FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
SAYA kembali ke daerah sendiri setelah lama berkelana di Pangandaran. Ada warga blokir jalan karena berdebu. Bupati turun tangan. Kurang 24 jam jalan itu pun diaspal. Hebat bukan. Lalu, mahasiswa dialog dengan gubernur, eh sang gubernur manas (marah).
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Pertama, di ruas Jalan Trans Kalimantan, Kabupaten Kubu Raya, tepatnya Dusun Tapah di kilometer 37,5 Desa Pancaroba, Kecamatan Sungai Ambawang, warganya hilang kesabaran. Debu beterbangan di sekitar Km 37,5 seperti badai mini punya kontrak kerja jangka panjang.
Motor berdebu. Rumah berdebu. Kendaraan berdebu. Paru-paru pun ikut kebagian. Warga akhirnya manas, lalu memblokir jalan. Jalan itu vital, karena menghubungkan daerah perhuluan Kalbar dan ke Malaysia.
Bupati Kubu Raya Sujiwo turun tangan dan meminta Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat segera bergerak. Sebab, tak mungkin bupati menanganinya karena bukan wewenangnya. Sujiwo menjaminkan dirinya rela disandra. “Kalau memang tidak percaya, saya siap ditahan di sini. Saya rela disandera sebagai jaminan, supaya warga yakin jalan ini akan segera diaspal,” kata Jiwo.
Lalu terjadilah keajaiban birokrasi. Dalam waktu 24 jam setelah aksi blokade, jalan yang dikeluhkan warga karena berdebu akhirnya diaspal. Cepat sekali. Aspalnya seperti sudah pemanasan dari tadi. Nampaknya bisa dijadikan tutorial, cara cepat jalan diaspal, ups.
Belum selesai drama debu, muncul episode berikutnya.
Kamis, 3 September 2026 siang, di Bundaran Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, iring-iringan kendaraan dinas Gubernur Kalbar Ria Norsan dicegat Aliansi Mahasiswa Kalbar/FOMDA (Federasi Organisasi Mahasiswa Daerah).
Mahasiswa membawa satu tuntutan utama, karhutla Kalbar ditetapkan sebagai bencana nasional.
Mereka meminta pemerintah pusat hadir dengan solusi konkret, bukan sekadar datang berkunjung, foto-foto, lalu pulang membawa kenangan. Mereka juga mendesak agar pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran lahan diusut dan diberi sanksi tegas.
Awalnya dialog berlangsung santai. Namanya juga dialog. Ada mahasiswa bertanya, gubernur menjawab. Semua masih dalam mode manusia normal. Namun kemudian suhu percakapan naik.
Wajahnya memerah. Kedua matanya melotot. Suaranya meninggi ketika menanggapi aspirasi mahasiswa. Tiba-tiba keluar bentakan keras, “Heeeh..!”
Untung ajudan bergerak cepat, lalu merangkul Norsan dan membawanya menjauh dari kerumunan mahasiswa.
Mahasiswa pun langsung bereaksi. “Eh, ngape emosi gitu?”
Kalimat sederhana, tetapi suasananya langsung berubah. Seolah-olah kabut asap yang selama ini menggantung di langit Kalbar mendadak turun dari atmosfer dan ikut duduk di tengah-tengah dialog.
Sebelumnya, Norsan menjelaskan, kunjungan Menhut Raja Juli Antoni batal karena kabut asap terlalu pekat. Pesawat tidak bisa mendarat. Jarak pandang disebut hanya sekitar 100 meter. Kunjungan tersebut bukan dibatalkan permanen, melainkan ditunda sampai kondisi cuaca membaik.
Mahasiswa rupanya belum puas. Bagi mereka, persoalannya bukan sekadar apakah menteri jadi datang atau tidak. Mereka menginginkan sikap tegas gubernur untuk memperjuangkan status karhutla sebagai bencana nasional.
Di sinilah letak dramanya. Pemerintah berbicara soal kondisi cuaca. Mahasiswa berbicara soal kondisi bencana. Keduanya sebenarnya sedang membicarakan asap yang sama, hanya mungkin memakai frekuensi radio berbeda.
Ketika frekuensi berbeda bertemu di tengah kabut asap, percakapan yang awalnya santai bisa berubah menjadi panas. Asapnya belum hilang, komunikasinya malah ikut berkabut.
Dua kejadian ini sama-sama mengajarkan, pemerintah jangan menunggu rakyat blokir jalan atau mahasiswa menaikkan suara baru masalah bergerak dan didengar. Aspal seharusnya datang sebelum debu membuat warga gerah. Sementara solusi karhutla seharusnya hadir sebelum kabut asap membuat semua orang emosi. Sebab pemerintahan yang sehat bukan paling cepat merespons setelah didorong, melainkan cukup peka membaca penderitaan rakyat sebelum rakyat terpaksa “menekan tombol darurat”.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
