Cerpen “Ngaku Saudara”
Opini

Cerpen “Ngaku Saudara”

Last updated: 15/12/2024 12:32
15/12/2024
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat]

DI SUDUT Warkop Sedap Nikmat Jalan Sudirman Pontianak, di bawah kipas angin yang berputar lebih lambat dari jam istirahat PNS, dua sahabat tua, Wak Dalek dan Wan Dolah, kembali bersua.

Warkop ini baru mereka jajal, setelah warkop langganan mereka penuh pelanggan. Akhirnya, ketemu Warkop dekat RRI itu.

“Eh Wak, kau tahu nggak?” buka Wan Dolah, sambil menyeruput kopi yang lebih pahit dari hidupnya. “Kemarin, si Mat Lojeng tetangga aku, tiba-tiba bilang ke semua orang kalau dia itu saudara sepupu dari Gubernur terpilih.

Padahal waktu Pilgub kemarin, jangankan bantu kampanye, ngintip baliho saja ogah.”

Wak Dalek tertawa kecil. “Itulah manusia, Wan. Di mana ada gula, di situ semut nge-rental.”

Wan Dolah menatap Wak Dalek dengan dahi berkerut. “Rental apanya?”

“Ya itu, semut-semut yang malas, nggak mau bantu bikin gula, tapi giliran ada gula, langsung datang numpang manis. Gaya mereka lebih licik dari tikus kantor.”

Wak Dalek meletakkan gelas kopinya dengan dramatis, seolah sedang memberikan pidato kenegaraan.

Wan Dolah mengangguk. “Betul! Kau tahu, sekarang Si Amat sampai minta nomor WhatsApp ajudan Gubernur. Katanya mau ngatur proyek di kampung.

Astaga! Jangankan proyek, waktu disuruh ngangkut karung beras bantuan waktu banjir di Sosok, dia malah bilang pinggangnya sakit.”

“Orang kayak si Amat itu kayak mi instan, Wan.”

“Apa maksudnya, Wak?”

“Semua serba cepat! Cepat ngaku keluarga, cepat merapat, cepat lupa diri. Padahal, kalau mau jujur, waktu si calon itu ngamen ke rumah-rumah, si Amat malah pura-pura tidur di bawah kipas angin sambil ngorok lebih keras dari suara speaker kampanye.”

Keduanya tertawa ngakak, sampai suara mereka mengalahkan lagu dangdut remix yang diputar di warkop.

Tiba-tiba, seorang pria di meja sebelah mereka yang tampak seperti pengamat politik sok tahu menyela. “Kalau menurut saya, ini fenomena biasa, Pak. Namanya juga politik. Setelah menang, pasti banyak yang mau mendekat.”

Wak Dalek langsung menoleh, dengan ekspresi seperti detektif yang menangkap basah penjahat. “Kalau gitu, kenapa waktu kalah nggak ada yang mau mendekat? Waktu itu, jangankan saudara, bayangan sendiri saja malu!”

Wan Dolah menimpali. “Betul, Wak! Mereka ini kayak iklan motor. Waktu si kandidat masih loyo, semua menjauh. Giliran menang, langsung sok akrab. Padahal, jangankan bantu pasang baliho, kopi pancong oun tak mau jamin.”

Pria tadi hanya tersenyum kikuk, sementara Wak Dalek dan Wan Dolah semakin bersemangat.

“Wan, aku ada ide!” ujar Wak Dalek sambil menepuk meja hingga kopinya hampir tumpah. “Gimana kalau kita bikin baliho kita sendiri? Tulis besar-besar, ‘SAUDARA PALSU DILARANG MASUK!’”

Wan Dolah tertawa sampai terbatuk. “Hebat, Wak! Tapi nanti, kalau benar Gubernur itu saudara kita, kita ngaku nggak?”

“Ngaku sih ngaku, tapi jangan kebangetan kayak si Amat! Cukup bilang kita saudara jauh, jauh banget, sampai nggak pernah ketemu.”

Meja mereka berguncang karena tawa yang tak berhenti. Beberapa pengunjung warkop mulai melirik, ada yang ikut tertawa, ada juga yang menggeleng sambil tersenyum.

Obrolan mereka terus berlanjut, membahas saudara palsu, teman dadakan, dan segala kepalsuan yang muncul setiap kali seseorang sukses.

Di akhir, Wak Dalek berujar, “Yang penting kita tetap jadi penonton setia, Wan. Karena kalau semua jadi pemain, yang nonton siapa?”

Warkop itu kembali riuh, diiringi gelak tawa dua sahabat yang tak pernah kehilangan selera humor, meski dunia semakin absurd.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:cerpenSaudara palsuwarung kopi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026

Berita Menarik Lainnya

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

16 jam lalu

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

03/03/2026

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

03/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

02/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang